Mengunjungi Warga Desa Paterongan Kecamatan Galis Bangkalan, Ahli Besi, Optimalkan Pengembangan Kualitas Produk

  • Whatsapp
(FOTO: SHOFI FOR KM) KREATIF: Mayoritas warga Desa Paterongan Kecamatan Galis Bangkalan pandai di bidang kerajinan besi

KABARMADURA.ID | Aktivitas dan profesi warga di Desa Paterongan Kecamatan Galis Bangkalan, sejak dulu sudah tidak terpisahkan dari bakat pandai besinya. Meskipun bakat tersebut tidak mengalir pada setiap penduduk, mayoritas kerajinan pandai besi, seperti pisau rumah tangga, celurit, atau kerajinan yang memiliki bahan dasar besi berasal dari desa kecil tersebut.

HELMI YAHYA, BANGKALAN

Bahkan, Desa Paterongan yang memang dikenal dengan hasil pandai besinya patut dijadikan sebagai wisata edukasi untuk siswa dan juga masyarakat dari kecamatan lain. Selain kualitasnya memang bagus, bahan yang digunakan juga tidak sembarangan, perlu ada seleksi dan kriteria. Sehingga hasil yang diharapkan sesuai dengan keinginan pemesan.

Bagi para pandai besi, keahliannya untuk membuat kerajinan tangan dari besi sudah diturunkan oleh leluhurnya sejak dahulu. Awalnya memang hanya untuk membuat alat kebutuhan sehari-hari, hingga terus dikembangkan dan mampu menjadi profesi yang menjanjikan. Bahkan mencukupi untuk menghidupi keluarga.

Selain itu, pada proses perkembangannya juga harus mengikuti zaman. Sehingga para pandai besi selalu berusaha dan belajar meningkatkan kualitas dengan sesuatu yang lebih baru. Sehingga sempat lolos mengajukan studi banding untuk belajar tentang pandai besi di luar Madura.

“Saat kami melakukan studi banding awal tahun 2021 lalu, kami tahu bahwa hasil pandai besi dari kami masih terlalu biasa  dan tidak bisa bersaing di pasar yang lebih besar,” ujar Moh Shofi saat menceritakan pengalamannya usai mengetahui dunia pandai besi di luar Kecamatan Galis, Selasa (9/11/2021).

Menurutnya, bahan dasar para pandai besi hanya terbatas pada besi tua. Kemudian disulap menjadi pisau, pedang, celurit dan beberapa alat-alat rumah tangga lainnya. Sedangkan di luar sana, besi hanya menjadi bahan yang minim peminat atau terbatas penjualannya untuk kebutuhan rumah tangga dan juga pekerjaan kebun.

“Di luar, saya liat sudah pakai baja, bahkan baja hitam, yang nilainya tinggi dan mahal jika berhasil didapatkan oleh para penyukanya,” ucapnya.

Sehingga usai mendapatkan pengalaman tersebut, dirinya juga memaksimalkan bakat untuk membuat berbagai barang jenis pisau dengan baja. Sehingga hasilnya bisa dijual lebih luas, bahkan juga melalui media sosial (medsos) dan jasa E-commerce. “Kami harus memperluas dan memperbagus lagi karya. Karena di luar kami sudah tertinggal jauh,” paparnya.

Usai memahami proses pembuatan dengan bahan dasar baja, dirinya juga menambahkan berbagai ukiran atau kaligrafi arab. Sehingga bisa menambah nilai jual belati, atau pisau yang akan diperdagangkan. “Kami ingin agar desa kami ini tidak mati dan senantiasa selalu dikenal oleh pengrajin pandai besi yang bagus,” jelasnya.

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *