Mengenal Abdul Alfian (21), Santri Juara I Lomba Cipta Puisi

  • Bagikan

Gemar Baca Tulis,  Hasilkan Prestasi Gemilang

Kabarmadura.id-Perilaku suka menulis dan membaca, mampu menghasilkan prestasi yang cukup gemilang. Kondisi inilah yang ada pada diri, Abdul Alfian (21), santri Al-Amien Prenduan, Sumenep. Berkat kegemarannya menulis, pemuda kelahiran Kabupaten Sampang ini, berhasil meraih juara I lomba cipta puisi yang di gelar, Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB) dan Ikatan Mahasiswa Santri Bata-Bata (IMABA), Pamekasan.

KHOYRUL UMAM SYARIF, KOTA

Pemuda yang akrab disapa Alfi ini, sama sekali tidak menyangka bisa terpilih sebagai juara I lomba cipta puisi. Sebab, pemuda asli Desa Lamoare, Kecamatan Poleang, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara ini, sama sekali tidak memiliki skil di bidang penulisan puisi.

Dia hanya gemar menulis. Bahkan untuk mengisi kekosongan ketika di pondok, Alfi membawa buku dan alat tulisnya. Tentu, karena dia gemar menulis. Namun, tidak disangka, hasil karya puisinya luar bisa.

“Sebenarnya saya tidak menyiapkan apapun untuk menjadi juara, yang saya lakukan hanya menulis, menulis dan menulis. Apalagi masalah trik menulis, saya sendiri kurang faham. Entah apa namanya yang saya lakukan bisa disebut trik atau bukan, intinya menulis,” ujarnya.

Untuk mengasah kemampuannya, setiap hari disempatkan untuk menulis dan membaca. Hal itu dia lakukan setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, sekitar lima hingga 10 menit.

“Setiap hari saya punya target, membaca walau hanya selembar, dan menulis walau hanya satu baris saja. Ini merupakan kebiasaan yang saya lakukan,” tuturnya.

Mengenai hasil karya puisinya, Alfi mengaku belum mengetahui secara pasti. Bahkan, tidak tahu persis dengan teori yang digunakan untuk menulis puisi. Sebab, Alfi hanya merealisasikan bentuk kegemarannya, yakni menulis.

Baca juga  Mengakrabi Miftahur Rozaq, Pendekar Penegak Demokrasi

“Dulu pernah nulis cerpen, tapi lebih konsisten menulis puisi. Maaf, saya tidak terlalu tahu banyak tentang teori menulis puisi. Saya hanya mencurahkan apa yang saya rasakan dalam bentuk tulisan puisi. Justru saya sering baca puisi kraya sastrawan Indonesia,” paparnya.

Pada saat menulis, terkadang masih disulitkan dengan ide. Bahkan, ide tersebut terkadang muncul di tempat-tempat yang kurang nyaman. Seperti di kamar mandi dan dapur serta di jalanan.

“Jadi ketika ide itu muncul saya langsung mencatatnya. Kalau tidak tidak membawa buku dan alat tulis biasanya saya catat menggunakan ponsel. Awalnya hanya iseng saja. Tapi setelah membaca buku antologo K. Zawawi Imron, saya bertekad serius menulis puisi,” katanya.

Didikan yang diberikan orang tua Alfi cukup bagus. Semasa kecil, Alfi diajarkan untuk hidup sederhana. Meski kedua orang tuanya, tidak tahu baca tulis. Alfi berharap, agar mampu istiqomah dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. (ito)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan