Menggubah Lagu tentang Kepedulian

  • Whatsapp

Setiap musisi pasti memiliki potensi spesial. Bisa jadi suaranya bagus, aransemen musiknya yang kocak ataupun syair yang digubah begitu menggugah rasa. Bahwa kemudian Abah Iwan dibahas dalam buku ini, setidaknya karena dia memiliki potensi yang jarang dimiliki musisi lain. Dia mantan militer yang akrab dengan kekerasan, petualang yang penuh tantangandan musisi yang harus penuh rasa.

Komposisi tiga bidang yang kontras ini melebur dalam lagu yang dia gubah. Sesungguhnya, hal demikian tidak mengherankan karena lagu hanyalah katalisator dari prinsip hidup yang dia jalani. Lagu sekadar percikan kecil dari kobaran nilai kehidupan yang dia pegang teguh.

Buku ini mengisahkan Abah Iwan  yang egaliter, setiakawan dan familiar. Dia juga kontemplator yang tangguh. Melihat persoalan secara menyeluruh hingga batas paling elementer. Ambil contoh hal kecil seperti api unggun yang biasa dinyalakan malam hari di hutan atau gunung tatkala berpetualang. Baginya ia tidak hanya penerang di kegelapan atau penghangat susasana dingin melainkan juga instrumen keakraban, kebebasan berekspresi dan kejujuran.  Hal demikian selaras dengan penelitian yang dilakukan Dr. Polly Wiesmer tentang api unggun pada suku di pedalaman Kalahari, Afrika (hlm 13).

Abah Iwan pernah membawa bendera Indonesia melewati lintasan gunung hingga mencapai puncak tertinggi Gunung Everest. “Ekspedisi tujuh puncak dunia adalah sikap untuk menumbuhkan jiwa keindonesiaan dan bisa memberikan inspirasi. Ini bukan sebuah penaklukan, “ katanya (hlm 17).

Di tahun 2008, dia bersama kelompok penempuh rimba dan pendaki gunung, Wanadri, melestarikan lingkungan dengan mendirikan Kawasan Konservasi Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi agar selamat dari penebangan liar. Konservasi tersebut dia perjuangkan hingga secara legal formal mendapatkan izin dari pemerintah.

Keprihatinannya terhadap kerusakan alam akibat ulah manusia dan optimisme pelestariannya, dia tuangkan dalam bentuk lagu bejudul Melati dari Jayagiri, “Melati kelak kan tenggelam. Gelap kan datang. Dingin mencekam. Harapanku bintang kan terang. Memberi sinar dalam hatiku. Kuingat malam itu. kau kuberi daku senyum kedamaian. Mungkinkah kau tinggal kenangan? Jawabnya tertiup di angin lalu (hlm 54).”

Dari sisi kemanusiaan, dia juga prihatin melihat kondisi para nelayan yang berada dalam kondisi miskin di tengah kekayaan maritim yang begitu melimpah. Lagu berjudul Burung Camar yang dia gubah mewakili suara nelayan miskin karena tidak bisa menikmatilaut mereka sendiri. “Tiba-tiba tertegun, lubuk hatiku tersentuh. Perahu kecil terayun, nelayan tua di sana. Tiga malam bulan telah menghilang. Langit sepi walau tak berawan (hlm 156).”

Lagu tersebut berisi derita nelayan yang tidak leluasa menikmati kekayaan negerinya karena kekayaan itu diambil nelayan negeri lain yang bebas mencuri tanpa ada proteksi dari negara. Bisa juga karena negara tidak meningkatkan fasilitas dan skill mereka dalam managemen perikanan. Atau juga, sebab harga ikan yang mereka tangkap tidak dijaring dengan transaksi yang memihak kepada mereka. Lagu Burung Camar ini mendapatkan penghargaan internasional.

Abah Iwan juga sangat peduli terhadap kesatuan bangsa. Di luar dunia musik, dia bersedia bersama 44 rektor se-Jawa Barat di Kampus Padjajaran, berkomitmen untuk menangkal radikalisme dalam bentuk apapun. Baginya radikalisme sama sekali tidak dibenarkan karena memalgimasikan kebenaran dari sudut subyektif. Di sisi lain, hal demikian salah fatal ketika menegasikan kebenaran yang dipeluk kelompok lain. Lebih-lebih ketika mengeksekusinya secara sarkastik dan represif.

Abah Iwan memang bukan penulis lagu produktif. Dia patut dikenang sebab di balik lagu yang dia karang ada jejak kepedulian, kepada kelestarian alam, masyarakat miskin dan kesatuan bangsa yang kesemuanya dijajaki secara kontemplatif.

Buku ini tidak hanya berisi lagu-lagu yang Abah Iwan karang dengan beragam prestasi yang dia raih. Lebih dari itu, buku ini didominasi renungan mendalam Abah Iwan akan setiap hal yang kerjakan dalam hidupnya.

DATA BUKU:

Judul buku      : Mentari Sang Kelana: Cerita dan Makna Lagu-lagu Iwan Abdulrachman

Penulis             : Arie Malangyudo

Penerbit           : KPG

Cetakan           : September 2017

Tebal               : xii + 273 halaman

ISBN               : 978–602- 424-676-1

*) Mamang Hariyanto, Alumnus Universitas Islam Madura, Pamekasan

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *