oleh

Menyikapi Penyesalan dan Penerimaan Takdir 

Peresensi       : Agustin Handayani

Bahtera rumah tangga ibaratkan sebuah kapal besar yang tengah berlayar di lautan luas. Kadang kala akan ada ombak yang menerjangnya berkali-kali, mencoba menguji seberapa kuat pondasinya. Tidak akan ada jalan yang mulus tanpa rintangan. Semua butuh ombak, butuh cobaan untuk menjadikannya semakin kuat. Seperti itulah pelayaran perahu ke dermaga.

Kisah yang sama dengan bahtera rumah tangga. Seperti yang Wardah ceritakan dalam novel Ranjang Sebelahnya. Kisah cinta yang diangkat dalam sebuah hubungan suami istri. Bagaimana sebuah awal akan selalu menentukan sebuah akhir, dan bagaimana sebuah penerimaan selalu diawali dengan penolakan.

“Penyesalan bukan untuk diratapi, tapi untuk memperbaiki.” –Hal. 342

Lowee, seorang wanita modern yang menikah diawali dengan rasa terpaksa. Rasa sakit hati dan merasa dicurangi oleh lelaki yang dipanggilnya Abang. Kealpaan lelaki itu dalam hidupnya membuat Lowee memutuskan menikah dengan lelaki yang mengidap OCD (Obsessive Compulsive Disorder) bernama Roshan. Lelaki yang ternyata memiliki hubungan sangat dekat dengan masa lalunya. Takdir seakan mempermainkan wanita modern itu.

Semua berjalan dengan baik dan teratur dari usaha penerimaan yang Lowee berikan pada sang suami. Namun saat rasa iri dan cemburu menguasai hatinya pada sosok masa lalu, hubungan suami istri menjadi taruhan. Tidak ada lagi keharmonisan, malah hambar dan semakin membuatnya jenuh. Lowee lupa diri bahwa ada lelaki yang mencintainya dengan tulus.  Ia malah terus memandang ke belakang dengan banyak perandaian indah bersama yang terasa mustahil saat itu.

Semua doa-doa buruk yang dirapalkan Lowee setiap waktu, ibaratkan mantera yang minta dikabulkan ternyata menjadi boomerang sendiri bagi Lowee. Penyesalan dan kesedihan membelenggunya hingga kehilangan setengah waras. Setiap sudut dalam ingatannya semakin membuatnya bersedih akan kesalahan sikap buruknya dan doa yang kadung diamini Tuhan.

“Kadang cinta lebih indah dengan jalan penolakan, daripada dimulai dengan penerimaan.” –Hal. 322

Novel Ranjang Sebelah bukan hanya kisah cinta antara penyesalan dan keinginan. Namun juga tentang bagaimana menyikapi segala hal dengan lebih menerima, ketimbang mencaci. Tentang Lowee yang dipermainkan takdir dan berlabuh pada lelaki yang membuatnya berkhianat pada suaminya. Lowee kembali mendapati sebuah jalan yang sama dengan Byan, masa lalunya.

Novel yang cukup menarik ini juga memberikan kita banyak pelajaran tentang bagaimana Islam memuliakan perempuan. Tentang bagaimana seharusnya seorang istri yang menghormati suami, dan hubungan timbal baliknya. Keterlibatan agama dalam novel ini sangat kuat hingga menjadi pandangan hidup bagi setiap sikap dan langkah yang diambil oleh setiap tokoh. Bahwa tidak ada manusia yang bisa adil, kecuali Allah SWT. Penuturan yang halus tentang berpoligami juga disampaikan dengan baik dan mudah dipahami.

Penulis seakan menggiring pembaca untuk mengikuti bagaimana arus tokoh Lowee dengan penyesalannya, bagaimana kehilangan adalah cambuk yang menyakitkan, dan sifat keirian adalah belati yang mematikan. Kisah ini diambil dengan cukup realistis dan banyak terjadi di sekitar. Ini menjadi poin tambahan untuk novel Ranjang Sebelah.

“Kesalahan adalah kebodohan yang tidak pernah mau diakui.” –Hal. 367

Tutur bahasa penulis yang lembut dan mendayu-dayu cukup mengaduk emosi pembaca. Bagaimana penulis memberikan amanat dalam ceritanya bisa sampai dengan tepat sasaran lewat tokoh Lowee. Novel ini cocok untuk semua kalangan, karena dibalik kisah rumah tangganya, pesan moral cukup mengena ke dalam diri pembaca.

Probolinggo, 13 Desember 2019

Agustin Handayani. Aktivis Literasi kota dan anggota FLP Probolinggo.

Judul               : Ranjang Sebelah

Penulis            : Wardah T.

Penerbit         : Stiletto Books

Terbitan         : Cetakan I, 2019

Tebal              : 398 halaman

ISBN                : 978-602-339-863-1

Komentar

News Feed