Meski Zona Orange, PTM SMA di Bangkalan Dilanjut

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) TERTIB: Siswa SMAN 2 Bangkalan saat baru keluar dari lingkungan sekolah di depan SMAN 2 Bangkalan, beberapa waktu lalu.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Penyebaran pandemi Covid-19 di Bangkalan memasuki gelombang kedua. Meningkatnya kasus penyebaran membuat peta persebaran menjadi orange. Bahkan ada yang merah. Meski demikian pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) untuk SMA/SMK di Bangkalan tetap dilanjut. Sesuai dengan edaran, PTM akan dilakukan mulai tanggal 18 Januari 2021 mendatang

Salah satu wali siswa Siti Aminah mengaku resah. Sebab anaknya yang duduk di bangku SMA menerima informasi akan tetap masuk sekolah secara PTM mulai Senin (18/1). Padahal persebaran Covid-19 masih sangat marak. ”Saya khawatir, karena di sekolah tetap meminta masuk, dan anak saya mau,” tuturnya.

Bacaan Lainnya

Menurut perempuan usia 42 tahun tersebut, keinginan anak-anak untuk masuk dan bertemu teman-temannya dinilai sangat tinggi. Sehingga sulit jika dilarang dan diimbau agar tak masuk sekolah atau mengikuti pelajaran secara daring. Sebab, meski pun mereka menggunakan masker, rasanya sulit bagi mereka untuk tetap menjaga jarak di sekolah. ”Mungkin karena mereka masih muda, jadi merasa imunnya masih kuat, lalu bagaimana dengan orang tuanya yang ada di rumah,” tuturnya.

Amina meminta, kepada sejumlah pemangku kebijakan agar mempertimbangkan kembali keputusan pelaksanaan PTM tersebut. Sebab untuk SD dan SMP masih belum diperbolehkan melakukan PTM.

”Saya harap ini menjadi perhatian, kondisinya memang sangat meresahkan,” tegasnya

Kepala Seksi SMA Bidang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus PK PLK Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur wilayah Bangkalan Moh Fauzi membenarkan adanya surat edaran pelaksanaan PTM tersebut, tetapi tetap membatasi dengan teknis yang sama yakni 50 persen. ”Iya benar, tanggal 18 nanti PTM, tapi tetap dengan protokol ketat,” jelasnya.

Kata Fauzi, dirinya sudah mengimbau, agar pelaksanaan PTM di setiap sekolah juga melakukan koordinasi dengan Satgas Covid-19 kecamatan atau setempat. Sehingga pengawasan bisa dilakukan lebih ketat. Terlebih lagi, jika kondisi di beberapa daerah dinilai membahayakan, maka PTM bisa saja dilarang.

”Saya sudah mengimbau kepala sekolah agar tetap koordinasi dengan satgas setempat, agar keputusan bisa diambil secara tepat,” pungkasnya. (km59/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *