Mengkritik Autentisitas Wahyu Tuhan

  • Whatsapp

Peresensi         : Moh. Rofqil Bazikh*

 

Bacaan Lainnya

            Dalam khazanah Islam, kitab suci menjadi semacam totem. Hal tersebut justru menegasikan, kajian-kajian kritis terhadapnya. Sehingga kecurigaan terhadap tertutupnya al-Quran, mulai mencuat ke permukaan. Ditambah, kesakralannya tidak bisa dihilangkan dengan apa pun, hal itu dianggap ihwal yang telah final. Kajian-kajian kritis yang dimaksud di sini adalah sebuah kajian yang dilakukan untuk mengkritisi bagian-bagian al-Quran terpenting di dalamnya. Naifnya, ketika kajian kritis terlempar hal itu memicum atensi buruk dari umat muslim. Tidak sedikit cendekiawan Islam yang dianggap melenceng dari tradisi berfikir klasik hanya karena mencoba menguliti kitab suci itu habis-habisan.

Ketika kembali ke beberapa abad silam, sejatinya al-Quran tidak akan pernah bisa dilepaskan dari titik kesejarahan. Sebuah start yang membentuk masa depan kitab suci umat muslim tersebut. Dalam kajian-kajian dan studi al-Quran klasik, titik historis turunnya ayat (asbabun nuzul) tidak akan terlepas dari pembahasan. Tetapi kekurangan yang membuntuti studi klasik adalah tidak membahas secara runut hal-hal fundamental yang menyangkut al-Quran. Semisal, sebab turun, klasifikasi ayat makkiyah-madaniyah, tidak menemukan titik pijak dan hierarki yang jelas. Pembahasan-pembahasan tentang itu justru cenderung terpisah dan tidak menemukan korelasi.

Di sini, Aksin Wijaya, mecoba mencari titik dan lubang untuk masuk. Mula-mula, ia meletakkan hierarki dari pembahasan penting dalam studi al-Quran. Ia mecoba mengkaji realitas dunia Arab waktu itu, sebagai tempat turunnya al-Quran. Diakui atau tidak, sosi-kultural Arab waktu itu turun campur tangan dalam konstruksi al-Quran—kalau bahasa penulis lebih menggunakan Mushaf Utsmani. Sisi-sisi menarik dari Aksin sendiri berani menguliti korelasi antara wahyu, al-Quran, dan Mushaf Utsmani. Dari sini, ia sudah mulai keluar dari kebanyakan mayoritas dalam studi al-Quran. Sebuah kritik yang patut dispresiasi, sebagai dinamika wajah studi al-Quran itu sendiri.

Perlu diingat, konsepsi yang terbentuk di kepala ketika mengucap wahyu adalah hal yang sekarang tertulis dan berbentuk kertas itu. Ketika mengucap al-Quran konsepsi yang terbentuk juga hal yang sekarang menjadi mushaf. Ketika mewacanakan Mushaf Utsmani, yang terlintas di benak juga huruf yang menjadi epitaf di kertas. Aksin Wijaya, secara mendetail, mendeskripsikan satu per satu dari tiga sisi yang esensinya tersebut berbeda. Wahyu, dalam pandang Aksin, adalah sesuatu yang berada di sisi Tuhan. Sementara al-Quran, lebih terhadap masa-masa oral dan penghafalan di masa Nabi. Secara gampang, masa sebelum pembukuannya. Sementara Mushaf Utsmani, lebih terhadap pasca penulisan kalam Tuhan tersebut.

Maka, dari situ, celah sebetulnya ditemukan. Penulis dengan tangkas, mencurigai, bagaimana sebetulnya dunia Arab waktu itu membentuk Mushaf Ustmani. Karena, sejatinya kadar kalam Tuhan yang diwadahi tiga entitas tersebut tidak sama. Apalagi ketika masuk ke tahap pembukuan, yang pada saat itu ada penyeragaman bacaan. Pada awalnya, al-Quran yang turun dengan tujuh huruf atau tujuh dialek(sab’atu ahruf), mengalami peyorasi. Sehingga butuh metode yang betul-betul ideal dalam menyingkap pesan wahyu Tuhan di balik Mushaf Utsmani.

Selanjutnya, dalam ranah interpretasi, penulis mencoba menawarakan interpretasi yang benar-benar ideal. Interpretasi terhadap teks dilakukan dengan melakukan kajian historis dan sosiologis turunnya pada saat itu. Menggunakan pendekatan dari teropong linguistik, guna memahami proses komunikasi Tuhan dengan bentuk al-Quran dan Mushaf Ustmani. Serta, tidak lupa juga menggunakan tesmak sosiologis untuk menelaah karakteristik al-Quran, yang nanti bakal berdampak banyak pada bab tafsiran. Penawaran ketiga, yakni, hermeneutika untuk mengungkap pesan di balik teks tertulis tersebut. Prioritasnya, agar pesan Tuhan terpisah sama sekali dengan pemilik bahasa dan budaya—dalam konteks itu budaya Arab. Dan, kontekstualisasi nilai yang terkandung bisa sesuai dengan realitas mutakhir dan kekinian (hal.242).

Pesan-pesan yang patut diungkap juga makna universal yang terkandung dalam teks atau Mushaf Utsmani. Juga membedakan mana, pesan yang hanya bersifat temporal dan terkhusus pada masyarakat waktu itu. Artinya, pesan-pesan partikular yang terkhusus pada masa itu, tidak menjadi pembahasan di ranah kekinian. Melainkan, makna yang benar-benar universal sehingga tidak pernah kaku, ketika melintasi benua dan belahan bumi mana pun.

Terlepas dari kajian dengan pendekatan yang berbeda oleh penulis, hal ini juga harus mendapat apresiasi-kritis dari pembaca. Arah baru dan masa depan studi al-Quran dapat menemukan titik terang di sini. Catatan-catatan kritis terhadap karya monumental macam ini, sangat dibutuhkan. Tabik!

Judul Buku      : Arah Baru Studi Ulumul Quran

Penulis             : Dr. Aksin Wijaya

Penerbit          : IRCiSoD

Tahun Terbit  : November, 2020

ISBN               : 978-623-6699-05-8

*) Peresensi merupakan Mahasiswa Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga. Berdomisili di Garawiksa Institute Yogyakarta.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *