Merugi, Nelayan Enggan Melaut

  • Whatsapp
(Km/SAE) MERUGI: Nelayan di Sungai Bandaran sedang melakukan aktivitas sehari-hari.

Kabarmadura.id/Bangkalan-Nelayan di Kelurahan Pejagan Bangkalan beberapa hari terakhir ini tidak melaut. Hal tersebut disebabkan adanya Covid-19, sehingga para nelayan yang berada di Desa Pejagan tidak melaut serta harga ikan sangat turun drastis. Hal itu menyebabkan, nelayan merugi karena biaya produksi untuk melaut tidak sebanding dengan harga ikan yang ditawarkan di pasar.

Dampak ekonominya,banyak nelayan yang akhirnya memilih untuk istirahat dari laut untuk sementara waktu. Mereka pun beralih dari yang awalnya menjadi nelayan menjadi pekerja serabutan.

Hal tersebut disampaikan oleh Moh Hasun (35),  asal Bandaran Kelurahan Pajagan. Ia menyampaikan, banyak nelayan yang tidak melaut. Hal tersebut disebabkan hasil lau saat ini sedang mengalami penurunan harga .

“Sebelumya kami jual hasil dari laut ke pabrik atau pengepul namun untuk saat ini kami jual langsung ke pasar dan harganya juga lebih murah dari biasanya,” ungkapnya,  Minggu 29/03/2020

Ia menambahkan, hasil laut yang murah tidak hanya ikan melainkan juga rajungan serta kepiting juga lebih murah dari biasanya. Hal tersebut menjadi keluhan bagi para nelayan sebab para nelayan tidak mendapatkan keuntungan yang cukup banyak.

“Hasil dari laut kami jual ke pasar namun untuk saat ini pembelinya sangat jarang. Jika ditanya rugi jelas rugi mas sebab kondisi pasar saat ini mulai sepi,” imbuhnya.

Menurut koordinator penyuluh perikanan kabupaten Bangkalan Heri Santoso mengatakan, omset penjualan hasil dari laut perlu diperhatikan. Sebab menurut para nelayan jika sebelumnya harga rajungan mencapai  Rp50-60 ribu per kg. Sekarang malah turun drastis menjadi Rp25-30 ribu per kg.

“Kejadian tersebut disebabkan karena banyaknya p abrik ya g tutup sehingga penjualan terbatas ,” tuturnya.

Sementara itu kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bangkalan Mohammad Zaini mengakatakan, pihaknya sudah mengetahui hal tersebut. Namun untuk sementara waktu tidak bisa menjalankan semua programnya apalagi membantu sebab mengikuti protokol pemerintah untuk menjauhi keramaian.

“Untuk jalan tengahnya kami akan mencoba ke program yang lebih efisien,” ungkapnya.  (sae/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *