oleh

Mengenal Muallifah, Juara I Esai Tingkat Nasional

Terinspirasi dari Sosok RA Kartini

INSPIRATIF: Muallifah, mahasiswi pengagum RA Kartini saat menerima penghargaan sebagai juara I esai tingkat nasional.

Kabarmadura.id-Di tengah kesibukannya menjalani pendidikan di strata satu (S-1) jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah IAIN Madura, tidak lantas membuat Muallifah bersantai. Hobinya menulis dan membaca yang dia tekuni sedari sekolah dasar (SD), menuai hasil yang membanggakan.

MIFTAHUL ARIFIN, PAMEKASAN

Hobi yang terus digemari sejak kecil itu, tidak dia hentikan hingga sekarang. Hingga salah satu tulisan gadis pengagum sosok RA Kartini itu mampu mengantarkannya sebagai juara I esai tingkat nasional.

Meski masih berusia sangat muda, karya tulis dara kelahiran 4 Februari 1999 ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari sekedar mencoret-coret bait per bait puisi saat masih di bangku sekolah dasar, kini oretan-oretan yang muncul dari ide-ide kreatifnya dia publish ke sejumlah media massa.

Sebelum meraih gelar juara I esai tingkat nasional, tulisan gadis yang juga menggeluti dunia pergerakan mahasiswa itu, juga menorehkan sejumlah prestasi bergengsi, mulai skala lokal sebagai juara esai yang digelar PC PMII Pamekasan, juara I dalam IKTI tingkat Jawa Timur, kemudian juara II esai nasional di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Hingga esai berjudul “Peran Pemuda Menjadi Relawan Demokrasi dalam Membangun Pendidikan Virtual sebagai Upaya Pencegahan Permusahan Pascapolitik” mengantarkan ketua Kopri Rayon Fakultas Tarbiyah PMII IAIN Madura itu, meraih pengharagaan sebagai juara I lomba esai tingkat nasional yang digelar oleh PSKM 2019 IAIN Tulungagung.

“Semoga ke depan tulisan-tulisan itu bisa jadi rekomendasi untuk permasalahan yang saya angkat dan bisa menginspirasi buat teman-teman, khususnya perempuan milenial,” terangnya. Minggu (14/4).

Gadis yang akrab disapa Ifa itu menceritakan, kecintaannya terhadap dunia tulis menulis sudah tumbuh sedari dia duduk di bangku sekolah dasar. Dia mengaku sangat terinspirasi dari perempuan-perempuan hebat yang pernah lahir di bangsa Indonesia ini.

Mulai dari perempuan hebat era abad 19 Raden Ajeng Kartini, hingga perempuan hebat zaman milenial seperti Najwa Shihab, diakui menjadi bagian dari motivasi Ifa untuk terus mengabadikan setiap ide cerdasnya dalam sebuah tulisan.

Baginya, sebuah karya tulis akan mengajarkan setiap insan untuk mencari solusi dari sebuah permasahalan yang ada di masyarakat. Kepuasaan terhadap karya tulis, menurut Ifa, tidak hanya dapat dinilai dari prestasi dalam sebuah perlombaan. Lebih dari itu, karya tulis yang bisa menjadi solusi dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan jauh lebih memberikan kepuasaan tersendiri.

Mengikuti perlombaan bagi Ifa adalah bagian dari wahana publikasi ide dan gagasan dari kecintaannya terhadap dunia tulis menulis. Menulis seakan tidak bisa dilepaskan dari sosok anak pertama dari dua berasaudara tersebut.

“Setiap perempuan memiliki passionnya sendiri-sendiri, dan menulis sudah menjadi passion saya yang sejak kecil sudah kecanduan untuk terus menulis,” pungkasnya. (waw)

Komentar

News Feed