oleh

Menyingkap Situs Sejarah Pamekasan yang Terlupakan

Astah Pamelingan, Cikal Bakal Panembahan Ronggsukowati

Kabarmadura.id-Sepak terjang pangeran Ronggosukowati dalam menyebarkan islam dan memajukan islam, tentunya sudah banyak diketahui oleh masyarakat Pamekasan secara luas. Namun, terlepas dari perjuangan seorang pangeran Ronggosukowati itu, ada perjuangan seorang seorang ayah yang saat ini mulai dilupakan oleh masyarakat Pamekasan.

MIFTAHUL ARIFIN, PAMEKASAN

Pangeran Nugroho, Sang Raja Pemelingan. Suami dari Siti Hasanatul Janah itu, merupakan sosok pahlawan yang saat ini situsnya mulai dilupakan oleh masyarakat Pamekasan. Bahkan, tempat persemayaman terakhirnya yang dikenal dengan nama Buju’ Lenduh, tampak minim perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan.

Asta Pamelingan atau masyarakat Pamekasan lebih mengenalnya dengan sebutan Buju’ Lenduh, merupakan persemayanan terkahir sosok Raja Pamelingan. Situs yang terletak di sebelah selatan terminal Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu Pamekasan itu, jarang dikunjungi oleh masyarakat. Maklum, tidak banyak masyarakat yang mengetahui sejarah dari Buju’ Lenduh tersebut.

Kondisi tersebut, cukup menarik perhatian puluhan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Unira Rayon As-Syafi’ie. Meski hidup di era milenial, namun tak lantas begitu saja melupakan cikal bakal berdirinya Pamekasan.

Salah satunya dengan melalukan Kegiatan Safari Religi dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad S.A.W. Melalui kegiatan tersebut, para mahasiswa berkunjung langsung ke situs Buju’ Lenduh, untuk mengenal sejarah cagar budaya yang belum banyak dikenal masyarakat Pamekasan tersebut.

“Astah Buju’ Lenduh ini cikal bakal Ronggosukowati yang mulai dilupakan masyarakat,” ucap Subaidi, ketua PMII Rayon As-Syafi’ie Unira, saat ditemui di lokasi Buju’ Lenduh Jalan Stadion Pamekasan, Rabu (3/4).

Tak hanya masyarakat, Pemkab Pamekasan sendiri dinilai juga tidak memberikan perhatian yang lebih terhadap kondisi Buju’ Lenduh tersebut. Hal itu dapat dilihat dari perawatan Buju’ Lenduh yang terkesan tak maksimal.

Juru kunci Asta Pamelingan Syaiful Bahri menjelaskan, silsilah Pemelingan belum banyak diketahui oleh masyarakat Pamekasan. Padahal, beliau merupakan orang tua dari pangeran Pamekasan, yaitu pangeran Ronggosukowati.

Selain itu, minimnya peran dari Pemkab Pamekasan dalam melestarikan cagar budaya dan sejarah di Asta Pamelingan, mengakibatkan Syaiful harus mengeluarkan biaya pribadi untuk memenuhi kebutuhan perawatan makam tersebut.

“Banyak masyarakat Pamekasan tidak tahu bahwa pangeran Ronggosukowati merupakan keturunan Raja Pemelingan yang kuburannya ada di sini,” tandasnya. (waw)

Komentar

News Feed