oleh

Mengenal Presma Putri STAIMU Uswatun Hasanah

Jadikan Persoalan Gender Menjadi Tantangan

Kabarmadura.id/Pamekasan-Terus melangkah mengukir sejarah atau diam menjadi sampah. Begitulah prinsip Uswatun Hasanah dalam berjuang meraih cita-citanya.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Perempuan yang lahir di Desa Rek Kerrek, Kecamatan Palengaan, pada 22 Juni 1998 itu, pada awalnya tidak ada yang menyangka bakal terpilih menjadi presiden mahasiswa di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAIMU) Pamekasan.

Kampusnya tidak sama dengan perguruan tinggi lainnya di Kabupaten Pamekasan. Para mahasiswa dibagi menjadi dua, yakni putra dan putri. Begitupun dengan setiap organisasi kemahasiswaannya turut terbagi menjadi putra dan putri.

Di kampus putri, dia terpilih menjadi ketua dewan eksekutif mahasiswa (DEMA) atau disebut presiden mahasiswa (presma). Menjadi pimpinan dari ratusan mahasiswa baginya bukanlah suatu hal yang mudah. Terlebih dirinya yang selama ini diragukan oleh rival politiknya.

Selain rival politik yang menjadikannya berat, yaitu dalam bersaing dengan organisasi kemahasiswaan putra. Baik dari sisi akademik maupun non-akademik. Hal itulah yang menjadikannya merasa berat dalam mengemban amanahnya sebagai presma putri.

Namun untuk menjadi pesimis bukanlah pilihannya. Dia tetap bertekad terus maju dengan mematangkan sejumlah rencana dan program yang dikemas dengan visi dan misi cemerlang.

“Persoalan gender masih menjadi kendala utama. Mereka berpikir mereka memiliki banyak keterbatasan. Keterbatasan itu yang menurut mereka penghalang,” ujarnya.

Meski perempuan, pengalamannya dalam organisasi terbilang lumayan. Bagaimana tidak, baik di organisasi ekstra maupun intra pernah digeluti. Sebelumnya dia pernah berkiprah di himpunan mahasiswa program studi (himaprodi), selain itu dia juga aktif di organisasi ekstra Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (PMII).

Yang menjadi tugas pertamanya yaitu membangun spirit mahasiswa puteri agr mau memiliki jiwa juang yang sama dengan kaum laki-laki. Telah diketahui banyak orang bahwa perempuan memiliki banyak keterbatasan. Keterbatasan itulah yang kerapkali dijadikan alasan untuk mundur.

Itulah tugas utamanya. Sementara menurutnya, mahasiswa putri di kampusnya masih banyak yang enggan diajak berkontribusi dalam setiap kegiatan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di kampusnya.

Dia berpikir jika hal itu terus dijadikan alasan maka hingga kapanpun dirinya dan mahasiswa putri lainnya tetap akan tertinggal jauh. Penanaman karakter menjadi hal tersulit baginya. Karena harus merubah pola pikir dan untuk merubahnya bukanlah hal yang mudah.

Kendati begitu, dia tidak sungkan untuk berdiskusi dan berbagi gagasan dengan ormawa putra. Sebab kebetulan presma putra merupakan satu almamater dengannya di organisasi ekstra. Dengan begitu dia bisa menyatukan spirit agar ormawanya bisa sama-sama hidup.

“Yang tersulit adalah merubah pola pikir, ini tidak mudah. Karena pola pikir dibentuk boleh kebiasaan dari kecil. Tidak bisa dirubah hanya dengan waktu satu tahun,” tukasnya. (pin)

 

Komentar

News Feed