oleh

Meski Jadi Ibu dan Legislator, WardaTidak Ingin Sekedar Gugurkan Kewajiban

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Stigma perempuan yang aktivitasnya harus di dapur terbantahkan oleh Wardatus Syarifah. Dia berhasil dua kali menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan.

Penyambung lidah rakyat dari dari pemilihan (dapil) I (Kecamatan Pamekasan dan Tlanakan) ini, dalammembagi waktu antara untuk keluarga dengan konstituennya, dijalani dengan sepenuh hati. Terkadang harus datang sendiri ke rumah warga yang sedang membutuhkan dampingannya.

“Tugas saya adalah memenuhi kewajiban sebagai ibu rumah tangga yang terdiri dari suami dan anak, kemudian tanggung jawab dan kewajiban warga yang bisa kami bantu dan fasilitasi. Itu semua harus saya jalankan dengan baik dan harus diupayakan yang terbaik dengan cara yang tepat,”ungkapnya.

Kuncinya, ulas wakil rakyat yang berangkat dari Partai Nasdem itu, adalah membagi waktu seoptimal mungkin dan memilah urusan yang lebih urgen untuk diselesaikan dan mana  urusan yang bisa ditanggalkan sementara.

“Kami harus bisa memilah kapan kita harus quality time bersama keluarga, kapan bisa turun kebawah dan kapan harus ada di kantor, karena tugas seorang anggota dewan itu tidak hanya di kantor,”jelasnya.

Istri dari Agus Santoso ini menceritakan perjuangannya hingga berhasil terpilih, tidak muluk-muluk, yakni menjadi pribadi apa adanya dan tidak ada apanya, sehingga jaringan yang sudah mengakar di unsur paling bawah bisaterawat dengan maksimal.

“Saya sering secara aktif mendatangi rumah ibu-ibu bukan pas ada acara saja, sesuai dengan waktu dan momennya,”ungkap satu-satunya legislator perempuan di Dapil I Pamekasan ini.

Ibu dari Alfatiha Riski Ramadani ini mempunyai prinsip, untuk urusan pribadinya harus tertangani dengan baik dan benar, sehingga bisa memberikan waktu seluas-luasnya untuk kepentingan masyarakat.

“Jadi kita harus selesai di diri kita sendiri dulu, baru bisa ke orang lain,”urainya.

Urusan mendidik anak, dia tidak mau angkat tangan, sebab pada dasarnya madrasah utama bagi anak-anaknya adalah ibunya. Setiap harinya, dia memantau terus perkembangan pendidikannyadan menyuguhkan pengetahuan sesuai dengan yang diminati anaknya.

“Jadi kami beli buku-buku sendiri, pakai kurikulum ibunda, materinya apapun yang disukai anak, saya kasih aja, kadang kalau bosen banget handphone pun sudah menjadi alternatif,”ulasnya.

Dalam upayanya mendidik anaknya, psikologi perkembangan anak harus dipahami dengan baik, supaya ketika memberikan pemaparan tentang pengetahuan bisa dengan segera diterima oleh anaknya.

“Artinya apa yang harus kita lakukan, kita lakukan dengan baik, apa yang kita inginkan, diusahakan, masalah gol atau tidaknya Allah yang mengatur,”pungkasnya.  (rul/bri/waw)

 

 

Komentar

News Feed