oleh

Mengenal Muslihah, Sosok Aktivis Perempuan Milenial

Kabarmadura.id/Sampang-Kemiskinan itu takdir, sukses itu sebuah pilihan. Kalimat itu selalu menjadi cambuk bagi Muslihah untuk selalu mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Kehidupan dirinya yang nyaris jauh dari kata mewah, tidak lantas membuat dirinya minder untuk berproses dengan orang di sekitarnya.

JAMALUDDIN, SAMPANG

Muslihah, merupakan mahasiswi aktif di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura. Dara kelahiran 30 Juli 2000 di Kabupaten Sampang ini, memiliki tekad kuat untuk mewujudkan mimpinya, yakni menjadi orang besar dengan perubahan yang diciptakan olehnya.

Meskipun terlahir dari keluarga yang kurang berada, namun hal itu tidak lantas menjadi penghalan baginya dalam mewujudkan mimpi besar untuk membanggakan kedua orang tua yang telah membesarkannya.

Terlebih, kedua orang tuanya, selalu menjadi penyemangat dirinya untuk meraih mimpi yang dicita-citakan. Termasuk, saat kedua orang tuanya mendorong dirinya untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, yang sebelumnya nyaris tidak pernah terlintas dalam benaknya.

Oleh karenany, berbekal keyakinan diri, Muslihah bertekad memberikan sebuah kebanggan kepada kedua orang tuanya melalui bangku kuliah yang saat ini menjadi medan perjuangannya di segala bidang.

“Orang tua saya selalu berpesan, agar tidak menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk tidak meraih masa depan yang curah. Mereka selalu memberikan semangat dan keyakinan, kalau saya bisa menjadi sosok anak kebanggaan yang bisa memberikan contoh bagi saudara saya,” ungkapnya, Minggu (1/12/2019).

Kepada Kabar Madura, dirinya menceritakan saat orang tuanya berpesan ‘kami meridhoi setiap langkahmu, jika hal itu positif. Kami selalu berdoa kamu bisa menjadi sosok wanita karir yang sukses dan bermanfaat bagi orang lain’.

Mendengar kalimat tulus dan penuh makna dari kedua orang tuanya, Muslihah mengaku tercambuk untuk terus berikhtiar dan pantang menyerah dalam setiap kondisi dan situasi apapun dalam hidupnya.

Dirinya mengungkapkan, wejangan dari kedua orang tuanya itu, menjadi bekal dirinya selama empat tahun tinggal di Pondok Pesantren Al-Qadiry, Desa Sentol, Kecamatan Pademawu Pamekasan.

Bahkan, meski saat ini dirinya hidup jauh dari kedua orang tuanya. Namun dirinya selalu merasa berada di samping kedua orang tuanya. Bahkan, setiap even perlombaan, dirinya selalu merasa disaksikan kedua orang tuanya, sehingga dirinya selalu bertekad memenangkan setiap even perlombaan demi member kebanggaan kepada kedua orang tuanya.

“Bagi saya dalam sebuah perlombaan, pasti ada pemenang dan pasti ada yang tereliminasi, itu merupakan hal yang biasa. Tapi saya selalu bertekad untuk menjadi yang terbaik demi orang tua saya,” imbuhnya.

Melihat semangat pantang menyerah yang dimiliki oleh Muslihah, tidak heran kemudian, jika dirinya berhasil meraih sejumlah prestasi gemilang selama berada di dunia pendidikan. Tercatat, Muslihah pernah juara 2 tahfidz al-Qur’an, hingga menjadi lulusan terbaik MA Al-Qadir. Bahkan dirinya dinobatkan sebagai santri teladan di Pondok Pesantren Al-Qadiry, Sentol, Pademawu Pamekasan.

Di bangku kuliah, dirinya mampu menyabet tiga prestasi membanggakan. Di antaranya, juara 2 musabaqah syarhil Qur’an se-Madura di IAIN MADURA, juara 3 orasi ilmiah se-Komisariat PMII IAIN MADURA, dan juara 2 orasi ilmiah tingkat Kabupaten Sampang.

Saat ini, dirinya mengemban amanah sebagai Sekretaris Korp PMII Puteri (Kopri) Rayon Persiapan Sakera Komisariat PMII IAIN MADURA. Dirinya juga aktif sebagai anggota Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (SEMA FAUD), Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Quran Dan Tafsir (HMPS IQT), Unit Pengumpul Zakat (UPZ IAIN Madura), Dan Forum Mahasiswa Sampang (FORMASA).

“Semboyan saya, kuliah prioritas, organisasi totalitas, dan  kajian rutinitas. Harus pandai memanage waktu antara akademisi dan organisasi. Tetaplah semangat dalam berproses, berjuang dan mengabdi demi masa depan bangsa dan negara,” tutup anak pertama dari pasangan Moh Kurdi dan Sunami itu. (pin)

 

Komentar

News Feed