oleh

Menjawab Kegelisahan Para Seniman

Oleh Purwo Mawasdi *

“Selama ini, kita terlampau sibuk menertawakan orang lain,sampai-sampai kita lupa bahwa kita sendirilah yang sebenarnya lucu dan kocak.”(Arswendo Atmowiloto) 

Polemik dan perseteruan para sastrawan dan budayawan Indonesia nampaknya tak pernah surut dari waktu ke waktu. Editor penerbit Lontar Foundation, John H. McGlynn yang sudah berkiprah selama puluhan tahun dalam penerjemahan karya sastra Indonesia, dalam wawancaranya dengan The Jakarta Post (2017) pernah menyindir para sastrawan kita, “Penerbit-penerbit asing tidak mencari-cari kalian, tetapi mereka hanya mencari Indonesia!” Pernyataan tersebut seakan pukulan telak bagi para penulis Indonesia, meskipun toh kita tak perlu menghadapinya dengan sikap jumawa dan angkuh. Tetapi, justru perlu introspeksi-diri, sudah sejauh mana peran dan andil kesusastraan Indonesia masa kini, dalam memekarkan nilai-nilai budaya dan peradaban bangsa-bangsa dunia.

Selama menjalani studi S1 pada jurusan sastra di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, saya memperoleh perspektif lain tentang persoalan sastra Indonesia yang selama bertahun-tahun mengalami masa stagnasi dan jalan di tempat. Di bawah tekanan sistem yang kapitalistik, para sastrawan dan jurnalis kita nyaris tak punya cukup ruang dan waktu bagi dirinya sendiri. Energi kreatif orang perorang dan masyarakat tidak dapat tumbuh dan berkembang. Dalam soal produksi barang yang bersifat material, masyarakat kitamampu, tetapi mereka miskin dalam energi kreatif kebudayaan yang memekarkan nilai-nilai peradaban. Mereka kehilangan ilham-ilham kreatif, lebih-lebih dalam memenuhi kebutuhan rohani dan kulturalnya.

Walaupun ada segelintir orang yang kekayaannya melimpah, namun jiwanya tak memperoleh kebahagiaan karena takbisa berkembang dalam keseluruhannya. Sementara, gaya penulisan yang mampu memberi jarak antara kreator dengan hasil kreasinya, hanya mungkin dikerjakan orang-orang Indonesia yang siap “urip selo”, yakni mereka sanggup hidupdan meluangkan waktu untuk berefleksi dan memperdalam kekayaan budi dan hati nuraninya. Dengan urip selo, manusia mampu mengidealkan pencapaian rohani, melewati batas-batas keduniawian dan kematerialan hidup. Mereka juga mampu membangkitkan motivasi dan kesadaran, bahwa manusia bukan semata-mata “makhluk pekerja” melainkan juga makhluk rohani yang kreatif berjuang dan meluangkan waktunya demi pembangunan peradaban umat.

 

Di mana Indonesia?                             

“Sastrawan negeri ini sudah cukup banyak menulis dan menggambarkan orang lain, pihak lain, atau tradisi suku danbangsa lain, tetapi seberapa banyak kita menemukan karya-karya sastra yang sanggup membicarakan diri sendiri, memerangi kekurangan dan kelemahan diri, atau bahkan menertawakan diri kita sendiri?”

Ungkapan dari penulis novel Perasaan Orang Banten (POB) itu bukan hendak mendeklamasikan manifes protes politik. Ia hanya mengajak kita bercermin diri, sebagaiamana kata-katanya yang dikutip harian nasional Kompas dalam opini berjudul “Membangun Akal Sehat” (Kompas, 24 April 2018): “Sastrawan yang baik takkan mudah diperalat kaum politisi dan penguasa, melalui bisingnya persaingan serta kampanye hitam antar kandidat dengan mengesampingkan nalar dan akal sehatnya. Sebagian politisi begitu entengnya menikmati popularitas dengan menyuarakan kebencian. Mereka bahkan memiliki pendukung yang sangat militan untuk mengumandangkan suara-suara kebencian tersebut.”

Novel POB lahir dari gagasan sederhana untuk menertawakan ulah dan kelakuan kita, terlebih kelakuan paraelit politik di negeri ini. Membaca novel tersebut, serasa kita dihadapkan pada hamparan tradisi dan kebudayaan lokal Indonesia, berikut peristiwa yang melompat dari gatra satu ke dimensi-dimensi lainnya. Peristiwa dan pengalaman hidup manusia yang terserak bagaikan puzzle, untuk kemudian dikumpulkan dan disatukan oleh kemampuan dan kejeniusan penulisnya.

Dalam penggambaran tokoh-tokohnya yang multi kompleks – cermin budaya masyarakat kita – seakan bangsa ini berdiri di atas puzzle yang masih semrawut, acak-acakan, dan belum ada yang menata dengan rapi. Hidup yang susah, tetapi dihadapi dengan sikap angkuh, jumawa, dan temperamental. Pada sisi lain, ada sekelompok seniman berpendapat bahwa karya sastra sulit menembus kekuatan benteng politik dan kekuasaan yangsedemikian kokoh dan tangguh. Padahal, sikap skeptis dari sebagian seniman yang merasa rendah-diri dan minder (introvert) akan memengaruhi citra seniman sendiri, terkait dengan mindset dan pola pikir yang keliru, seakan-akan sastra berkualitas tak memiliki pengaruh yang serius terhadap perubahan budayadan peradaban manusia.

Ada juga seniman kita yang melontarkan sentilannya seperti ini, “Perilaku kekuasaan dan penguasa bukan hanya kebal, melainkan juga bebal dan menutup telinga dan hatinya terhadap kritik. Menghadapi kebebalan itu dunia seni sungguh kebingungan. Untuk menjadi kritis, seni seakan kehabisan simbol, sinyal, dan inspirasi. Rasanya semua kreativitas seni untuk menyindir, menggugat, dan melawan sudah dikuras habis. Toh semua bagaikan memukul udara kosong. Di tengah kebebalan, ketulian, kenekatan, dan ketidaktahumaluan kekuasaan ini apayang masih bisa diperbuat oleh seni?”

Tetapi, jika Anda membaca novel POB, maka berhati-hatilah. Sebab, kegelisahan dan keresahan yang dihadapi seniman, termasuk bagian dari problem kebudayaan kita yang ditampilkan juga melalui salah satu tokohnya. Tentu saja bukan bermaksud menghina atau mendiskreditkan pihak seniman, tetapi lumrah saja, sebagai bagian dari indentitas keindonesiaan yang perlu diungkap juga ke permukaan. Karena bagaimanapun – menurut sastrawan Eka Kurniawan – kejujuran dan transparansi merupakan prasyarat bagi seniman yang berjiwa merdeka dan konsisten menjaga kewarasannya.

Di sinilah POB menunjukkan taringnya dengan senyum yang makin sumringah, bahwa untuk mengatasi problem kegelisahan itu bukan melalui faktor-faktor eksternal yang perlu dipersoalkan. Tatapi, musuh sebenarnya yang mesti dilawan berada dan bercokol di dalam diri kita sendiri. Sedangkan mengatasi musuh dalam diri sendiri, bisa menjadi kreativitas untuk menghidupkan kebudayaan kita dengan sebaik-baiknya.

 

Sastradan Pembebasan Diri                             

Di samping berlatar sejarah perpolitikan Indonesia, novel POB juga bicara tentang watak dan karakteristik politisi masakini yang keranjingan popularitas hedonistik. Tak lupa pula menyoal politisi tua dan kalangan agamawan yang terkena depresi laiknya post power syndrom, seperti yang tergambar dalam artikel K.H. Eeng Nurhaeni,“Skizofrenia dan Hasrat Berkuasa” (Media Indonesia, 24 April 2019).

Pada prinsipnya, novel POB tidak mengklaim kebenaran tunggal. Ia hanya memaparkan perikehidupan sehari-hari masyarakat secara transparan bagaikan menyuguhkan prasmanan. Jadi, semuanya boleh menikmatinya secara gratis, karena memang sudah terhampar jelas melalui media internet. Banyak juga pihak-pihak tertentu yang menerbitkan ulang dan menjualnya, bahkan di beberapa kampus terjual bebas dalam bentuk fotokopi.“Silakan, monggo wae, karunya, itung-itung sedekah,” kelakar penulisnya sambil berbahasa Jawa, dengan logat yang disunda-sundakan.

Beberapa analis menilai POB sebagai pendobrak kebekuan dan oligarki sastra sejak masa rezim militerisme Orde Baru. Ia menyoal cara berpikir masyarakat yang dianggap mapan, hingga menemukan fakta bahwa ternyata banyak pembenaran yang harus digugat bahkan ditertawakan. Tujuan yang dicapai pengarangnya barangkali ingin menyodorkan kebenaran atau keyakinan baru, tapi sekaligus menggoyahkan segala keyakinan dan kebenaran palsu yang selama ini berjalan di tengah masyarakat. Jadi, bukan hanya sistem politik dan kekuasaan yang digugat, melainkan juga kesalehan dan kesucian yang sering bernalurikan kemunafikan.

Benih-benih kemerdekaan jiwa amat terasa bila kita membaca novel tersebut secara tekun dan teliti. Ia bisa membawa konsekuensi pengabaian atas hal-hal yang tidak masuk akal. Ini menjadi semacam permisifisme yang secara sosial akan membentuk karakter orang-orang waras di negeri ini, yakni mereka yang tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam persoalan remeh-temeh yang ditimbulkan oleh para penguasa dan politisi. Sebab, orang waras adalah wujud rasionalitas publik yang bisa secara cerdas dan bijaksana ketika berhadapan dengan absurditas dan ketakrasionalan negara.

Kewarasan yang dimaksud adalah tetap terjaganya kesadaran, ketika situasi dan kondisi sudah terjangkiti kegilaan, stres, dan depresi sosial. Di sinilah karya sastra memiliki peran aktif untuk menjaga nalar dan akal budi masyarakat, agar mereka berupaya menjaga kewarasan, serta mempertahankan kesadaran hidup dan kewaspadaan daya pikirnya. Menurut sastrawan senior kita, mendiang Arswendo Atmowiloto, “Selama ini, kita terlampau disibukkan untuk menertawakan orang lain, sampai-sampai kita lupa bahwa kita sendirilah yang sebenarnya lucu dan kocak.”

Berkat loyalitas dan ketulusannya pada nilai-nilai kemanusiaan, setiap sastrawan punya caranya sendiri untuk melakukan apa yang bisa dilakukan meskipun dalam kondisi terbatas. Hal ini disebabkan, negara seringkali absen saat rakyat membutuhkan perannya, lantaran direpotkan oleh urusan-urusan politik praktis, birokrasi yang tidak efisien, sampai kasus-kasus hukum yang tak berujung-pangkal. ***

Penulis: Purwo Mawasdi

Status: Pengamat sastra, alumni jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, Untirta Banten

 

Komentar

News Feed