oleh

Mensos Kabulkan Syaikhona Kholil sebagai Pahlawan Nasional

KABARMADURA.ID, SUMENEP-Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI MH Said Abdullah merespon baik atas usulan Syekh Haji Muhammad Kholil Bangkalan sebagai pahlawan nasional.

Terbukti, Said sudah berkomunikasi dengan Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini berkenaan usulan pahlwan nasional tersebut. Hasilnya, bahwa MensosTri Rismaharini menyetujui usulan tersebut.

Bahkan mensos dengan sapaan Risma itu telah memproses usulan untuk menjadikan Al-‘Alim al-Allamah asy-Syekh Haji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban al-Bangkalan al Maduri al-Jawi as-Syafi’i atau Syaikhona Kholil sebagai pahlawan nasional.

“Saya sudah hubungi mensos dan minta agar secepatnya diproses. Mensos setuju dan menjamin usulan Waliyullah Syaikhona Kholil sebagai pahlawan nasional akan diperjuangkan hingga ke Presiden RI,” kata Said.

Politisi senior PDI Perjuangan asal Sumenep ini juga memaparkan, sesuai hasil pembicaraan dengan Mensos Risma, terdapat beberapa kekurangan data pendukung atas usulan tersebut dan diminta segera dilengkapi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan.

Atas kekurangan data tersebut, Said berharap kepada Pemkab Bangkalan untuk melengkapi kekurangan data itu sendiri.

“Saya berharap Pemkab Bangkalan melengkapi data pendukung yang dibutuhkan oleh Kementerian Sosial. Semoga gelar pahlawan nasional kepada Waliyullah Syaikhona Kholil menjadi kado bagi kita semua pada HUT ke-76 Kemerdekaan RI,” harapnya.

Sebagaimana diketahui, Syaikhona Kholil merupakan ulama besar di Nusantara. Bahkan maqbarahnya setiap hari ramai dikunjungi masyarakat Indonesia.

Syaikhona Kholil juga merupakan mahaguru dari para ulama besar yang ada di Nusantara. Misalnya, KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Bisri Syansuri, KH Ahmad Siddiq, dan HOS Cokroaminoto.

Bahkan, Presiden Pertama yang juga Proklamator Kemerdekaan RI, Ir Soekarno mengaku dan diakui sebagai murid Syaikhona Kholil.

“Fatwa resolusi jihad dari KH Hasyim Asy’ary (murid Syaikhona Kholil, red) yang menguatkan Bung Karno dan arek-arek Surabaya melawan agresi,” kata Said, menerangkan.

 

Syaikhona Kholil memang lahir dan tumbuh di Bangkalan, Madura. Namun, keluasan ilmu dan jaringan internasionalnya membuat beliau menjadi sandaran banyak ulama. Termasuk doa dan jalan spiritual Syaikhona Kholil juga penentu lahirnya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Pada masa Belanda, Syaikhona Kholil dan pesantrennya menjadi tempat berlabuhnya para ulama yang berjuang melawan penjajahan. Akibatnya, Belanda menangkap beliau. Namun, Belanda justru khawatir penahanan Syaikhona Kholil makin meningkatkan perlawanan nasional hingga pada akhirnya beliau dilepaskan.

Diungkapkan Said, rekam jejak dan jasa besar Syaikhona Kholil terhadap bangsa dan negara ini, kata Said, sudah sepantasnya jika pemerintah pusat menganugerahkan gelar pahlawan nasional.

“Bukan hanya layak dan patut untuk diperjuangkan, melainkan wajib. Tidak ada kata lain bagi kita, lebih-lebih warga Madura, mari bersama-sama memperjuangkan ini secara tulus dan ikhlas sebagai penghormatan kita kepada Waliyullah Syaikhona Kholil,” pungkasnya. (ong/waw)

 

Komentar

News Feed