Menjadi Penderita Anemia Aplastik yang Bahagia

  • Whatsapp

Peresensi         : Reni Asih Widiyastuti

Alumni SMK Muhammadiyah 1

Semarang

Anemia aplastik adalah sebuah penyakit kelainan darah langka yang disebabkan oleh kegagalan sumsum tulang untuk memproduksi salah satu atau seluruh sel darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih dan platelet. Mereka yang mengidap penyakit ini biasanya memiliki keluhan, seperti: mudah mengantuk, lemas, merasa lemah, pucat, pusing, sesak napas dan jantung berdebar-debar.

Tegar, dalam novel ini adalah salah satu pemuda yang dipilih oleh Tuhan untuk berjuang melawan penyakit itu. Pertemuannya dengan Nuri telah membawa perubahan besar dalam hidupnya. Ia menjadi seorang pemuda yang kuat meski berulang kali mendapatkan perlakuan tidak baik. Bahkan dibully dan sempat mengalami pengeroyokan. Tapi ia bangkit dan tidak menyerah. Sebab diam-diam ada cahaya jiwa yang selalu mengiringi langkahnya. Dan itu sudah membuatnya bahagia.

Begitu juga dengan Nuri. Ia yang berkepribadian santun dan sangat menjaga sikap ini memang sejak awal sangat mengagumi sosok Tegar. Rasa kagum itu terus menjalar dalam hatinya hingga berubah menjadi cinta. Tapi ia senantiasa memendam perasaan itu sebelum menikah. Baginya, menjadi sahabat untuk Tegar sudah lebih dari cukup, meskipun kelak mungkin ia akan mati dalam keadaan syahid karena memendam cinta.

Novel yang mengusung tema cinta remaja islami karya Nuri Thakya ini sangat cocok dijadikan bahan bacaan sekaligus perenungan. Penulis dengan lincah menceritakan kisah Tegar dan Nuri sebagai dua remaja yang mampu menjaga sikap dan baik akhlaknya. Sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam pergaulan yang menyesatkan. Beberapa kalimat bernuansa islami juga turut menjadi penghias novel, membuat pembaca merasakan kesejukan saat menikmati lembar demi lembar. Ada pula penggalan ayat kursi yang memang dipercaya sanggup mengusir rasa takut dalan diri seseorang.

Secara keseluruhan, novel ini sangat menyentuh dengan kalimat dan diksi-diksi indah. Terlebih penulis juga menyuguhkan dialek sunda yang merupakan salah satu ciri khas karya penulis Indonesia, yaitu mengangkat tema lokalitas. Sebagai pelengkap untuk mempermanis cerita adalah dengan adanya penggalan puisi sebagai berikut:

Bolehkah kutiupkan rindu ke rongga dadamu?

Sebab, bentuk rindu ini serupa nada merdu jantungmu

Pun wujud cinta ialah laksana napasmu (Hal. 195)

Meskipun ada beberapa kalimat yang menurut saya terkesan hiperbola, namun mungkin itulah ciri khas si penulis. Pada akhirnya, novel ini tetap asyik dinikmati di waktu senggang. Selain itu juga, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa menjadi penderita anemia aplastik juga berhak bahagia. Jangan justru terpuruk dalam kesedihan.

Semarang,  18 November 2019

 

Reni Asih Widiyastutiialah penulis asal Semarang, Alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang. Salah satu bukunya telah terbit, yaitu Pagi untuk Sam. Penulis bisa dihubungi melalui email; reniasih17@gmail.com

Judul               : Cahaya untuk Tegar

Penulis             : Nuri Thakya

Penerbit           : CV. Jejak

Cetakan           : Pertama, Juli 2019

Tebal               : 322 halaman

ISBN               : 978-602-474-914-9

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *