Mengenal Pemuda Zaman Nabi

  • Whatsapp

Peresensi      : Joko Susanto*)

Masa muda merupakan sebuah rentang waktu yang sangat istimewa. Momentum luar biasa itu tidak berlangsung lama tetapi mempunyai makna  dan efek yang sangat luar biasa. Upaya memanfaatkan usia muda dengan perilaku yang baik adalah terobosan yang bijaksana.  Sebaliknya, menyia-nyiakan kesempatan emas yang tidak mungkin terulang itu hanya meninggalkan sejumlah penyesalan.

Bacaan Lainnya

Salahsatu dari lima perkara yang harus dimanfaatkan sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW adalah waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa para sahabat Nabi banyak yang mulai mengikuti dakwah dan perjuangan Nabi sejak usia  muda. Mereka berjibaku mengoptimalkan masa mudanya dengan perjuangan tiada kenal lelah. Mereka asah segala potensinya dan tiada kata untuk berpangku tangan.

Buku bercover merah ini menjelaskan profil dan kontribusi para pemuda era Nabi sesuai dengan segala kelebihannya masing-masing.  Usia potensial itu telah mereka tempa dengan bekal yang mumpuni dan komprehensif sehingga menjadi sosok pemuda yang membanggakan sejarah perkembangan Islam. Kita memang berada pada zaman yang jauh dari mereka, namun berusaha mengenal kemudian meneladaninya adalah langkah taktis yang sangat berguna.

Penulis menguraikan sebanyak dua puluh sahabat nabi berdasarkan urutan siapa yang lebih dulu beriman. Penyajian dimulai dari profil masa muda Ali bin Abi Thalib dan diakhiri penulisan tentang sosok Zubair bin Awwam. Nasab, pertumbuhan, keislaman, pernikahan, ciri-ciri fisik, keberanian, kerendahan hati adalah beberapa tema yang dijelaskan penulis ketika membahas tentang Ali bin Abi Thalib. Anak bungsu itu suka hidup sederhana, rendah hati, suka membantu orang-orang lemah dan fakir. (halaman 24).

Berbakti kepada orangtua adalah tugas kita semua. Terlebih bagi seorang pemuda. Sesibuk apapun jangan sampai lalai untuk berbakti pada orangtua. Usamah bin Zaid, komandan pasukan termuda, yang pernah dibonceng Rasulullah di belakang beliau saat naik binatang kendaraan, putra dari Zaid bin Haritsah dan Ummu Aiman Al Habasyiah dicintai Nabi Muhammad sejak kecil dan tetap berbakti kepada ibunya.

Muhammad bin Sirin berkata,  pada masa Khalifah Utsman bin Affan, harga pohon kurma meningkat tajam hingga mencapai 1.000 dirham. Usamah menghampiri sebuah pohon kurma lalu menebangnya kemudian mengambil jantung pohon itu untuk diberikan kepada ibunya. Orang-orang mencemoohnya, “Hai Usamah, kenapa kau melakukan itu, kau tahu sendiri kalau harga pohon kurma mahal yaitu 1000 dirham?” Usamah menjawab, “Ibuku memintanya. Kalau ibuku meminta sesuatu yang bisa aku penuhi, pasti akan aku berikan.” (Halaman 32).

Karakteristik juru dakwah penduduk kota Madinah tergambar dalam pribadi Mushab   bin Umair. Dia adalah sahabat yang agung,  tenang, kuat aqidahnya, wajahnya selalu bersinar, zuhud, dan penampilan yang bagus. Ketika ditentang oleh orang kafir dan dilarang berdakwah,  Mushab  berkata “Silakan duduk dulu agar engkau bisa mendengar apa yang aku sampaikan. Jika tertarik engkau boleh menerimanya tetapi jika tidak suka maka kami akan pergi sekarang.”  Sikap itu dipandang cukup adil oleh kaum yang menentangnya. Namun, perkembangan berikutnya mereka justru ikut bergabung dan menerima ajakan Mushab bin Umair. Dia adalah sosok pemuda dari kaum menengah ke atas namun rela meninggalkan segala kemewahan dunia demi perjuangan mulia membela agama.

Kisah lain tidak kalah menariknya. Anas bin Malik melayani keperluan Nabi Muhammad SAW. Dia mengatakan bahwa selama melayani keperluan beliau baik dalam perjalanan maupun ketika Nabi berada di rumah, demi Allah Nabi tidak pernah mengatakan untuk sesuatu yang dia lakukan kenapa kau melakukan ini seperti ini dan tidak pula mengatakan tentang sesuatu yang tidak dia lakukan kenapa kamu tidak melakukan ini seperti ini? (Halaman 92)

Anas bin Malik meriwayatkan Rasulullah bersabda siapapun yang menjenguk orang sakit sesungguhnya ia mengarungi rahmat. Ketika ia duduk dekat orang sakit maka rahmat meliputinya. Anas bertanya wahai Rasulullah itu untuk orang yang sehat yang menjenguk orang sakit lalu apa pahala untuk orang yang sakit? Beliau menjawab :  “Dosa-dosanya digugurkan.”

Penulis pun menyuguhkan kisah inspiratif tentang masuk Islamnya Umar bin Khattab di rumah Said bin Zaid. Setelah melalui adegan kekerasan fisik,  dengan izin Allah, Said bin Zaid menjadi orang yang membuat hati keras Umar bin Khatab pun akhirnya luluh. Kebenciannya berubah seratus delapan puluh derajat  (Halaman 110).

Kisah Abdullah bin Umar yang sangat mencintai Nabi Muhammad SAW  patut dijadikan sebagai teladan. Ashim bin Muhammad berkata bahwa setiap kali mendengar Abdullah bin Umar menyebut Rasulullah kedua matanya pasti bercucuran air mata. Ibnu Umar berdiri di dekat mimbar nabi lalu ia meletakkan tangan di mimbar kemudian iya mengusapkan tangannya ke wajahnya. Dahulu anak muda ini selalu berada di kota ilmu dan bersama Rasulullah. Rasulullah memuliakan Abdullah bin Umar setiap kali ia datang imam Ahmad meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah menemui Rasulullah lalu Rasulullah memberinya bantal berisi serabut. Namun ia tidak menduduki bantal tersebut sehingga bantal itu tetap berada di antara dirinya dengan Nabi.

Pada bagian keduapuluh atau terakhir diuraikan sosok Zubair bin Awwam yang termasuk golongan assaabiqunal awwaluun. Ketika mengucapkan syahadat ia berusia 15 tahun. Profesi ayahnya adalah seorang tukang kayu sedangkan profesi Zubair sendiri  yaitu sebagai penjual daging dan membuka toko yang berjualan daging potong. Zubair termasuk bagian kaum muslimin yang berhijrah ke negeri Habasyah.

Buku ini dapat dijadikan sebagai referensi yang melengkapi koleksi pembaca ketika ingin belajar tentang tarikh Islam. Uraian per tokoh pemuda yang  cukup lengkap dan kronologis menjadi sebagian keunggulan buku ini. Semoga generasi penerus bertekad mengisi masa mudanya dengan aktivitas yang bermanfaat, bukan malah sebaliknya.  Selamat membaca.

Sidoarjo,  11 April 2020.

*) Pencinta literasi yang masih belajar menulis. Buku karyanya Serba-Serbi Penulis Cilik. Mukim di Sidoarjo.

Judul buku    : Barisan Pemuda Zaman Nabi

Penyusun     :  Lajnah Tahkik Darul Qalam

Editor              : Yusuf Abdul Karim

Penerbit         : Aqwam, Solo

Terbit              : September 2019

Tebal              :  352 halaman

ISBN               : 978-979-039-746-0

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *