Menilik Eksistensi Maiyah Jhember Ate di Sampang, Komparasikan Pemikiran Mbah Nun dengan Berbagai Tokoh

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FATHOR RAHMAN) RUTIN: Komunitas Maiyah Cak Nun melakukan pertemuan rutin dan merayakan setahun pembentukan Maiyah Jhember Ate di Sampang

KABARMADURA.ID |  Komunitas Maiyah Cak Nun Jhember Ate di Sampang makin banyak anggotanya. Sejak setahun dibentuk, telah bergabung sejumlah kiai, pegiat seni dan sejumlah kalangan lainnya.

FATHOR RAHMAN, SAMPANG

Maiyah Jhember Ate dibentuk 17 November 2020. Bertepatan dengan tanggal 1 Robiul Awal. Salah satu pendiri maiyah di Sampang adalah Kiai Muzammil.

Komunitas Maiyah Cak Nun hampir berdiri di seluruh Indonesia. Sementara di Madura dibentuk pertama kali di Sumenep dengan nama Maiyah Dhemar Ate pada tahun 2018. Selanjutnya pada tahun 2019 didirikan Maiyah Paddheng Ate. Maiyah pertama didirikan di Jombang.

Anggota Maiyah-Cak Nun Jhember Ate Sampang, Fauzi Ballah mengungkapkan, ada lima pendiri yang tercatat sebagai pengetus Maiyah di Sampang. Sampai saat ini kelompok tersebut tetap eksis.

“Sudah satu tahun berdiri Maiyah di Sampang. Minggu kemarin kami merayakan hari berdirinya Maiyah Jhember Ate,”  alumnus Unesa Surabaya itu.

Selama ini, mereka menggelar pertemuan rutin saban Jum’at malam Sabtu. Pertemuan bulanan juga diagendakan. Setiap pertemuan, diadakan diskusi. Temanya beragam, namun, rujukan pembahasan adalah pemikiran Cak Nun atau MH Ainun Najib, seorang budayawan asal Jombang.

Namun tidak hanya pemikiran Cak Nun, kata budayawan muda ini, beberapa pemikiran tokoh lain juga menjadi rujukan. Itulah yang membuat temanya beragam, mulai puisi, politik dan banyak hal lainnya.

“Tapi kami juga komparasikan dengan pemikiran Mbah Nun,” ucap Ballah.

“Kenapa Maiyah identik dengan Cak Nun, karena rujukan kita adalah pemikiran Cak Nun, ” imbuh pria yang juga dikenali sebagai penyair ini.

Redaktur: Wawan A. Husna

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *