oleh

Menunggu yang Sia-sia Adalah Kegilaan

Kalau kita mempertimbangkan baik dan buruk dengan tangan terlipat, maka derajat kita sebagai manusia akan berkurang, macan saja akan menolong sesamanya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu, kalau tidak dia akan kabur ke kedalaman hutan.” Samuel Beckett (Waiting For Godot: diterjemahkan B. Very Handayani).

Waiting For Godot atau Menunggu Godot merupakan naskah besar yang tidak pernah usai dibaca oleh generasi ke generasi. Naskah pertunjukan yang ditulis Samuel Beckett tersebut, pernah mendapatkan nobel sastra.

Penulis yang merupakan pengarang dari Irlandia tersebut memberikan amunisi semangat bagi para penggiat literasi ataupun para pengisi panggung pertunjukan kala itu maupun para pengidola saat ini dengan karya-karyanya yang besar.

Naskah yang menceritakan keadaan dua tokoh sederhana yang sedang menunggu Godot. Diyakini bahwa Godot bisa memberikan sebuah jalan terang. Jalan yang akan mengabulkan cita-cita Estragon dan Vladimir. Mereka berdua adalah nama tokoh yang dipilih Beckett sebagai pengantar pesan dalam naskah tersebut.

Angan-angan akan ada keajaiban besar jika Godot datang. Semua akan berubah, kebahagiaan, tempat tinggal yang menyenangkan dan makanan yang cukup lezat.

Namun alur bagian akhir cerita tidak begitu mengenakan bagi kedua tokoh tersubut. Godot tidak jadi datang, dan tentunya semua yang diangan pecah. Godot hanya kesia-siaan, yang seharusnya tidak untuk ditunggu. Seharusnya dipelajari, dengan tindakan yang masuk akal.

Cerita lain saat ini hadir di Madura (3/09), tepatnya di Pamekasan. Salah satu kelompok kesenian membawa Godot dan Beckett hadir di Pulau Garam.

Ada yang berbeda dalam naskah tersebut. Perbedaan disitu terdapat dibagian isi naskahnya, mereka (Teater Fataria) mengadaptasi dengan sangat apik. Mereka memberikan bumbu politik didalamnya, bumbu yang memberikan edukasi terhadap tamu yang menonton.
Ardi yang merupakan ketua kelompok kesenian Fataria, memberikan asumsi terhadap isi karya Beckett yang sudah diadaptasi oleh Iin Difa yang sekaligus sutradara dalam acara malam itu.

Asumsi tersebut menerangkan tentang janji para calon pemimpin sebagai modal pemikat untuk ketertarikan para pemilih, keadaan tersebut menunjukan kemajuan dalam cara berpolitik, cara yang menegaskan suatu kebebasan berpendapat untuk sebuah kemajuan, namun jika hanya sekedar janji yang membuat orang menunggu tanpa kepastian itu adalah sebuah kedustaan.
Keadaan politik saat ini membuat teman-teman Fataria tergerak dan harus menghadirkan Godot ditengah-tengah kita semua.

Pembenaran akan keadaan yang ada cukup terang. Banyak para tokoh yang pintar menyanggupi namun keadaanya tidak terjadi. Apalagi kalau ada momen pemilu, semua calon berlomba-lomba memberikan kesejahteraan, perubahan, dan lain sebagainya. Memang itu adalah sebuah kebebasan namun tidak harus sebebas-bebesnya.

Saya kira masyarakat sudah cerdas dan tidak perluh dibohongi atau diakali.
Sebab menunggu adalah sesuatu yang menyebalkan. Apalagi yang ditunggu adalah sesuatu yang harus ada. Cukup bosan dan tentu saja akan membuat gila.
Artinya, menunggu janji adalah keharusan namun jika janji hanya sebatasan alat berbohong tidak masuk akal jika harus ditunggu. Dan calon pemimpin yang seperti itu cukup kita beri ucapan “Maaf Anda Belum Beruntung”

*)Penulis Merupakan Alumni Universitas Trunojoyo Madura. Saat ini sedang melanjutkan kebiasaan membaca yang tidak pernah selesai.

Komentar

News Feed