oleh

Menguatkan Jiwa Sosial Di Tengah Wabah

Oleh Supadilah

Di tengah kekhawatiran ancaman mewabahnya coronavirus disease (Covid-19), bangsa Indonesia masih menunjukkan jiwa sosialnya yang tinggi. Sejak 15 Maret lalu Presiden Jokowi memberlakukan social distancing, kentara betul pengaruhnya. Banyak daerah yang menjadi sepi. Kebijakan ini berimbas pula pada bidang ekonomi. Masyarakat menengah ke bawah dirasakan yang paling terdampak. Misalnya pedagang keliling, dan ojek online (ojol).

Pendapatan mereka turun drastis. Sebab, konsumen juga berkurang jauh. Kadang, mereka tidak bisa membawa untung ke rumah. Malahan nombok. Hal ini menimbulkan keprihatinan dari banyak orang. Maka, muncullah gerakan kerelawanan yang membantu meringankan dampak dari wabah itu. Di berbagai media sosial ramai memberitakan gerakan kerelawanan.

Ada warung makan yang menggratiskan makanannya untuk ojol dan pedagang keliling. Ada pula gerakan berdonasi untuk penyediaan alat pelindung diri (APD), berbagi sabun dan hand sanitizer hingga kebutuhan pokok lainnya.

Ada artis yang melelang barang pribadi, berdonasi ribuan paket makanan, dan menyumbang pendapatannya. Ada pula kepada daerah yang merelakan gajinya untuk membantu penanganan virus Covid-19. Ramai-ramai pula anggota dewan memotong gajinya juga untuk keperluan yang sama.

Kebijakan work from home menyebabkan orang harus berada di rumah. Mengurangi kegiatan di luar rumah. Sementara itu, mereka tetap mengeluarkan biaya untuk hidup. Namun, dari mana mendapatkan pemasukan? Inilah yang memantik kepedulian dari banyak relawan.

Para relawan dari berbagai lembaga kemanusiaan turut berkontribusi waktu, materi, tenaga dan lainnya. Mereka berikan apa yang bisa mereka berikan. Di Jakarta, misalnya, di saat orang melakukan isolasi mandiri, banyak anak muda yang rela menjadi relawan. Mengumpulkan bahan makanan lalu mendistribusikannya kepada masyarakat yang membutuhkan.

Jutaan orang membantu dan berdonasi saling meringankan akibat dampak wabah Covid-19. Sekolah bahaya penyebaran korona tak dihiraukan. Demi membantu mereka yang sangat membutuhkan.

Di sisi lain, berbagai aksi kerelawanan ini merupakan hal yang baik. Bahwa budaya bangsa kita sebagai bangsa timur yang gemar menolong dengan masih kental. Tidak bisa adang oleh korona sekalipun. Namun, di sisi lain para relawan juga harus berhati-hati karena siapapun bisa terpapar dengan korona ini. Karena itu, dalam melaksanakan tugasnya harus dilakukan dengan disiplin protokol pencegahan seperti menggunakan masker, sarung tangan, mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer.

Bangsa Indonesia memang terkenal dengan budaya suka menolong. Charities Aid Foundation melalui World Giving Index 2018 menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di antara 144 negara lainnya. Dalam survei tersebut terdapat tiga poin penilaian yaitu memberikan sumbangan kepada orang lain, mendonasikan uang, dan orang-orang yang menjadi sukarelawan.

Dalam penanganan Covid-19, pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merekrut relawan. Sebanyak 5.816 orang telah mendaftarkan dirinya sebagai relawan COVID-19 (www.bnpb.go.id).

Rasa kemanusiaan kita terketuk. Semua elemen bangsa bersatu padu melawan Covid-19 tanpa memandang suku atau agama. Solidaritas tanpa batas ini misalnya ditunjukkan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi yang memberikan bantuan 1.900 alat Rapid Test Corona kepada pemerintah kota Padang.

Kekhawatiran kita terhadap bahaya Covid-19 jangan sampai menghilangkan rasa kemanusiaan kita. Tidak ada musibah yang lebih berbahaya dari hilangnya rasa kemanusiaan kita. Salah satunya adalah mementingkan diri sendiri tanpa mengindahkan nasib orang lain. Panic buying dan menimbun barang merupakan perbuatan yang tidak bisa dibenarkan oleh akal sehat.

Justru virus yang tidak kelihatan mata ini harusnya memantik persaudaraan kita. Perlulah kiranya kita melihat masyarakat di banyak daerah pinggiran atau kampung-kampung yang tetap menjalin silaturahmi.

Maka sangat disayangkan jika ada ketakutan berlebihan tanpa dasar yang benar. Misalnya mengucilkan atau mengusir orang dalam pemantauan (ODP) atau pasien dalam pengawasan (PDP). Yang penting adalah tetap menjaga jarak. Namun, kita tetap berinteraksi dengan mereka. Ingatlah jargon lama jauhi penyakitnya, bukan orangnya.

Justru mereka harus kita dukung untuk memeriksakan diri atau dirawat hingga bebas dari dugaan terkena Covid-19. Semoga kita senantiasa bijaksana menyikapi banyak hal termasuk dalam kondisi pegebluk ini. Aamiin. (*)

Komentar

News Feed