Mengungkap Tembakau Primadona di Madura, Akui Tidak Pernah Kenal Harga Anjlok

News158 views

KABARMADURA.ID | Dulu orang Madura berangkat haji, membangun rumah, membeli kendaraan, dan menyekolahkan anaknya, bergantung pada hasil panen tembakau. Tanaman yang dikenal dengan daun candu itu menjadi primadona sehingga dijuluki sebagai Daun Emas. Namun, kini berbeda, jeritan petani menggambarkan bahwa julukan itu sudah tidak pas lagi, lantaran harganya sudah tidak berpihak pada petani alias anjlok.

MOH RAZIN, SUMENEP 

Tembakau sudah tidak seberharga dulu. Itu yang selalu menjadi pokok perbincangan di setiap sudut warung kopi di Madura. Namun, hal itu tidak berlaku bagi petani di Kecamatan Pasongsongan yang terkumpul dalam Komunitas Tembakau Montorna (KTM). Harga tembakau milik mereka laku dengan harga tinggi, bahkan jauh melebihi harga standar tembakau Madura.

Baca Juga:  Fasilitasi Studi Wawasan Mahasiswa KPI, K-TV Berikan Pengalaman Produksi secara Profesional

Mereka mengaku memiliki cara tersendiri untuk tetap bisa menjaga kualitas hasil panen tembakau. Sehingga, harga tembakau milik mereka bisa laku hampir Rp400.000,- per kilogram.

“Ada ilmu dan cara tersendiri untuk menjaga kualitas itu. Misalnya kapan mau memulai membajak lahan itu juga ada waktunya,” kata salah seorang anggota KTM, Moh. Rasul, kepada Kabar Madura, Minggu (6/8/2023).

Sehingga meski petani di daerah lain mengeluh terkait harga tembakau tidak bersahabat, mereka justru untung besar setiap tahunnya. Rasul bercerita, keberadaan tembakau Montornah ini tidak banyak diketahui masyarakat, namun sebagian pabrik rokok sudah mengetahuinya. 

“Masyarakat hanya mengenalnya tembakau desa sebelah, yakni Desa Prancak. Padahal, kami juga punya tembakau terbaik. Tetapi prosesnya memang harus telaten,” jelasnya. 

Baca Juga:  Wawan “Spiderwan” Persembahkan Enam Clean Sheet saat Bekuk PSM Makassar

Menurut dia, tidak semua tanah bisa menghasilkan tembakau tersebut, hanya beberapa daerah saja. Tetapi, pasti setiap tahun tembakau dengan kualitas terbaik itu diproduksi oleh masyarakat setempat.

Tembakau primadona ini biasanya dijadikan hidangan bagi-bagi tamu istimewa. Kalau zaman dulu disajikan kepada raja-raja Sumenep dan tamu kerjaan dari luar Madura.

“Kami biasanya menjual mulai harga Rp350 ribu sampai Rp400 ribu per satu kilo (kilogram, red),” imbuh Rasul. 

Dia berharap, para petani tembakau di Madura, khususnya Sumenep, kembali berjaya, seperti beberapa tahun lalu. Artinya, hasilnya tidak hanya cukup untuk ganti modal, melainkan juga bisa disimpan untuk kesejahteraan petani. 

Redaktur: Sule Sulaiman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *