Mengenal Saronen, Warisan Budaya Madura Peninggalan Cicit Sunan Kudus

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) DILESTARIKAN: Potret Saronin saat berada dalam sebuah acara.

KABARMADURA.ID, SUMENEP-Masyarakat Madura tidak hanya mengenal Saronen sebagai media hiburan.  Namun, alat musik yang sebagian besar didominasi berbahan logam itu diketahui pernah dirintis oleh cicit dari Sunan Kudus yaitu Kiai Khatib. Beliau bertempat tinggal di Desa Sendang, Kecamatan Pragaan, Sumenep.

Setiap hari pasaran seninan di Pasar Ganding yang berada di Kecamatan Ganding, Kiai Khatib dan para pengikutnya menghibur pengunjung pasar menggunakan Saronen dengan berpakaian seperti badut.

Hal itu berhasil menyedot perhatian para pengunjung pasar. Setelah banyak yang berkumpul, mulailah Kiai Khatib berdakwah memberi pemaparan tentang agama Islam dan juga kritik sosial.

Metode dakwah yang kocak dan humoris ini mampu menggetarkan hati pengunjung sehingga banyak masyarakat yang hadir tertarik untuk masuk Islam. Jadi, alat musik Saronen ini peranannya sangat luar biasa dalam membantu menyebarkan Islam di Pulau Garam ini.

“Demikian sepintas sejarah yang saya ketahui tentang Saronen, yang oleh sebagian kalangan dinilai negatif,” tutur Abdul Muthallip salah satu pegiat Saronin asal Karduluk, Kecamatan Pragaan.

Muthallip melanjutkan, Saronen merupakan alat musik khas Madura yang sampai saat ini terus dilestarikan. Sehingga sangat wajar apabila ada pesta atau acara adat seperti arak-arakan di Madura alat musik Saronen ini akan turut hadir memeriahkan.

Saronen biasanya dimainkan saat acara karnaval, arak-arakan pengantin atau saat pesta adat. Selain itu, Saronen juga dimainkan sebagai pengiring saat acara tertentu seperti lomba karapan sapi atau lomba kecantikan sapi sono’.

“Yang lumrah orang-orang mengenal Saronen sebagai pengiring kerapan sapi, itu sudah identik, di mana ada kerapan sapi pasti ada Saronen,” pungkasnya. (ara/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *