Mengenal Musik Tradisional Sampang Ba’beng, Setiap Alat dan Ketukan Memiliki Filosofi

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FATHOR RAHMAN) HAMPIR PUNAH: Kelompok musik  Ba'beng di Sampang  hanya tersisa satu grup.

KABARMADURA.ID | Musik tradisional Ba’beng yang mengandung nilai historis keberadaannya hampir punah. Hal itu dibuktikan dari semakin sedikitnya penerus yang melestarikan musik tersebut. Ketua kelompok musik Ba’beng, Abdul Ikhya mengungkapkan, bahwa bahwa di Sampang hanya ada satu kelompok musik Ba’beng yang masih ada, yaitu kelompok musik Ba’beng miliknya.

FATHOR RAHMAN, SAMPANG

Ia berharap pemerintah setempat menaruh perhatian yang serius terkait pelestarian musik tradisional tersebut. Sebab menurutnya, nasib musik Ba’beng telah berada di ujung tanduk. “Musik Ba’beng ini hanya ada di Sampang. Dan sekarang hanya tinggal satu kelompok. Kami komitmen mempertahankannya, ” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa musik Ba’beng merupakan peninggalan leluhur. Sebab menurutnya, pada zaman dahulu, di Sampang banyak pohon bambu. Jadi, masyarakat setempat membuat alat musik dengan berbagai bentuk dan jenis bunyi dari pohon tersebut.

“Musik ini sering dimainkan oleh para pemilik perahu layar yang membawa garam untuk dikirim ke Pulau Jawa. Saat itu, tidak ada mesin. Jadi saat perahu layar berjalan normal, musik Ba’beng dimainkan, ” katanya.

Menurutnya, musik tersebut sangat khas. Sebab untuk memainkannya tidak mudah. Termasuk alat tabuhnya, sangat berbeda dengan alat musik lainnya. Perlu belajar secara sungguh-sungguh untuk mengetahui bunyi dan cara membuat alatnya. Alat musik Ba’beng memiliki filosofi tersendiri. Semisal, mulai dari pamokolan yaitu stik/pemukul yang memiliki makna “Tunggal” sebagai refleksi bahwa Allah itu esa..

Selain itu, alat Keplak, yaitu ketukan yang memiliki makna Nabi Muhammad sebagai Rasulullah, karena pada “Pamokolan” dan “Keplak” ini selalu selaras dan berirama. Ini maksudnya dalam setiap “nafas”, kita untuk dapat selalu melafalkan dzikir pada Allah  dan Nabi Muhammad-Rasulullah SAW.

“Sejak dulu musik ini bisa digunakan untuk lagu tradisional Madura. Seperti Olle Olang dan lagu Madura lainnya. Selain itu, juga bisa dipakai untuk lagu religi. Seperti salawat dan semacamnya, ” jelasnya.

Pihaknya mengaku sudah sempat sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk melestarikan musik Ba’beng. “Kami merencanakan akan melakukan kolaborasi musik Ba’beng dengan tari asli asal Sampang, ” imbuhnya.

 

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *