oleh

Menunggangi Peluru Ke Surga

Oleh: Helmy Khan

Meski tak terdengar lagi suara tembakan dari Belanda, Mat Qasim tetap memacu pelatuk senapan Arisakanya dari balik semak-semak. Puluhan peluru muntah, melesat kencang ke  arah musuh. Sebagian kawan-kawannya mundur kebelakang. Tiarap di balik pohon besar guna menghindari serangan balasan.

“Sudah jangan menembak lagi. Cepat mundur,” perintah Kapten Hasan sambil melangkah kebelakang.

“Siap kapten!” ujar Mat Qasim lantang.

Meski kaki Mat Qasim melangkah kebelakang tatapan matanya selalu awas ke depan. Dia tak pernah lengah dari kewaspadaan. Seakan musuh mengintai di kanan kirinya.

Tarr! Senapan Mat Qasim kembali memuntahkan tima panas. Melesat kencang ke semak-semak yang bergerak di depan sana. Tak puas satu tembakan, dia kembali menarik pelatuknya. Tarr! Suara tembakan pecah membelah terik matahari.

“Jangan menembak  lagi. Simpan pelurumu untuk  pertempuran selanjutnya.” Perintah Kapten Hasan lagi.

“Siap kapten!”

***

Bulan serupa celurit betengger di atas langit. Di balik bukit Garicang pasukan bawah tanah Kapten Hasan bermalam di sana. Angin malam berdesir pelan berhenti di pangkuan daun siwalayan. Beberapa pasukan berjaga di sejumlah titik mengintai pergerakan musuh dari atas bukit Garincang.

“Kenapa belum tidur, Qasim?” tanya Kapten Hasan.

“Tidak bisa tidur, Kapten.” Jawab Mat Qasim lirih.

Mata Mat Qasim sedikit memerah, tak seharusnya dia ikut bermalam sebab beberapa kawannya sudah ditugaskan berjaga oleh Kapten Hasan. Dia  butuh istirahat untuk menghilangkan penat setelah seharian menahan serangan Belanda. Berdasarkan informasi pasukan bawah tanah Kapten Hasan akan mundur sebelum fajar terbit, bergabung dengan pasukan Letnan Maksudi untuk menghadang serangan dari arah utara kota yang diperkirakan jumlahnya jauh lebih besar.

“Kenapa kau nampak sangat semangat menembaki pasukan Belanda?” tanya Kapten Hasan membelah sunyi.

“Demi kemerdekaan tanah air, Kapten. Juga untuk kematian keluarga saya,”  pelan air mata Mat Qasim tumpah beriringan dengan suaranya yang serak.

Derai air mata Mat Qasim semakin deras. Bayangan wajah ibu dan istrinya berkelebat dalam pikirannya. Dia tak  bisa membayangkan bagaimana orang-orang yang dicintai menahan  rasa sakit ketika di bantai pasukan Belanda. Terlebih tentang kematian Masriyani yang mengandung anak pertamanya semakin membuat Mat Qasim sakit hati.

“Kita dilahirkan untuk saling menjaga satu sama lain,” suara Kapten  Hasan tiba-tiba mengingatkan pada wasiat ibunya waktu dia kecil. Bahwa menjaga tanah sama halnya menjaga anak cucu. Sebab itulah Mat Qasim semakin membulatkan niatnya untuk menumpas pasukan Belanda dari bumi Indonesia. Suatu ketika ibunya berkata bahwa orang yang gugur di medan perang kelak akan dipermudah melintas di jembatan Siratol Mustaqim. Serupa peluru melesat ke  surga. Dia juga percaya orang yang tewas mempertahankan tanah air matinya tak sia-sia.

“Iya, Kapten.  Siapa lagi kalau bukan kita yang akan mempersiapkan negara makmur ini untuk anak cucu kita kelak.” Perlahan Mat Qasim megangkat wajahnya. Melihat sekeliling hutan dengan tatapan seksama. Dia percaya kelak anak cucunya akan bahagia hidup di bumi pertiwi. Tak perlu lagi bergerilnya menghadang penjajah yang menjarah kekayaan tanah ibu.

Hari telah mencapai tiga perempat malam. Kapten Hasan, Mat Qasim dan beberapa pasukan lainnya berkumpul  mempersiapkan strategi untuk menahan serangan belanda sebelum berangkat bergabung dengan pasukan Letnan Maksudi di jantung kota. Peta kecil digelar di tanah. Satu pasukan memegang senter, beberapa lainnya menjagkau kerikil kecil lalu menyusunnya seperti yang diperintahkan Kapten Hasan.

“Kita butuh tenaga ekstra  besok.  Kita harus menyusun  strategi untuk meminimalisir tenaga dan keluarnya amunisi,” ucap sang kapten memulai percakapan.

“Bagaimana kalau kita berangkat sekarang agar lebih awal sampai ke kota,” kata salah seorang pasukan.

“Jangan, medan di sini terlalu curam. Lagi pula kita tidak punya alat penerang yang mumpuni,” timpal pasukan yang memegang senter.

Medan di bukit Garincang memang sangat berbahaya. Satu kilo di belakang tenda terdapat jurang yang curam dan tak mungkin berangkat menerobos gelap karena terkendala alat penerang. Parahnya senter itu selalu kongslet dan sinarnya temaram. Tentu itu sangat resiko. Keadaan mendadak sepi. Jari telunjuk mereka mengetuk kepala masing-masing.  Di ujung tegalan burung hantu bersahut-sahutan. Mereka kembali mencari jawaban.

“Bagaimana kalau pasukan ini dibagi dua. Pasukan pertama bertugas mengecoh musuh agar masuk perangkap ranjau. Sedangkan pasukan kedua menyerang dari belakang.” Usul Mat Qasim membelah kebunguan.

Dengan lincahnya Mat Qasim menggambar beberapa titik yang akan dijadikan pusat ranjau dan tempat serangan dari arah belakang. Kapten Hasan  mengangguk-ngangguk kagum. Dia mengakui kemahiran Mat Qasim mengatur strategi.

Lima pasukan berjaga di tenda. Sebagian pasukan bergerak ke utara bersama Mat Qasim memasang ranjau disejumlah titik. Sebagian lagi bersama Kepten Hasan mempersiapkan segala kebutuhan serangan dari belakang.

Tak butuh waktu lama  mereka kembali berkumpul. “Kita masih punya waktu satu jam lagi. Cepat kemasi  barang-barang kalian dan istirahat secukupnya.” Perintah Kapten Hasan.

***

Tak jauh pasukan bawah tanah Kapten Hasan melangkah deru tank dan kendaraan lapis baja mulai merayap membuntuti mereka. Lima truk di balakangnya nampak beriringan bergaung membelah dingin. Sejumlah pasukan turun dari truk membentuk formasi di belakang tank.

Baku tembak kedua pasukan tak lagi terelakkan. Satu tembakan tank Belanda meleset di kanan pasukan Kapten Hasan. Tanah mengepul ke udara akibat ledakan selongsong peluru besar.  “Formasi.” Teriak Kapten Hasan

Sekejap  pasukan itu membentuk formasi seperti yang diarahkan  Mat Qasim semalam. Detik demi detik terus berlalu. Derap kaki pasukan belanda semakin gusar. Sementara tank itu menggilas tanah-tanah kering berdebu tempat biasa orang berjalan kaki. Pasukan kedua merayap ke belakang menuju tempat persembunyian.

Tak terhitung berapa banyak senapan Mat Qasim  memuntahkan peluru. Tetapi tank itu tetap saja gagah menembak. Sialnya pasukan Belanda berlindung di belakang tank. Tak satupun di antara mereka terluka.

“Sekarang!” teriak Mat Qasim. Dia berlari membelah belantara hutan dibuntuti kawan-kawannya.

Alhasil ranjau-ranjau itu meledak mengepung pasukan Belanda. Serangan  beruntun dari belakang membuat pasukan musuh kocar-kacir, satu persatu pasukan musuh tumbang. Kemenangan di depan mata. Pasukan musuh berhasil dilumpuhkan.

“Aku bunuh saja komandannya.” Mulut Kapten Hasan menyemburkan api kemarahan. Dia menarik pelatuk senapannya.

“Jangan, Kapten. Kita tawan saja untuk menarik musuh sebelum masuk ke jantung kota,” cegah Mat Qasim meyakinkan. Kapten Hasan bernafas panjang mengiyakan tawaran itu.

Tak sempat Mat Qasim memborgol tangan komandan musuh tiba-tiba timah panas komandan musuh menembus jantungya. Dia tersungkur ke tanah berlumur darah.

Tarr! Sekejap peluru Kapten Hasan memacah kepala komandan musuh.

“Kapten, maafkan atas kesalahan saya. Izinkan saya pergi ke surga.”

Tak kuasa Kapten Hasan melepas kepergian pasukan terbaiknya. Tangisnya pecah beriringan dengan tangis lainnya.

“Merdeka…” ucap Mat Qasim sebelum  malaikat maut menjemput. Sejak itulah darah Mat Qasim harum membasuh tanah pertiwi.

Penulis: Tercatat sebagai mahasiswa Institut Kariman Wirayudha Sumenep (INKADHA). Aktif di LPM Dialektika & FLP Sumenep. Karya-karyanya telah tayang diberbagai media, baik cetak atau online.

Biodata Penulis

Nama               : Helmy  Khan

Alamat              : Banujau Barat, Batang Batang, Sumenep

 

Komentar

News Feed