oleh

Mengenal Pejuang Rupiah, Ahmad Warist Warga Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep

Upah Hanya 10 Persen dari Hasil Penjualan Batagor

KABARMADURA.ID, Sumenep – Memulai menjadi pengusaha, harus bekerja terlebih dahulu kepada yang mempunyai modal. Meski dalam prosesnya banyak dinamika yang harus dilalui, bahkan terkadang jenuh. Seperti yang dialami Ahmad Warits, sebagai penjual yang mengalami penurunan pendapatan di masa Covid-19.

MOH RAZIN, SUMENEP

Menjadi rutinitas setiap hari, sekitar pukul 07:00 Warist sudah bergegas menuju tempatnya bekerja. Meskipun berjualan, dia bekerja kepada orang lain. Sehingga sebelum sampai ke tempat biasa berjualan dia harus menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan di rumah juragannya.

“Tidak langsung, siap-siap dulu di rumah yang berjualan. Ya daerah Kota masih, kan jualannya batagor sehingga saya siapkan dulu alat-alatnya, dan sekitar jam sembilanan saya sudah sampai di sini (sebelah barat stadion A Yani Sumenep),” tuturnya, Selasa (13/10/2020).

Pada masa saat ini, pendapatannya sudah tidak seperti hari normal. Biasanya, dia mendapat upah setiap harinya sekitar Rp100 ribu, jika mendapatkan pemasukan lebih dari Rp1 juta. Tetapi di masa pandemi ini hanya berputar di angka Rp500 ribu. Meski demikian, Ahmad Warits tetap gigih bekerja.

Dia menerima gaji atau bayaran setiap hari beragam, mulai dari yang tertinggi sekitar Rp120ribu, paling rendah sebesar Rp70 ribu. Namun di masa saat ini dia menegaskan tidak menerima upah hingga mencapai  Rp100 ribu.  Hanya saja upah sedikit tidak memadamkan semangatnya untuk berproses.

Pendapatan tidak seperti biasa itu, juga disebabkan sekolah tidak lagi masuk seperti biasa, apalagi di daerah kota uji coba pertemuan tatap muka (PTM) kembali dibatalkan, dan tetap menggunakan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau di rumah saja.

“Kalau sekolah masuk, banyak yang beli. Apalagi saya ambil stand di depan SMP 1 Sumenep, selain siswa yang banyak, terkadang ada event atau lomba antar sekolah, sehingga banyak siswa dari luar, bahkan yang nganter itu juga beli ke saya,” imbuhnya.

Selain itu, tidak adanya kegiatan atau kompetisi di Stadion A Yani itu, pria yang juga mempunyai gelar sarjana itu optimis pendapatannya lebih dari biasanya. Dan saat ini orang yang kebetulan melintas dan sesekali berhenti untuk membeli kepadanya.

“Kalau ada bola, pasti lebih banyak pendapatan saya cong, tapi kan bisa bekerja kepada orang , dan diupah setiap hari, kadang belum sampai ke rumah sudah habis, dibelikan ini, itu, dan sebagainya,” pungkasnya. (*/ito)

Komentar

News Feed