Mengenal Sosok Sutradara Muda Asal Madura

  • Whatsapp

Kabarmadura.id/Pamekasan-“Bagi saya Madura adalah madu, orang Madura bukan darah”, petikan kalimat itu yang terus menjadi pelecut semangat Faiz Asindara untuk konsisten mengangkat kebudayaan Madura dalam sebuah produksi film.

MUALLIFAH,PAMEKASAN

Faiz Asindara, begitulah nama pananggung dari laki-laki yang bernama Ahmad Faiz. Pria kelahiran Sumenep 27 Agustus 1998 itu, saat ini menjadi kebanggaan warga Madura dalam dunia perfilman.

Pasalnya, di usia yang begitu muda, sepak terjangnya dalam dunia film patut diacungkan jempol atas karya film yang sudah ditekuninya. Sosoknya yang ingin terus belajar dan tekun pada pilihannya membuat dirinya selalu semangat untuk terus berkarya.

Kepada Kabar Madura, Faiz mengaku tertarik pada dunia perfilman sejak tahun 2016 lalu. Saat itu, dirinya memutuskan untuk menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Surakarta, pada Fakultas Seni Rupa dan Desain, Program Studi Televisi dan Film Jurusan Seni Media Rekam.

Latar belakang sebagai warga pulau Madura, yang tidak kenal kata menyerah dalam kondisi dan situasi apapun, membuat dirinya berniat untuk kembali ke kampung halamannya dengan karya yang akan membuat Madura mendunia.

“Madura merupakan ide yang masih murni dari tempaan alam dan kehidupan, tugas kami sebagai seni ketujuh (filmmaker) adalah untuk memperkenalkan potensi lokalitas Madura dengan tidak menampilkan stigma masyarakat Madura sebagai orang yang kasar, frontal, dan sejenisnya,” ungkapnya, Kamis (19/12/2019).

Berkat kegigihannya, berbagai karya film sudah disutradarai oleh laki-laki alumni SMA 1 Annuqayyah Guluk-Guluk Sumenep itu, diantaranya, “Annuqayyah: Menuju Teater Pesantren”, “Kotheka: Seumpama di Persimpangan”. Kemudian, remake scene “Moammar Emkas Jakarta Undercover”.

Dirinya mengaku, hingga saat ini film yang dimiliki belum pernah diikutkan dalam ajang lomba apapun. Selain itu, ketertarikannya untuk masuk dalam industri film sengaja tidak difokuskan, sebab pribadinya dalam mengasah diri, mencari ide  yang luas masih ingin dilakukan untuk menajamkan pikiran kritisnya melalui dunia film.

Baru-baru ini, Faiz juga menggagas creative screen (layar kreatif) yang bernama Sinemadura. Sinemadura yang didirikan pada tahun 2018 silam itu, menjadi wadah dirinya untuk bersama-sama belajar dan membangun dunia perfilman, khususnya di Madura serta Indonesia.

Diungkapkannya, Sinemadura sengaja digagas untuk mengumpulkan teman-teman Madura, agar berkarya dalam dunia perfilman serta bersama-bersama membangun Madura, memperkenalkan Madura melalui film dalam skala nasional hingga global.

“Bagi saya Madura adalah madu, orang Madura bukan darah,” tutupnya. (pin)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *