oleh

Menyimak Penuturan Hasansasra tentang Tradisi dan Budaya Madura

Kabarmadura.id/Bangkalan-Banyak orang salah persepsi tentang carok. Mereka beranggapan, carok adalah bagian dari budaya Madura.  Bagi Hasansasra carok sama sekali bukan bukan budaya dan tradisi Madura.

OLEH MOH SAED, BANGKALAN

Usianya sudah sepuh, 77 tahun. Hasansasra memakai busana yang  masih melekat sebagai seorang budayawan sejati, yakni bawahan celana pendek dibalut sarung, dan atasan baju batik. Hasansasra kemudian menceritakan tradisi dan adat istiadat yang merupakan barang berharga milik setiap daerah yang menjadi kekayaan dan kebanggaan masyarakatnya.

Ia mengaku senang mempelajari sejarah dan budaya Bangkalan. Dirinya juga menambahkan, seandainya usianya masih muda dan tenaga masih kuat , maka ia akan mempelajari budaya Bangkalan yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum.
”Saya  tidak  akan berhenti untuk mempelajari semua budaya yang ada di Madura, khususnya yang ada di kabupaten Bangkalan ini,”ungkapnya.

Terkait carok, menurutnya cara pandang  masyarakat sampai hari ini masih belum berubah. Bahkan ketika tersebar dengan isu yang kurang menarik, maka itu akan menimbulkan efek kurang baik terhadap kota Bangkalan. Sebagian masyarakat masih berpikir carok di Madura menjadi ciri khas dan identitas yang tidak bisa lepas dari tubuh Madura.  Sehingga  menjadikan nilai negatif yang terbangun oleh masyarakat luar Madura bahwa  Madura identik dengan keras.

”Ini terjadi dikarenakan mereka yang belum paham sepenuhnya tentang sejarah budaya Madura namun  menyebarkannya dengan keyakinan, padahal itu tidak benar,” ucap Hasan.

Menurutnya, hal itu perlu diluruskan. Carok Madura itu tidak pernah diakui sebagai budaya ataupun tradisi. Sejak 1964 dirinya mengaku belum pernah mendengar carok menjadi budaya Madura. Carok itu sebuah perkelahian, dan normalnya di mana-mana ada perkelahian. Yang menjadi beda adalah istilah dan senjata saja.

Madura menyebut perkelahian itu dengan istilah carok, dan senjata yang digunakan adalah celurit (are’). Dikarenakan celurit memang senjata khas Madura. Sedangkan perkelahian ditempat lain umumnya memakai pisau, pedang dan keris, maka istilahnya pun juga berbeda.

”Yang bahaya itu memang nalar negatif masyarakat, yang tidak bisa dibendung dan percaya dengan sekelilingnya,” ungkapnya.

Masyarakat Madura memang memiliki beberapa ciri khas sifat, antara lain mandiri, dapat dipercaya dan berani.

”Sifat itu akan terus dibawa orang Madura  dimana pun dia berada,” tegasnya.

Menurut Hasan, di zaman sekarang, menjaga tradisi Madura memang tidak mudah. Ketepatan esensi dan amanah yang ingin disampaikan oleh pendahulunya juga harus tersampaikan dengan baik. Agar masyarakat tahu, apa saja  yang menjadi budaya dan adat Bangkalan, sampai saat ini yang masih dilakukan, oleh masyarakat Madura diantaranya ada toron tana (turun pertama kali ke tanah), pelet kandung, taneyan lanjeng , yang man masih  banyak masyarakat yang belum tau, bahkan ada yang kaget dan tidak percaya, apakah benar dahulu pernah ada budaya semacam itu.

”Seperti yang pernah saya katakan, budaya kita sangat kaya, kita sendiri kadang sampai tak percaya.”

Hasansasra  berharap Dewan Budaya Bangkalan dapat menyiapkan pendidikan untuk millennial sadar budaya dan tradisi asli Bangkalan agar budaya yang telah di tinggalkan dan diajarkan oleh nenek moyang tidak luntur dn tidak terkikis oleh pembaruan jaman,” tutupnya (pai).

Komentar

News Feed