Minim Anggaran, Tiga Program Penelitian di Bangkalan Gagal

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ISTIMEWA) MINIM ANGGARAN: Terbatasnya anggaran mengakibat program penelitian di Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Bangkalan harus dibatalkan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN -Beberapa kegiatan penelitian yang akan dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Bangkalan, terpaksa dibatalkan. Sedikitnya, ada tiga dari empat rencana penelitian gagal terlaksana akibat terbatasnya anggaran. Seharusnya, empat kegiatan penelitian tersebut selesai tahun ini.

Tiga kegiatan yang gagal terlaksana,  kajian desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat lokal di Kelurahan Bancaran,  penelitian kawasan ekonomi produktif berbasis potensi lokal di tiga desa Kecamatan Tanjung Bumi sebagai penelitian di bidang ekonomi dan pembangunan. Terakhir, budidaya Itik di Desa Dabung Kecamatan Geger.

“Yang terlaksana hanya, gelar Pahlawan Nasional Syaichona Moh Cholil pada bidang sosial dan pemerintahan. Jadi, dana berapapun ketika sudah terkena refocusing tidak akan ideal. Jadi, kami batalkan tiga kegiatan penelitian tersebut,” ujar Kepala Balitbangda Bangkalan Andang Pradana melalui Kepala Bidang (Kabid) Inovasi dan Teknologi Catur Fajar Aprianto, Selasa (13/7/2021).

Menurutnya, salah satu penelitian yang tetap jalan dan sudah dilakukan awal tahun kemarin sudah selesai sebelum ada refocusing. Untuk menyelesaikan satu penelitian, idealnya bisa menghabiskan anggaran Rp150 hingga Rp250 juta. Apalagi, jika penelitiannya membutuhkan sampling maupun pihak ketiga, anggaran yang dikeluarkan juga bisa lebih.

“Minimal dananya diangka itu. Hasil penelitian ini, bisa digunakan sebagai patokan atau ujung tombak pembangunan suatu daerah dan bisa mengembangan potensi daerah. Apalagi refocusingnya berkali-kali, pertama 15 persen, kemudian sekarang ada refocusing lagi,” ucapnya.

Catur mengungkapkan, untuk menghasilkan penelitian yang bagus membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan, pernah melakukan penelitian tingkat provinsi dan nasional menghabiskan dana Rp1 miliar. Untungnya, penelitian yang dilakukan pemkab mendapat bantuan Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

“Karena mungkin memang UTM ini berniat membantu dan kami sudah melakukan MoU. Sehingga membentuk kemitraan yang sudah terarah. Akhirnya, dengan dana sedikit mereka membantu kami melakukan penelitian meski kami hanya bisa membantu dananya sebesar Rp50 juta,” jelasnya.

Disinggung mengenai kemaksimalan penelitian, Catur mengaku, tidak lepas dari kemampuan anggaran yang diberikan oleh daerah.  Pihaknya berjanji, akan mengusulkan kembali dan melakukan evaluasi gagalnya rencana itu. Sebab, penelitian sudah sesuai dengan prosedur dan perencanaan yang sudah masuk di Bappeda.

“Jadi, untuk usulan tahun depan pada bulan Maret 2022 akan kembali diusulkan pada perubahan anggaran, kami akan evaluasi lagi, kegiatan yang batal terlaksana, yang sudah terlaksana dan usulan penelitian dari OPD. Jadi nanti penggodokan kami pada bulan Agustus sampai Oktober,” jelasnya. (ina/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *