oleh

Meningkatkan Mutu Pendidikan lewat Program “Organisasi Penggerak”

Oleh Sam Edy Yuswanto*

Disadari atau tidak, selama ini sekolah menjadi tempat yang kurang menyenangkan bagi sebagian peserta didik. Mengapa ini bisa terjadi? Berdasarkan hasil pengamatan saya, salah satu faktornya karena sistem belajar dan belajar yang berjalan selama ini terlalu kaku (saklek), terlalu terpancang pada materi yang ada di berbagai buku mata pelajaran, dan kurang adanya inovasi dari pihak sekolah.

Belum lagi cara mengajar sebagian guru yang mungkin terlalu monoton (guru berbicara dan siswa harus aktif mendengarkan) sehingga menyebabkan murid merasa jenuh dan kurang bisa menangkap apa yang disampaikan oleh gurunya. Belum lagi Pekerjaaan Rumah (PR) yang seolah tiada habisnya, membuat para murid merasa capek dan pusing dibuatnya.

Tugas seorang guru tentu tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja kepada para peserta didiknya. Tapi lebih dari itu. Sebenarnya, apa saja tugas seorang guru? Terkait hal ini, ada ulasan menarik yang saya temukan dalam buku Great Teacher (2016) karya Jamal Ma’mur Asmani. Ia menjelaskan bahwa ada empat fungsi dan tugas guru, yakni sebagai educator (pendidik), leader (pemimpin), fasilitator, dan motivator.

Dalam buku tersebut, penulis juga memamparkan keempat tugas dan fungsi guru secara panjang lebar. Pertama, guru sebagai educator (pendidik). Sebagai seorang educator, ilmu menjadi syarat utama. Membaca, menulis, berdiskusi, mengikuti informasi, dan responsif terhadap masalah kekinian sangat menunjang peningkatan kualitas keilmuan seorang guru. Kedua, guru sebagai leader (pemimpin). Artinya, ia adalah pemimpin di kelas yang harus mampu menguasai, mengendalikan, dan mengarahkan kelas menuju tercapainya tujuan pembelajaran yang berkualitas. Ia harus mengedepankan musyawarah dengan murid-muridnya untuk mencapai kesepakatan bersama agar dihargai semua pihak.

Ketiga, guru sebagai fasilitator bertugas memfasilitasi murid untuk menemukan dan mengembangkan bakatnya secara pesat. Keempat, guru juga harus bisa menjadi motivator bagi muridnya. Guru harus berusaha membangkitkan semangat dan mengubur kelemahan murid tanpa memandang latar belakang keluarga, masa lalu yang kelam, dan lain sebagainya. Guru perlu membiasakan diri membaca buku tentang kisah orang-orang sukses untuk kemudian dikisahkan kembali kepada murid-muridnya agar mereka termotivasi dan lebih bersemangat dalam belajar dan menggapai cita-citanya.

Program “Merdeka Belajar” yang Mencerahkan

Ada kabar mencerahkan bagi dunia pendidikan di negeri ini. Nadiem Makarim, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tengah menggalakkan program “Merdeka Belajar” yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas para guru dan juga kualitas belajar para peserta didik, agar mereka dapat belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dan membahagiakan.

Selama ini Ujian Nasional (UN) menjadi semacam momok menakutkan yang harus dihadapi oleh para murid dan juga orangtua (wali murid). Nah, dalam konsep “Merdeka Belajar” yang digagas oleh Mendikbud tersebut, UN akan dihapuskan dan diganti dengan program lain, yakni Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter yang terdiri kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter. Rencananya, UN tahun 2020 adalah yang terakhir, dan tahun 2021 program baru pengganti UN tersebut baru akan diterapkan (Kompas.com, 14/12/2019).

Pada bulan Maret ini, konsep Merdeka Belajar gagasan Nadiem Makarim telah sampai pada tahap ke-4 dengan meluncurkan program “Organisasi Penggerak”. Hal ini sebagaimana diuraikan oleh Rahel Narda Chaterine (Detiknews, 10/03/2020) bahwa Kemendikbud meluncurkan “Program Organisasi Penggerak” dengan tujuan untuk menggerakkan sekolah-sekolah dalam meningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Kemendikbud akan melibatkan organisasi masyarakat (ormas) dalam mengembangkan mutu pendidikan di negeri tercinta kita ini. Tentu saja pemerintah juga akan menyediakan dana bagi organisasi yang telah bergabung dalam program tersebut.

Terkait dasar hukum dari Program Organisasi Penggerak tersebut, Kemendikbud berpedoman pada: peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 32 Tahun 2019 tentang Pedoman Umum Penyaluran Bantuan Pemerintah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; dan peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Bantuan Pemerintah untuk Pengembangan Mutu Guru dan Tenaga Kependidikan.

Sasaran dari program ini, sebagaimana diuraikan oleh Kemendikbud adalah semua kabupaten/kota di Indonesia. Namun Kemendikbud mendorong persebaran merata daerah sasaran program secara nasional dengan pertimbangan sebagai berikut: pertama, keterwakilan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T); kedua, keterwakilan daerah perkotaan dan pedesaan; ketiga, keterwakilan daerah dengan beragam kondisi geografis.

Pada akhirnya, sebagai masyarakat umum, saya tentu berusaha mendukung program Mendikbud yang ingin menciptakan suasana belajarn yang lebih menyenangkan dan membahagiakan para murid di sekolah-sekolah. Semoga tujuan mulia Kemendikbud dapat tercapai dan segala persoalan yang menjadi penghalang program tersebut dapat segera dicarikan solusi terbaiknya bersama-sama.

***

*Penulis adalah alumnus STAINU, Fak. Tarbiyah Kebumen.

Pengalaman menulis: Ratusan tulisannya tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional, antara lain: Seputar Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Koran Jakarta, Kompas, Jateng Pos, Radar Banyumas, Koran Pendidikan, Merapi, Minggu Pagi, Analisa, Pontianak Post, Sumut Pos, Malang Post, Surabaya Post, Radar Surabaya, Serambi Ummah, Kartini, Cempaka, Majalah Luar Biasa, Nova, Sabili, Rindang, Potret, Story, Berdi, Basis, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, dll.

Komentar

News Feed