Merasa Diperlakukan Seperti Barang, Pilih Kabur dari Tempat Isolasi Suramadu

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) DIKELUHKAN: Tempat karantina yang ada di Gedung BPWS Suramadu sisi Bangkalan

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Lokasi isolasi pasien terinfeksi Covid-19 di Bangkalan dikeluhkan oleh pasien. Alasannya tidak diberikan fasilitas yang semestinya.

Mereka yang diisolasi adalah pasien dengan status orang tanpa gejala (OTG) baik hasil penyekatan dan swab PCR. Lokasi isolasi itu adalah gedung BPWS Suramadu sisi Madura, ruko Petapan di Kecamatan Labang dan Balai Diklat dan Balai Latihan Kerja (BLK).

Bacaan Lainnya

Bahkan, pasien Covid-19 yang berada di tempat isolasi BPWS Suramadu sisi Bangkalan meluapkan kekesalannya dengan membuat 10 tuntutan kepada para petugas yang berjaga di lokasi. Hal itu beredar dalam video berdurasi 7 menit 52 detik di media sosial.

Salah seorang pasien yang enggan disebutkan namanya membenarkan hal tersebut. HR (inisial pasien) mengatakan, dirinya terinfeksi Covid-19 berdasarkan dari penyekatan di Suramadu. Dia dibawa ke gedung BPWS Suramadu sisi Bangkalan. Pertama masuk, setelah turun dari mobil, diturunkan ke halaman.

“Diturunkan dari mobil itu agak lama di halaman, tidak disuruh masuk, tidak ditanyakan bagaimana kondisinya atau butuh penanganan lainnya,” katanya, Minggu (20/6/2021).

Saat HR diberikan jatah makan, dia dan pasien lainnya tidak disuruh masuk. Padahal, sudah datang sejak malam. Sehingga dia dan rombongan pasien lainnya makan di halaman gedung.

Saat berinisiatif tanya mengenai ruang untuk beristirahatnya, dia hanya disuruh masuk dan mencari tempat istirahat sendiri. Dia mengaku berada di gedung isolasi itu selama dua hari dua malam.

“Sampai di dalam ruangan, karena kami dinyatakan sebagai pasien Covid-19, kan saya kira satu orang satu kamar, atau minimal satu orang satu tempat tidur. Ternyata tidak begitu, sampai dalam itu tidak beraturan, ada yang tidur di tangga, di lantai, di mana-mana,” ungkap HR.

Satu ruangan bisa diisi puluhan orang. Saat di sana tidak ada penanganan apa pun dari petugas kesehatan. Ketika sampai gedung, pasien dibiarkan begitu saja. Karena tidak dirawat, HR akhirnya kabur dari gedung BPWS Suramadu sisi Bangkalan dan memulih isolasi mandiri di rumah.

Yang membuat HR miris, ada pasien seorang ibu menyusui bersama bayinya dibiarkan saja. Tidak diberikan obat-obatan atau vitamin.

“Kami ini kayak barang, setelah ditaruh di gedung BPWS, kami dibiarkan saja. Tidak ada pelayanan kesehatan sama sekali, saya berani bersaksi. Jadi kumpul jadi satu, tidak tahu mana yang hanya reaktif hasil rapid tes antigen, mana yang terinfeksi Covid-19 hasil swab PCR,” keluhnya.

Dia juga mempertanyakan alasan carut marutnya kebijakan pemerintah itu. Bahkan HR mengaku cenderung semakin stres. Selain dicampur dengan semua orang, fasilitas seperti tempat tidur tidak pernah diganti. Bau dan tidak bersih.

Sementara itu, dalam video yang beredar tuntutan para pasien di gedung itu adalah meminta agar ada fasilitas air gedung BPWS sisi Bangkalan sebelah utara. Selain itu, tidak ada tempat beribadah bagi para warga karantina. Juga mempertanyakan SOP dan hak pasien dalam pelayanan kesehatan.

Kejadian tersebut menurut Muhyi, salah seorang aktivis kesehatan di Bangkalan, protes dan tuntutan pasien ini merupakan bentuk reaksi sebagai orang yang dikarantina di lokasi yang tidak layak dan tidak memadai.

Dia menyarankan agar dikarantina di rumah masing-masing dengan konsep PPKM Mikro. Selain memberdayakan satgas Covid-19 desa, juga memasifkan monitoring dari puskesmas. Untuk swab, ujar Muhyim sebaiknya dilakukan di kecamatan masing-masing sebelum berangkat. Sehingga, di posko Suramadu hanya difungsikan untuk pemeriksaan.

“Yang jadi masalah di lapangan, persiapan lokasi karantina sangat minim, kalau menurut saya, daripada karantina di BPWS yang justru akan menimbulkan masalah baru, jika diswab di kecamatan ternyata reaktif, bisa di karantina langsung di rumah,” ujar ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Bangkalan ini.

Menanggapi keluhan para pasien Covid-19 di gedung BPWS sisi Suramadu itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Sudiyo menyatakan bahwa penempatan pasien Covid-19 di gedung BPWS adalah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim).

Sedangkan adanya keluhan yang terjadi pada pasien Covid-19 di Balai Diklat Bangkalan, yakni yang merasa diberikan makanan secara minim dan tidak adanya pelayanan kesehatan, dibantah oleh Sudiyo.

Dia menegaskan, bahwa informasi tersebut tidak benar.

“Fasilitas yang kami berikan sudah sangat memadai, kami beri makan cukup 3 kali sehari. Dicek saja ke lokasi,” tegas Sudiyo. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *