oleh

Minim Data, Disdag Bangkalan Berapi-api Bangun Pasar Tradisional

Kabarmadura.id/Bangkalan-Banyaknya pasar tradisional di Bangkalan yang terlihat kumuh atau aktivitas pedagang hingga di badan jalan, selalu dijawab dengan anggaran pembangunan. Akhirnya, pembangunan pasar besar-besaran terus dilakukan. Bahkan, anggaran yang harus dikeluarkan juga cukup fantastis.

Besarnya anggaran itu dikeluarkan, lantaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan khawatir  pasar tradisional ditinggalkan oleh masyarakat dan memilih kegiatan jual beli di toko atau pasar modern. Selain itu, agar pasar tradisional mampu bersaing dengan toko modern.

Selain anggaran dari daerah, Dinas Perdagangan (Disdag) Bangkalan tak segan-segan meminta bantuan biaya pembangunan dari pemerintah pusat maupun provinsi. Namun sayangnya, selama ini Disdag Bangkalan sendiri belum memiliki data pasar yang butuh perbaikan dan renovasi.

Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Pasar Disdag, Sutanto mengaku belum nemiliki data akses bantuan dana untuk rehab atau perbaikan pasar yang langsung dari pusat, provinsi maupun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bangkalan.

“Saya berencana ingin menggandeng Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda), juga temen-temen rencana untuk mengumpulkan data kualifikasi anggaran yang dibutuhkan untuk perbaikan pasar,” katanya.

“Begitu juga data kondisinya yang sekarang seperti apa, kebutuhannya apa dan konsepnya jika diperbaiki bagusnya seperti apa,” tambahnya.

Masih menurut Sutanto, ketika rapat dengan pemerintah pusat atau provinsi lalu ditanya data mana pasar yang butuh perbaikan dan konsepnya seperti apa, selama ini pihaknya belum memiliki datanya, sehingga tidak terjawab.

Berdasarkan catatan Kabar Madura yang dirangkum dari Disdag Bangkalan, sepanjang tahun 2019 lalu, setidaknya sudah keluar anggaran hingga Rp24 miliar untuk pembangunan dan renovasi sejumlah pasar.

Untuk renovasi, dialaksanakandi Pasar Socah dan Pasar Kwanyar dengan anggaran sebesar Rp1,5 miliar, Pasar Bancaran Rp200 juta, Pasar Langkap Rp525 juta dan Pasar Tanjung Bumi sebesar Rp200 juta.

Sedangkan Rp20 miliar digunakan untuk pembangunan gedung baru Pasar Tanah Merah. Kendati begitu, dana jumbo itu dinilai belum cukup. Pasar yang kerap menimbulkan kemacetan lalu lintas itu, masih butuh Rp58 miliar lagi

Selagi pemkab mewacanakan revitalisasi pasar tradisional, sementara keberadaan toko atau pasar modern semakin menjamur di Bangkalan. Sedangkan untuk meningkatkan daya saing, konsep yang diusung Disdag adalah membangun pasar semi modern. Sehingga kondisinya tertata rapi dan tidak terlihat kumuh.

Padahal, kata Sutanto, pasar tradisional lebih unggul dibandingkan pasar modern, karena lebih lengkap dan murah.

“Seperti Pasar Tanah Merah ini kan saya konsep semi modern. Kalau nanti bisa buka sampai malam mampu bersaing,” ujarnya.

Sementara dalam catatan Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bangkalan, setidaknya ada 54 toko modern yang ada di seluruh Bangkalan. Rinciannya 34 Indomart dan 20 Alfamat. Sedangkan pasar tradisional berjumlah 29 unit dari 17 kecamatan yang ada di Bangkalan.

Kepala DPMPTSP Ainul Ghufron dalam menanggapi adanya toko modern dan pasar tradisional ini cukup dilematis. Sebab menurutnya, kedua-duanya sama-sama memberikan keuntungan. Baik dari segi pendapatan, sumber daya manusia (SDM) dan retribusinya.

“Keduanya sama-sama memberikan manfaat,” tukasnya. (ina/waw)

Komentar

News Feed