oleh

Menjadi Pemimpin Sejati

Peresensi         : Supadilah (Guru SMAT Al-Qudwah)

 

Pesta demokrasi berupa pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun 2020 sebentar lagi akan digelar. Meskipun kondisi sedang dilanda pandemi akibat Covid-19, pemungutan suara akan tetap dilanjutkan. Pilkada 2020 dijadwalkan Desember 2020. Sebanyak 270 daerah dengan rincian 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota yang akan menggelar pilkada serentak.

Mengapa pilkada tetap digelar meskipun dikhawatirkan akan berpotensi akan menjadi lonjakan kasus penyebaran Covid-19? Padahal beberapa kegiatan atau iven justru dihentikan atau mengalami penyesuaian akibat pandemi Covid-19. Misalnya sekolah yang berubah menjadi pembelajaran jarak jauh atau belajar dari rumah (BDR). Atau liga sepakbola di Indonesia yang juga dihentikan.

Mengapa politik mendapatkan tempat yang lebih istimewa? Benarkah agar proses demokrasi ini terus berjalan? Apa bukan karena syahwat politik yang lebih dikedepankan? Apakah suksesi pemimpin tak bisa ditawar meski kondisi yang rawan?

Syahwat memimpin atau syahwat menjadi pejabat?

Terlepas dari itu semua, buku ini memberikan pandangan berbeda tentang konsep kepemimpinan. Banyak orang yang berlomba-lomba menjadi pemimpin (atau pejabat). Bahkan mereka rela mengeluarkan uang tak sedikit untuk menjadi pemimpin. Bahkan pada pilkada kabupaten/kota satu calon bisa menghabiskan 2-5 miliar rupiah.

Padahal seorang pejabat bisa jadi bukan seorang pemimpin. Sebaliknya, banyak seorang pemimpin walaupun dia bukan seorang pejabat. Bagaimana filosofi Memimpin Tanpa Jabatan? Lewat kisah Blake, Tommy, dan Anna Robin Sharma menggambarkan konsep kepemimpinan yang terangkum dalam IMAGE yaitu Innovation (inovasi), Mastery (menguasai), Authenticity (autentisitas), Guts (naluri), dan Ethics (Etika).

Menguasai berarti berkomitmen menjadi pakar di bidang kita. Menguasai pekerjaan utama kita. Dan menjadi sangat hebat sampai orang tak bisa mengabaikanmu. Dengan ini kita bisa menjadi PUTS, yaitu Pertama, Utama,  Satu-satunya dan Terbaik.

dan bukannya mengaku salah karena gagal berusaha maksimal mereka mencari alasan dengan menuding atasan suasana kompetitif industri rekan kerja atau kondisi penuh gejolak.

Inovasi selalu lebih baik daripada mengulang yang pernah berhasil pada masa lalu (hlm 79). Jangan takut mendobrak rutinitas. Menguasai sesuatu butuh waktu, usaha dan kesabaran. Tanpa itu, kita akan gagal. Terlalu banyak orang tak mampu berkomitmen atau menyerah terlalu dini lalu mereka tak akan pernah menguasai di bidangnya.

Autentik atau autentisitas berarti merasa sangat aman sebagai diri sendiri. Belajar percaya diri dan berani menjadi diri sendiri dalam segala situasi. Autentik adalah sikap jujur konsisten dan kongruen sehingga kepribadian tercermin lewat sikap. Karena kepemimpinan sering menuntut kita meyakini diri sendiri saat orang yang tidak.

“Penilaian masyarakat tak penting bagiku, Blake. Yang paling penting adalah cara pandangku kepada diri sendiri. Aku tahu siapa diriku. Kutemukan cara untuk menantang diri setiap hari.” (hlm 64)

Sementara, naluri untuk menjadi pemimpin adalah harus gigih dan menjadi pemberani. Keberanian yang harus melebihi orang biasa. Menghadapi risikonya lebih dari orang biasa. Mengabaikan iri sebab iri adalah sanjungan orang biasa kepada orang hebat.  Etika juga harus menjadi yang utama bagi seorang pemimpin. Ini yang sering dilupakan. Sebab, kebanyakan orang mementingkan diri sendiri.

“Kepribadianmu selalu mempengaruhi hidupmu” (hlm 151). 80 persen keberhasilan ditentukan 20 persen aktivitas. Karena itu sangat penting untuk fokus melakukan kegiatan yang mendekatkan pada keberhasilan.

Berbagai hal hebat ditemukan dalam buku ini. Akan membuka mata kita tentang konsep kepemimpinan. Filosofi Memimpin Tanpa Jabatan juga memuat kalimat motivasi dosis tinggi yang akan membuat hidup kita ‘terbakar’. Dengan cara penyampaian yang unik dan berbagai metafora Robin Sharma membangkitkan untuk menjadi seorang pemimpin. Dengan memahami buku ini maka tidak masalah seseorang punya jabatan atau tidak. Menghindarkan seseorang dari kemaruk jabatan.

Judul                : The Leader Who Had No Title (Seni Memimpin Tanpa Jabatan)

Penulis             : Robin Sharma

Penerbit          : Penerbit Bentang

Cetakan           : 2019

Tebal               : xi+262 halaman

ISBN                 : 978-602-291-506-5

Komentar

News Feed