oleh

Mengintip Proses Hidup Penulis Buku Risalah Cinta, Mampu Berkarya di Tengah Keterbatasan

Kabarmadura.id/Pamekasan-“Aku lebih suka menjadi pemain daripada menjadi penonton yang hanya bisa nyinyir, sebab tidak semua kritikus ahli pada bidang yang dia kritisi,” begitulah prinsip hidup Norul hidayat dalam berproses menempa diri

ALI WAFA, PAMEKASAN

Pria kelahiran Sampang, 14 Agustus 1994 ini merupakan pemuda produktif dalam dunia seni menulis. Karya fenomenalnya adalah buku Risalah Cinta.

Kegemarannya dalam dunia literasi, menjadikannya sebagai pemuda yang berkontribusi besar dalam perkembangan literasi di era digital, dengan selalu berkarya dan menciptakan hal baru yang bisa dinikmati banyak orang.

Talenta menulisnya dia pupuk sejak masih berstatus santri di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet Pamekasan. Karyanya sering dipublikasikan di sejumlah media massa, bahkan pernah dimuat di Sidogiri Media 2017, 2018 dan juga pernah dimuat di Harian Pagi Kabar Madura.

Berbagai event dan kompetisi menulis karya sastra dia ikuti, karya sastra yang menjadi kegemarannya, yaitu puisi, tidak jarang menyabet sebagai seorang juara, baik di tingkat lokal bahkan di tingkat nasional sering dia dapatkan. Belakangan, dia dinobatkan sebagai pencipta puisi terbaik tingkat nasional oleh Lintang Indonesia.

“Kita terlahir dari tanah yang sama, air yang sama, langit dan bumi yang sama. Namun yang menjadi bukti bahwa kita pernah hidup di dundia hanyalah satu, yaitu karya,” ucapnya.

Hal yang membuatnya terus terpacu untuk terus menciptakan karya, karena  dia sadari bahwa di era saat ini, jika setiap pribadi tidak bisa membangun karakter produktif, maka sepanjang hidupnya dikendalikan oleh kehidupan.

Dengan menjadi produktif, dia merasa bahwa dirinyalah yang mengendalikan hidupnya, bukan kehidupan yang mengendalikan dirinya.

Tidak hanya itu, mahasiswa program studi Hukum Keluarga Islam di Universitas Islam Madura tersebut bukan tidak memiliki rintangan dalam kisah panjang proses hidupnya, dari mulai rintangan yang datangnya dari manusia, maupun rintangan yang datangnya dari alam.

Dari sesama manusia, tidak jarang orang-orang yang menyepelekannya, cibiran demi cibiran kerap kali dia terima dari sekelompok orang kontraproduktif, yang hanya menginginkan dia jatuh bahkan tersungkur kalah menghadapi tantangan hidup.

Rintangan dari alam, yang dia rasakan adalah berjuang menjadi pribadi yang produktif, kreatif dan inovatif di tengah kesulitan yang dihadapi. Karena menjadi pemuda dengan semangat produktivitas tinggi, tidak mudah dijalani dengan keterbatasan ekonomi yang menjerat dan terus membekukan bakatnya.

Hanya lahir dari seorang petani tidak cukup untuk membekali potensinya menjadi seorang penulis terkenal.

Kendati demikian, dia bukanlah kertas yang sekali basah akan mudah untuk dirobek, melainkan kepingan logam yang hanya dapat dihancurkan oleh keterbatasan waktu.

Hal itu dia buktikan di tengah kesulitannya, dia mampu menghadirkan sebuah karya yang berhasil melengkapi warna-warni dundia literasi.

Risalah Cinta, adalah buku yang berisi antologi puisi yang diciptakan dengan penuh rasa dari lubuk hati. Risalah Cinta akan terus menjadi saksi bahwa Norul Hidayat merupakan pribadi yang memiliki rasa empati terhadap perkembangan dundia literasi.

“Jika kita tidak bisa menaklukkan waktu, maka setidaknya jangan menydia-nydiakan waktu, sebab waktu memiliki potensi kekuatan lebih besar untuk menydia-nydiakan kita,” pungkasnya. (bri/waw)

 

Komentar

News Feed