oleh

Menjemput Kematian

Sebuah cerpen

Hazin Ma Leo*

Perjalanan yang ditempuh selama bermil-mil, sudah pasti ada titik temu yang pasti akan berakhir. Walau harus senantiasa berjumpa dengan segala rupa, juga rasa yang mungkin akan berbeda makna. Maka ruang peristirahatan adalah solusi terakhir demi meluangkan sejenak batas pemikiran yang sudah menjemukan, yang diliputi perasaan gelisah juga bersalah karena selalu tak bisa kutemukan jejak langkhamu yang hilang dalam keabadian.

Memang pertemuan singkat itu cukup mengundang rasa penasaran yang begitu besar. Mencoba menelaah dari setiap kata yang kau ucap tepat pada malam yang  luruh menjelang pagi. Teramat misterius memang semua yang kudapati darimu. Dengan sikap tenang yang kau tampakkan, juga senyum yang bias di setiap helaan nafas itu.

Penampilanmu di malam itu memang cukup unik. Memakai setelan baju warna hitam dengan kain batik menjuntai sampai ke pergelangan kaki, tak lupa kain yang menutupi kepalamu warnanya putih, yang khas sekali. Layaknya seorang pendekar yang ingin menjemput kematian. Kau mengisahkan perjalananmu dari tanah seberang.

“Aku ingin menjemput surga” katamu memecah malam.

“Maksudmu”

“Ya…! dibalik kehidupan pastilah ada kematian. Kau mengerti bukan!” kuanggukan saja kepalaku dengan ragu-ragu, tanpa kata sebagai penegas dari isyarat itu.

“Sepertinya kau belum yakin dengan anggukan itu, baiklah aku akan menceritakan prihal maksudku itu. Jauh sebelum ada niatan ini, aku bermimpi bahwa kota ini tengah di landa masalah besar, yang semua orang tak ada yang bisa menyembuhkan kecuali kematian itu sendiri. Sebab jika dibiarkan maka pastilah akan sangat merugikan orang banyak terlebih tetangga sebelah di kota ini.”

“Akh…! Kau kebanyakan minum kopi, hingga khayalanmu seperti tak terkendali”

“Aku mengatakan yang sesungguhnya, bukan sekedar omong kosong.”

“Dari sudut mana keyakinan itu bisa kutangkap.”

“Lewat mimpi”

“Ha ha ha… ternyata hanya mimpi!”

“Kau jangan anggap remeh mimpi itu. Nabi Yusuf yang mampu menjadi raja, berkat tafsir mimpi dari ayahnya, nabi Ya’kub. Maka jangan sekali-kali memandang rendah mimpi itu.”

“Tapi kau bukan nabi”

“Benar”

“Lalu…!”

“Mimpi itu datang sudah yang ke tiga kalinya. Dan semua alur cerita dari  mimpinya selalu sama, tanpa celah sedikitpun yang berbeda. Untuk itulah aku berani menyatakan itu sebuah kenyataan.” Raut wajahmu yang memancarkan ketegasan sepertinya menyurutkan nyaliku untuk kembali memupus kata-katamu. Kali ini aku mulai mengamini semua yang kau katakan, dengan tetap mencari tahu tentang arah perjalananmu selanjutnya.

“Lalu apa yang ingin kau rencanakan selanjutnya.” Tanyaku memburu.

“Aku ingin segera menuntaskan kematian itu tepat saat matahari menampakan sinarnya di ujung pantai itu, ya diujung pantai itulah keramaian yang membelah kota itu akan segera berubah mencekam, dengan nyinyir darah menjadi pemandangan yang menyeramkan. Dan kota hantu adalah cara terbaik untuk mendifinisikan kota tersebut.

“Bagaimana caranya?”

“Lihat saja nanti. Kembali ke percakapan awal, aku tak ingin di katakana omong kosong, yang hanya  pandai meramu kata-kata menjadi bir wisky yang mampu meninabobokkan malam-malammu. Biarlah kematian demi kematian yang menjawab semua rasa penasaranmu itu.”

“Baiklah, aku tunggu barisan kata-katamu itu”

“Siap. Terima kasih untuk jamuan malam ini. Aku tak bisa melupakan pertemuan singkat ini. Semoga nanti bisa bertemu lagi, entah sampai kapan. Selamat menikmati hari-harimu.”

Sejak itulah aku tak lagi menjumpa sosokmu. Kau seperti menghilang bagai di telan bumi. Namun tetap saja kucoba mengartikan apa yang diucapkan. Sehari setelah itu, aku mulai menemukan keganjilan. Tetangga yang  bekerja di bibir pantai dikabarkan meninggal, tergeletak begitu saja saat dia tengah menarik tali perahu yang hendak ditambatkan.

Belum usai beritanya kembali kudengar ada beberapa turis asing meninggal secara bersamaan, mati terkapar dengan tubuh kejang-kejang. Satu menit, satu jam, satu hari bahkan dalam hitungan detik ada saja yang meninggal misterius sekali. Dengan tanda-tanda kejang-kejang, disertai  muntahan darah yang sungguh teramat sangat menjijikkan.

Maka untuk meminimalisir bertambahnya kasus tersebut, untuk sementara wisata yang sangat terkenal itu mulai dikosongkan. Tak ada yang berani mengusik ketenangan pantai. Tersebab menyimpan berjuta kenangan buruk yang sungguh menyedihkan. Semua memilih diam, menutup diri dari keramaian dan hanya bisa menjangkau temu kata lewat dunia maya, dan selebihnya bercengkrama dari rumahnya sendiri, tanpa menyilahkan tamu untuk sekedar meneguk secangkir kopi.

Menurut berita yang beredar kasus tersebut bermula dari adanya virus yang dikirim dari kota sebelah dengan penyebaran yang sungguh sangat cepat, dengan hanya bercakap-cakap atau bertemu pandang saja. Aku belum percaya sepenuhnya dengan berita yang beredar itu. Malah ingatanku tertuju pada sosok perempuan berbaju hitam, yang dengan keyakinannya itulah dia mampu menjangkau arah perputaran hidup manusia. Dengan jangkauan yang teramat menakutkan.

Aku tak habis bagaimana cara menanggulangi permasalahan itu, sepertinya pemerintah terlambat menanganinya. Cara apapun yang dilakukan rasanya hambar untuk diupayakan. Jangan heran jika kau berani keluar rumah akan dijumpai orang-orang tergeletak  tak berdaya dengan bentuk yang beragam, tersungkur, duduk, terlentang, ada pula yang masih belum habis puntung rokoknya. Dan bau anyir darah semakin menambah ketakutan itu sendiri.

Pemerintah memang sangat gencar mencari solusi alternatif agar bisa mudah menanganinya. Beragam rapat tertutup digelar demi menyelamatkan sisa-sisa nyawa manusia. Saluran televisi, radio, media sosial hingga surat kabar sekalipun tak lepas dari kabar tentang kematian.  Ya kematian memang dirasa sangat mudah sekali, dengan ketakutan yang sangat luar biasa. Pusat perbelanjaan di tutup, jalan raya sepi, perjamuan di warung-warung kopi hilang penghuninya, tergantikan oleh ketakutan akan kematian yang begitu murah, semurah kacang tanah yang dijual di sudut-sudut keramaian.

Memang kenapa kematian harus ditakutkan, setelah semua manusia melepaskan nyawa dengan mudahnya. Kenapa tidak sejak kemaren atau tahun-tahun yang lalu ketika kebebasan dan kesenangan menjadi bumbu dalam tawa, menjadi pemanis dalam tangis yang belum dirasa. Bukankah kematian sudah digariskan, dengan segala cara yang dilakukan pastilah semua akan menemuinya.

Apa benar kata perempuan itu bahwa semua manusia sudah penuh dengan dosa, hingga perlu dijemput sisa hidupnya lalu kisahnya bisa dipajang di etalase-etalase toko, atau bisa menitipkan lewat penulis terkenal di kota ini, sehingga nantinya bisa dibukukan hingga menjadi best seller sekalipun dan  yang pasti jadi rujukan bagi sisa manusia yang belum genap kematiannya.

Tak habis pikir jadinya jika semua sudut-sudut keramaian akan ditutup dengan jangka waktu yang tak bisa ditentukan, dan hanya berdiam diri di rumahnya masing-masing. Tempat-tempat meniitipkan doa kepada tuhan akan ditutup, pasar, juga arena wisata. Jelas saja akan mengundang pertikaian di setiap waktunya. Dengan kerugian yang tak bisa ditaksir hanya dengan kata-kata saja.

Lalu kemana perginya perempuan itu, merupa malaikatkah atau makhluk dari alam lain yang dititipkan untuk sekedar mengingatkan. Entahlah, aku belum sepenuhnya mengetahui akan obat penawarnya. Yang mampu memberi rasa aman juga tenang ketika kematian benar-benar menjemput kebebasan manusia.

 

*Lahir di Sumenep, 08 Agustus 1993, tulisannya terkumpul dalam antologi cerpen “tora”, kini tinggal di Denpasar Bali.

 

Komentar

News Feed