Mengenal Wisudawan Terbaik Prodi TBIN IAIN Madura, Raudatul Jannah

  • Whatsapp

Buktikan Aktivis Bisa Berprestasi dan Wisuda Tepat Waktu

Menjadi seorang aktivis seringkali “dicap” sebagai mahasiswa minim berprestasi dan tidak mampu menyelesaikan kuliah tepat waktu. Namun, hal itu dapat dipatahkan oleh Raudatul Jannah. Wisudawan terbaik Prodi TBIN IAIN Madura ini, membuktikan jika aktivis bisa berprestasi dan wisuda tepat waktu.

Asbuna Purwati, Pamekasan

Bacaan Lainnya

Sebagian besar kalangan akademisi akan beranggapan, jika seorang aktivis tidak akan mampu menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Bahkan, tidak sedikit yang menilai jika aktivis tidak bisa berprestasi.

Anggapan itu yang selama ini diakui menjadi pelecut semangat Raudatul Jannah. Wisudawan terbaik Program (Prodi) Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura.

Tidak hanya memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,76 yang menobatkan dirinya sebagai wisudawan terbaik. Aktivis perempuan yang aktif di berbagai organisasi ini, mampu menyelesaikan pendidikan strata satu (S-1) tepat waktu.

Dara kelahiran Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep 10 Oktober 1998 ini pun, juga merupakan mahasiswa penerima beasiswa biaya pendidikan mahasiswa miskin berprestasi (Bidikmisi) di IAIN Madura.

Raudatul Jannah mengaku, saat menginjakkan kaki di kampus, dirinya merupakan mahasiswa biasa-biasa saja. Namun sebagai mahasiswa, ia mempunyai keyakinan dan berusaha untuk membuktikan bahwa mahasiswa benar-benar agent of change. Usaha itu ia mulai dengan aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan di kampus.

Aktivis Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Activita itu mampu membuktikan, bahwa banyaknya stigma seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi, akademiknya kurang baik. Atau sebaliknya, mahasiswa yang modelnya akademis, maka dia tidak akan baik di organisasi, atau bahkan tidak tertarik dengan organisasi.

“Nah, saya ingin membuktikan bahwa mahasiswa bisa menyeimbangkan ataupun bisa baik dengan keduanya. Selama di perkuliahan saya ingin membuktikan itu. Dan saya bisa membuktikannya untuk seimbang antara akademik dan organisasi,” ungkapnya, Jumat (17/9/2021).

Menurutnya organisasi ataupun bangku perkuliahan adalah wadah untuk menimba ilmu, belajar teori-teori, berdiskusi, dan lain sebagainya. Sedangkan organisasi itu adalah bidang aplikatifnya. Sebagai wadah untuk merealisasikan ilmu atau menerapkan ilmu dan teori yang sudah didapat di bangku kuliah.

“Apalagi di fradiksi adalah untuk pengabdian kepada masyarakat. Kami kuliah dibiayai oleh negara, dari ini juga belajar dari masyarakat. Sukses itu bukan apa yang kita dapatkan, melainkan apa yang dapat kita berikan untuk orang lain,” tuturnya.

Selain mahir di bidang akademik, ia juga memiliki keahlian dalam kepenulisan dan public speaking. Di kampus, ia terbiasa menjadi moderator, bahkan pernah diundang beberapa kali untuk menjadi pemateri di acara seminar di sekolah-sekolah, seperti di Sumenep dan Pamekasan.

Dia mengaku juga pernah debat di Konferensi Nasional di IKONIS tahun 2020 dan menjadi salah satu peserta termuda, dan satu-satunya mahasiswa yang kemudian menjadi presenter dalam ajang Konferensi Nasional. Dia juga memiliki buku yang berjudul juru sukses belajar.

“Menjadi wisudawan terbaik bukanlah gol utama. Gol utama kita adalah bagaimana mencari ilmu agar ilmu menjadi barokah dan bermanfaat dan menjadi wisudawan terbaik adalah bonus,” yakinnya.

Raudatul Jannah mengatakan, ada tiga hal yang ingin dia sampaikan. Pertama, apapun kegiatan yang sedang dijalani, seperti apapun perjalanan yang diarungi, dan apapun yang sedang ditempuh, setiap dari kita harus tau hob kita apa, gol kita apa, visi kita apa.

Dengan itu perjalanan kita akan semakin terarah. Ibarat dalam sebuah perjalan kita tau tujuan kita apa dan kompas selama perjalanan kita. Nah dengan itu kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan gol itu.

“Kedua, kita harus lebih maju selangkah atau lebih terdepan dari orang lain. Ketiga, Saya tidak punya apa-apa kecuali doa orang tua saya. Karena usaha yang kita lakukan dan hasil yang kita dapatkan tak lepas dari doa orang tua. Sekuat apapun kita berusaha tidak akan bisa menembus dinding takdir Tuhan,” tutupnya. (Miftahul Arifin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *