Menggerakkan Tradisi Membaca sejak Usia Dini

Oleh: Busri, S.Th.I*)

Kabupaten Sumenep merupakan salah satu kawasan dengan jumlah lembaga pendidikan luar biasa banyak. Lembaga pendidikan tersebut berupa lembaga pendidikan dengan konsentrasi agama dan umum, serta tersebar di kawasan kepulauan dan daratan. Jumlah yang lumayan fantastis tersebut menjadi modal penting bagi kabupaten berjuluk kota keris ini untuk membangun pola pendidikan yang khas dan kharismatik. Setidaknya, polarisasi yang dibikin oleh Sumenep mampu menyumbang peradaban besar bagi perjalanan dunia pendidikan di tanah air. Hal ini penting karena substansi dari pendidikan memang selalu bergerak memunculkan peradaban terbaik dalam setiap tahapannya.

Lembaga pendidikan dengan konsentrasi agama dan umum tersebut akan menjadi peta awal bagi sekalian pemerhati, praktisi, akademisi, dan pengelola lembaga pendidikan di Sumenep ini untuk mulai menguak potensi dari sistem pendidikan di kabupaten Sumenep. Penulis mengamati salah satu potensi yang penting untuk disegerakan digerakkan pada momentum saat ini adalah tradisi membaca sejak dini. Sejak ini ialah sejak masa awal dari fase dimana anak menempuh kegiatan pendidikan. Sebab, dunia awal bagi fase anak menjadi masa dimana mereka akan dengan cepat merekam setiap perihal yang mereka amati secara inderawi. Pengalaman hidup di masa awal ini juga secara teoritis akan menjadi modal bagi sekalian anak untuk menjadi pribadi yang akan mampu membaca setiap persoalan diri mereka dan lingkungan di mana mereka tinggal. Yang sangat penting juga, kebiasaan membaca sejak usia awal ini akan menginisiasi bertambahnya lulusan dari sebuah lembaga pendidikan di Sumenep dengan integritas dan kualitas mumpuni.

Bacaan Lainnya

Perlu disadari, selama ini kesadaran membaca di tengah masyarakat kabupaten Sumenep masih perlu perhatian banyak pihak. Alasannya sangat sederhananya, kebiasaan membaca selama ini masih diberlakukan di sejumlah level masyarakat. Biasanya tradisi membaca masih identik dengan kalangan terdidik yang berada di lokasi pendidikan tertentu. Seperti anak di sekolah dan warga yang terlibat di bangku pendidikan. Meski bukan menjadi kesimpulan yang final, namun kesadaran tradisi membaca di kalangan masyarakat kita perlu untuk terus digerakkan. Kebiasaan membaca pada semua level ini pada akhirnya akan mempercepat bagi tingkat produktivitas warga di sejumlah bidangnya. Karena masyarakat yang suka membaca dengan sendiri akan bisa aktif dalam mengikuti setiap informasi dari setiap kemajuannya. Kebiasaan membaca masyarakat akan menjadi rumusan bahwa tingkat pendidikan masyarakat juga sudah semakin baik.

Menuju masyarakat bergengsi di abad 21

Kabupaten Sumenep selama ini dikenal sejumlah warga di luar Sumenep sebagai kawasan yang potensial. Setidaknya kita bisa melihat, bahwa selama ini kabupaten Sumenep sering menjadi tempat digelarnya event penting bertaraf internasional. Selain memang potensi sumber daya alam dan masyarakatnya memang (menurut Penulis) sangat layak masuk dalam daftar kabupaten berprestasi. Potensi dan prestasi yang sudah dicapai oleh Sumenep selama ini seyogyanya bisa dipertahankan dan diperkuat dengan prestasi yang lain. Sebab, dalam teorinya prestasi yang terus ditambah dengan prestasi lainnya akan semakin menyempurnakan kelebihan yang sudah ada/dimiliki sebelumnya.

 

Harapan  besar dari Penulis, pada tahun ini akan menjadi tahun penting dimana tradisi membaca bisa mendarah daging. Yaitu, semua masyarakat di kabupaten Sumenep dalam semua level bisa bergerak membiasakan dalam membaca. Terutama warga dan anak-anak yang berada di lingkungan pendidikan. Gerakan dimaksud sejalan dengan kampanye dari kementerian terkait (Kemendikbud) tentang gerakan literasi dalam berbagai bidangnya. Gerakan membaca dalam semua level warga ini tentu membutuhkan dukungan mutlak dari semua komponen di kabupaten Sumenep. Masyarakat dari pemerintah bisa terus bersinergis dalam membangun dan memperkuat kesadaran membaca ini. Sekali lagi, kebiasaan membaca di kalangan masyarakat akan memberikan pelajaran penting bagi masyarakat sendiri untuk cerdas dalam membaca realitas atau informasi yang tersaji di tengah mereka.

Akhirnya, semua memang harus dimulai dari ide-ide kontrukstif bagaimana membagun tradisi membangun tradsi membaca ini. Semua membutuhkan latihan-latihan dari hal yang paling dasar. Semisal menyediakan bahan bacaan di sejumlah sudut keramaian atau di sudut rumah masing-masing. Tak kalah penting, lembaga pendidikan mengefektifkan keberadaan perpustakaan dan mengisi dengan sekian program bertema literasi. Kolaborasi dari semua pihak ini pada akhirnya akan mempercepat gerakan sadar membaca di kabupaten Sumenep. Selamat membaca dan selamat menyambut tahun baru 2022.

*) Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS) periode 2021-2026

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.