oleh

Menggali Inspirasi dari Kaligrafer Pamekasan Royhan Yasin

Kabarmadura.id/Pamekasan-Jarang-jarang, sekeluarga memiliki kegemaran serupa. Keunikan itu terdapat di keluarga Royhan Yasin. Pria yang tinggal di Jalan Jembatan Baru Gang VI Pamekasan ini beserta keluarganya menekuni seni kaligrafi.

SYAHID MUJTAHIDY, PAMEKASAN

Seperti yang diceritakan Royhan, jiwa seni di keluarganya terlihat pada neneknya Masturah. Akan tetapi, neneknya bukan menekuni kaligrafi, melainkan fokus pada membatik.

Kata Royhan, cara neneknya membatik terbilang unik. Sebab, Masturah tidak menggunakan sketsa, langsung memulai membatik di kain. Hasil beserta ukuran motifnya sama.

“Sejak nenek dulu, jiwa seni sudah ada, tapi bukan kaligrafi. Nenek saya seorang pembatik. Beliau tidak menggunakan sketsa. Kain itu langsung digarap; hasil beserta ukurannya sama, tidak seperti sekarang masih menggunakan sketsa,” cerita kepada kabar Madura di teras rumahnya, Senin (20/4/2020) pagi.

Berbeda dengan ayahnya Achmad Baidawi Abror yang merupakan seorang kaligrafer. Bahkan, ayahnya merupakan Ketua Dewan Kaligrafi di Pamekasan dan menjadi Dewan Kaligrafi di tingkat Provinsi Jawa Timur (Jatim).

Menurutnya, dari sosok sang ayah mengalir jiwa seni kaligrafi itu. Sebab, dia selalu membantu ayahnya sejak kecil. Baru mulai mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD), Royhan lebih menyeriusi kaligrafi. Ketika sudah duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), dia coba-coba ikut lomba kaligrafi.

Tidak sebatas Royhan yang berbakat di seni lukis kaligrafi, begitu juga dengan adiknya yang bernama Farchy Muqoddas. Berbeda dengan kakak perempuannya Ifa yang lebih fokus terhadap melukis seperti bunga dan sebagainya.

“Cerita awalnya berangkat dari sebuah bakat, karena saya bersama keluarga khususnya abah. Abah adalah seorang seniman. Karena beliau seorang seniman, maka bakat seninya alhamdulillah turun kepada anak-anaknya, termasuk saya,” sambungnya.

Kata Royhan, bakatnya itu berawal dari belajar berbasis praktik tanpa melalui pembelajaran teoritis. Hal itu yang membuatnya terbiasa memainkan kuas, seperti ketebalan, kemiringan, dan goresan.

“Jadi mulai kecil, saya berangkat dari hanya sekadar membantu abah ketika membuat karya. Jadi saya praktik langsung, tidak melalui kajian teoritis. Dari kecil sudah terbiasa dengan alat-alat lukis, secara tidak langsung saya bisa mempelajari anatomi huruf. Huruf ini ketebalannya berapa? Kemudian kemiringannya berapa? Kemudian goresannya bagaimana? Itu kami pahami dan kuasai,” pungkasnya. (idy/nam)

Komentar

News Feed