oleh

Menjumpai Tuhan di Rumah Saja

Oleh: Imam Fawaid (Mahasiswa Ushuluddin dan Filsafat UINSA)

Sudah beberapa bulan Indonesia dan negara yang mayoritas Muslim di dunia mengalami sebuah bencana wabah yang penularannya sangat masif, sehingga banyak aktivitas yang diberhentikan sementara, upaya memutus mata rantai penyebaran virus tersebut yang diistilahkan dengan “Covid-19’. Situasi yang seperti ini sebenarnya sudah pernah terjadi di zaman dahulu. Seperti yang dikemukakan oleh para tokoh masyarakat di mimbar-mimbar dakwah

Katakanlah, ketika wabah itu menyerang sebuah kota-kota besar pada zaman dulu. Seperti wilayah pedalaman di Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Paris, Damaskus dan negara muslim lainnya yang juga menderita kematian besar-besaran. Dan pada saat itu orang-orangpun juga menghentikan segala aktivitasnya, mereka lebih memilih sholat dan berdoa di rumah saja. Tempat ibadah seperti masjid juga ditutup (historia.id).

Hal ini bukan maksud untuk membatasi masyarakat muslim melakukan Ibadah seperti yang ditafsirkan oleh sebagian masyarakat yang tergesah-gesah memahami instruksi pemerintah  dan mengatakan bahwa pemerintah bertindak seenaknya dan kurang wajar didalam menangani penyebaran Covid-19. Ada banyak sekali masyarakat yang meluncurkan protes dan kritik yang dianggap logis, salah satunya warga Lombok yang marah akibat masjid ditutup (INDOZONE.ID, 01 Mei 2020).

Meningkatkan Ibadah di Rumah Saja Menjadi Solusi

Tersebab akitivitas normal masih sangat dibatasi, barangkali rumah adalah jalan paling efektif demi menghentikan penularan Covid-19. Meski menjumpai Allah tidak dilakasanakan di masjid-masjid paling tidak di rumah, upaya meminimalkan kejadian diluar kemampuan batas manusia (penularan Covid-19).

Seorang tokoh Etika, Augutinus meyakini bahwa Tuhan bukan sebuah prinsip abstrak atau daya kosmis, melainkan Tuhan sebagai Dzat yang menyapa manusia juga turut ikut campur dalam sejarah dan akitivitas manusia. Jadi menurutnya bahwa kebahagiaan tidak dapat dicari di luar Tuhan hanya dalam Tuhan manusia menemukan sebuah solusi baik kebahagiaan, keselamatan dan lain sebagainya.

Ini menandakan bahwa Ibadah di rumah saja bukan berarti masyarakat muslim tidak bisa lagi mesra dengan Tuhannya, sebab Tuhan bisa dijumpai di mana saja, tergantung bagaimana manusia itu memiliki keterikatan juga semangat spiritualitas. Mengingat ajaran Augustinus yang merupakan salah satu tokoh etika dikaitkan dengan kejadian polemik hari ini, otomatis akan mengurangi rasa fanatisme didalam menjalankan Rukun Islam.

Jadi dalam hal ini Tuhan tidak dibatasi oleh syarat apapun, termasuk syarat medis untuk kemudian menyelesaikan terjadinya pandemik ini, hanya saja manusia tetap memiliki kewaspadaan dan kewaspadaan inilah harus mengikuti anjuran para medis yang hari ini bekerja demi keselamatan manusia.

Kita sama-sama mengetahui, dalam situasi seperti ini sains dan agama harus memiliki keterikatan yang kuat, karena keselamatan bagi semua peradaban dapat dikendalikan oleh dua pengetahuan tadi

Kehadiran Covid-19 ini merupakan sebuah tantangan sekaligus ujian bagian masyarakat Internasional. Sesungguhnya rasa semangat beribadah tidak bisa ditolak dengan hadirnya wabah tersebut, sebab menjalankan Ibadah di manapun merupakan sebuah kerja dinamis. Hari ini masyarakat muslim harus memiliki ketajaman juga kejernihan berpikir agar tidak mudah menerjemahkan sebuah situasi yang seolah-olah mendiskreditkan pernanan nilai-nilai keislaman.

Masyarakat juga harus memiliki kesadaran transendental supaya  memiliki keyakinan secara objektif tentang Allah, secara objektif Allah merupakan nilai tertinggi menurut ajaran Augustinus, sehingga mampu menimbulkan pemahaman bahwa tidak ada yang baik kecuali karena kesinambungan Allah. Oleh sebab itu manusia secara batin selalu tertarik kepada Allah.

Kemudian agar mampu menerjemahkan cinta kepada Allah ke dalam situasi apapun, menurut Augustinus manusia harus memperhatikan tatanan cinta. Sikap manusia akan benar apabila sudah sesuai dengan nilai-nilai masing-masing unsur dalam tatanan tersebut, seperti meningkatkan Ibadah di rumah saja, sebagai bukti kecintaan kepada Allah.

Menjadi Islam yang damai di tengah wabah ini sebenarnya mudah untuk dilaksanakan, cukup menghadirkan sosok pendakwa untuk mennyampaikan pengetahuan keislaman yang mendamaikan tanpa harus ada tendensi sehingga menyempitkan pemahaman publik, dan Islam tidak lagi kompatibel dan fleksibel, hal ini biasanya didasari karena terlalu over memahami teks dan menghiraukan konteks yang terjadi.

Apalagi kadang memunculkan sebuah sentiment yang mengarah pada perpecahan, unsur sara, seolah-olah terjadinya wabah ini terorganisir, hal ini akan berakibat fatal terhadap mobilisasi penyebaran agama islam yang melalui cara pandang pendakwa yang gagap membaca konteks hari ini, sifat normative kembali digaungkan sehingga membahayakan ruang sosial.

Fenomena wabah ini kerap sekali mendapat perhatian dari berbagai kalangan mulai dari akademis, kiai, politisi dan masyarakat muslim lainnya yang juga berbondong-bondong menseminarkan dan memikirkan hal-hal yang musti dilakukan, namun kadang juga dipenuhi sebuah sentilan terhadap para pengambil kebijakan.

 

Komentar

News Feed