Menjadi Dosen Bermutu

  • Whatsapp

(Catatan untuk Akademisi Alumni PMII)

Oleh: Mohammad Suhaidi*)

Dosen merupakan salah satu unsur penting dari civitas akademika dalam sebuah perguruan tinggi . Keberadaannya tentu saja sangat strategis, karena dosen menjadi ujung tombak dalam menghasilkan alumni yang bermutu, minimal menjadi alumni yang bebas dari stempel “pengangguran terdidik”, sehingga bisa memainkan peran penting dalam dinamika sosial masyarakat modern yang mashur dengan pergulatan pasar bebas. Maka, wawasan, keterampilan dan skill alumni perguruan tinggi  menjadi sesuatu yang harus dipertaruhkan, antara menjadi penakluk atau bahkan sebaliknya menjadi pihak yang ditaklukkan oleh kehidupan ganas, seperti yang dibawa oleh kebijakan MEA saat ini.

Banyak alumni PMII yang memilih jalan hidup menjadi dosen, baik di kampus negeri maupun kampus swasta. Sebuah pilihan yang cukup berani, karena menjadi dosen (akademisi) bukan hanya sekedar mengajar mahasiswa, tetapi juga harus menjadi teladan yang baik dalam melaksanakan penelitian dan pengabdian. Hal itu merupakan bagian dari semangat liyundziru qoumahum idza roja’u ilaihim, karena setelah belajar di PMII dan Perguruan tinggi , para alumni memiliki tanggung jawab untuk membangun masyarakat sesuai dengan posisi dan keilmuan masing-masing. Menjadi dosen tentu saja menjadi bagian dari salah satu upaya membangun masyarakat secara utuh melalui perguruan tinggi , sebagai pusat perjuangan dan pengabdiannya.

Sejatinya, tugas dosen menjadi sangat berat, apabila logika berfikir semacam itu yang digunakan. Tidak heran, apabila dosen pada gilirannnya dianggap sebagai pendidik profesional dengan segala tanggung jawab yang dibebankan. Bahkan, dosen seringkali disebut sebagai seorang ilmuwan yang mentransormasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Itulah yang membedakan posisi dosen dengan guru, sebagaimana ditegaskan dalam UU Nomor 14 Tahun 2015 tentang Guru dan Dosen. Menurut UU ini, guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Perbedaan tugas utama tersebut, secara tersurat menjelaskan bahwa dalam derajat tertentu, posisi dosen jauh lebih kompleks dibandingkan dengan tugas seorang guru, sehingga keberadaan dosen menjadi sangat urgen dalam membumikan ilmu pengetahuan di tengah-tengah masyarakat. Dosen bahkan menjadi imam intelektual yang bertugas mengarahkan makmum-makmum intelektual (baca: mahasiswa) agar dikemudian hari bisa menjadi pelopor ilmu pengetahuan, seni, dan teknologi.

Tanpa dosen, keberadaan perguruan tinggi  hanya akan menjadi bangunan yang tidak akan pernah bergerak dinamis. Dosenlah yang menjadi penggerak kemajuan sebuah perguruan tinggi . Maka, mutu dosen tentu saja menjadi garansi: maju dan tidaknya sebuah perguruan tinggi. Semakin meningkat mutu SDM dosen, secara otomatis akan memberikan maslahah yang besar terhadap marwah perguruan tinggi di tengah-tengah masyarakat. Demikian pula sebaliknya, semakin tidak bermutu SDM dosen, maka pada saat itulah, sebuah perguruan tinggi  akan menghadapi masalah yang sangat krusial. Salah masalah yang akan dihadapi terletak pada ancaman nyata, yaitu gagal akreditasi dengan nilai yang tidak memuaskan.

Dosen Bermutu, Dosen Ber-Tridharma

            Sebagai salah satu penopang perguruan tinggi, mutu dosen menjadi sangat vital. Tak ada prguruan tinggi yang unggul, tanpa didukung dengan mutu dosen yang kuat. Menurut hemat penulis, salah satu indikator dosen bermutu terletak pada komitmen dalam melaksanakan kegiatan Tridharma perguruan tinggi  yang telah digariskan. Mengamalkan Tridharma dengan serius dan maksimal bagi seorang dosen menjadi kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan, karena meninggalkan kegiatan Tridharma sama saja dengan telah mengamputasi tugas utama yang dibebankan.

Dalam katerkaitan itu, dosen bermutu pasti dosen yang memiliki konsistensi dalam menjaga profesionalisme yang digeluti. Menjadi dosen, berarti berprofesi sebagai dosen yang harus ditekuni dengan segala hal yang terkandung di dalamnya. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Bab I, Pasal 1, Ayat 2 : “profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi

Menurut M. Ihsan Dacholfany, dalam sebuah tulisannya “Peningkatan Kompetensi Dosen Mejadi Profesional dan Ilmuwan” menyebutkan, secara umum terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mewujudkan dosen yang profesional (penulis memaknai juga: bermutu), antara lain; melaksanakan kegiatan Tridharma perguruan tinggi, menempuh studi lanjut (S2/S3), budaya baca (menambah ilmu baru dan informasi mutakhir), menciptakan iklim akademik dan budaya imliah, mengikuti berbagai forum ilmiah (seperti diskusi, seminar, baik sebagai penyaji, moderator maupun sebagai peserta), membiasakan menulis makalah, artikel di jurnal, majalah ilmiah, media massa maupun buku teks), sehingga mampu mengaplikasikan ilmu, menambah buku perpustakaan pribadi, dan menjadi pengurus atau anggota organisasi profesi sesuai dengan disiplin keilmuannya.

Komitmen dalam melaksanakan Tridharma tersebut tentu saja menjadi indikator terhadap mutu seseorang dalam menekuni profesi sebagai dosen. Dengan mutu, seorang dosen akan benar-benar akan tampil sebagai seorang elit intelektual yang dapat memberikan maslahah terhadap reputasi perguruan tinggi  yang menjadi tempatnya bekerja. Hal itu juga yang ditegaskan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir, saat memberikan pembekalan terhadap 2000 mahasiswa Pascasarjana Penerima BUDI, di gedung Graha Shaba, Yogjakarta, pada 7 Oktober 2016. Ia mengatakan : “kualitas dosen menentukan mutu pendidikan tinggi”.

Bahkan, dengan mutu yang jelas, dosen akan dapat meningkatkan kualitas hidupnya, bukan hanya dari sisi wawasan keilmuan, tetapi juga kualitas ekonomi yang dijalani. Maka, meminjam istilah Ihsan Dacholfany, julukan dosen sebagai golongan “ELIT” alias “Ekonomi Sulit” atau stigma negatif ketika “DOSEN” harus dipelesetkan menjadi “Kerjaannya Satu Dos, Gaji Satu Sen” akan terhindari, karena dosen bermutu akan memiliki harapan hidup yang lebih cerah. Tidak hanya mengandalkan gaji mengajar, tetapi juga bisa memanfaatkan peluang-peluang lain (dalam konteks Tridharma) sebagai sumber rejeki yang halal dan menghalalkan. Apalagi, seseorang yang kereatif, terampil dan bermutu (dalam bahasa al-Qur’an disebut “Utul Ilma”) akan mendapatkan derajat yang tinggi. Sebagai dampak dari derajat tersebut, insya Allah akan mendapatkan jatah wa yarzughu min haisu la yahtasib

Dalam konteks itu, alumni PMII yang telah menjadi dosen, dapat memastikan posisinya untuk menjadi dosen yang sebenarnya dengan menjadikan Tridharma sebagai kegiatan pokok yang tidak pernah terlupakan. Mengajar, meneliti dan mengabdi kepada masyarakat dengan tetap mengacu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, harus menjadi agenda perjuangan yang tidak akan terputus, sebagaimana telah diajarkan dalam proses pengkaderan di PMII. Dosen alumni PMII harus menjadi simbol kemajuan intelektual di setiap kampus yang menjadi tempat pengabdiannya. Kontribusi keilmuan yang maksimal terhadap kampus, haruslah dijadikan sebagai indikator bahwa ia telah benar-benar menjadi dosen yang baik. Akhirnya, marilah sebagai dosen alumni PMII selalu teriakkan dengan lantang “Sekali Bendera Dikibarkan Hentikan Ratapan dan Tangisan. Tangan Terkepal dan Maju ke Muka”.

*)Penulis adalah Alumni PMII dan Dosen STKIP PGRI Sumenep

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *