oleh

Menilik Pendidikan di Wilayah Pesisir  

Kita tidak bisa mengelak lagi bahwa pendidikan merupakan problema lama di negeri ini, terlebih di masa pandemi COVID-19 seperti hari ini dimana perekonomian sedang turun dan pendidikan anak-anak harus terus berlangsung. Lantas bagaimana dengan anak-anak yang ada dan tidak adanya pandemi sudah kesulitan mengakses pendidikan, maka melalui buku ini kita akan turut merasakan bagaimana kondisi pendidikan di daerah pesisir yang masih terbilang sulit.

Penulis yang sekaligus pegawai magang di salah satu perguruan tinggi di Sumatera Selatan, empat tahun yang lalu memutuskan mengikuti seleksi sekolah lapang nelayan BPSDM-KP KementerianKelautanPerikananRepublik Indonesia. Dan tanpa disangka penulis dinyatakan lolos dan ditempatkan di wilayah pesisir yakni di Dungkek, Sumenep, Jawa Timur selama 10 bulan.

Dari perjalanannya, penulis berhasil menggambarkan bagaimana keindahan pantai dan kegiatan masyarakat pesisir di dalam buku ini dengan sangat lugas dan puitis sehingga pembaca seolah turut hadir di tengah-tengah cerita, seperti bagaimana anak-anak bermain di bibir pantai juga para nelayan yangpulang berlayar membawa hasil tangkapan.

Selain itu tentu pesan-pesan yang akan disampaikan oleh penulis juga sampai kepada pembaca. Sebab tak hanya asal berangkat saja, para peserta tentu telah dibekali materi terlebih dahulu yakni salah satunya dengan membawa bekal yang terbilang tidak mudah, sesuai pembukaan UUD 1945 yakni Mencerdaskankehidupanbangsa.

Masalah pendidikan di Dungkek bisa dibilang cukup memprihatinkan, dimana menjadi seorang guru belum mendapatkan gaji yang layak. Jangankan mendapatkan gaji, para guru di sana bahkan tidak berani meminta karena mengetahui kondisi perekonomian keluarga yang hanya pas-pasan saja bahkan sampai kekurangan. Biasanya beberapa wali dari anak didik yang menjadi seorang petani akan membawa beras untuk membayar, ada juga yang membawa pakaian layak untuk dijadikan seragam guru. Selain itu, fasilitas sekolah juga kurang memadai dan sarana-prasarana masih belum maksimal.

Tak sampai di sana, tingkat pendidikan di Dungkek juga masih rendah, pernikahan anak di bawah umur masih tinggi dan pendidikan anak-anak belum menjadi prioritas orang tua. Anak-anakpesisirkebanyakankurangperhatiandariorangtuanya. Mungkin lain pesisir lain pula ombaknya. Ayahnyapagi-pagisekalisudahmelaut, ibunya pun begitu, sekadarmenyiapkansarapandanlangsungbekerja di tempatpengolahankerupukikan. Semuainidilakukan demi lembaran rupiah sebagaibekalpenyambunghidupdansekolah sang buahhati (Hal.43).

Melalui program sekolah lapang nelayan ini penulis berharap pendidikan di wilayah pesisir pada umumnya dan di Dungkek pada khususnya agar lebih diperhatikan lagi, terlebih Indonesia merupakan negeri bahari maka sudah seharusnya kita mampu memperkuat pondasi pendidikan sehingga dapat mengangkat anak-anak dari buta huruf dan dari pernikahan dini.

Dengan adanya program sekolah lapang ini, pendidikan di Dungkek juga sedikit terbantu sebab penulis dan teman-teman membantu beberapa kegiatan pembelajaran, seperti pembelajaran di beberapa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), pembelajaran di PAUD, memberikan les kepada beberapa anak PAUD dan SD, juga yang tak kalah penting adalah membantu pembelajaran keterampilan di bidang budidaya untuk bapak-bapak dan pengolahan untuk ibu-ibu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Dungkek.

JudulBuku                   : GarisPantai (SepenggalKisahPengajar di Pesisir Madura)

Penulis                         : TriayuRahmadiah

Penerbit                       : Guepedia Publisher

ISBN                           : 978-623-229-113-3

TahunTerbit                 : 2019

Jumlah Halaman          : 65 Halaman

Ana Khasanah. Lahir di Kebumen, 13 November 1996. Alumni SMK VIP Al-Huda Kebumen, Jawa Tengah dan saat ini berdomisili di kota kelahirannya. Beberapa cerpennya terbit di media masa seperti radar Banyumas dan Iqra.id. No. HP 089673679821 No.Rekening BRI 672201011004532 an. UswatunKhasanah.

Komentar

News Feed