Misteri Sawah Kembar Kè’ Lesap di Kecamatan Jrengik; Diyakini Keramat, Warga Tak Berani Menggarapnya

(KM/FAUZI) KERAMAT: Sawah bekas garapan Ke' Lèsap menjadi misteri, sehingga warga sekitar tak berani menggarapnya.

KABARMADURA.ID | Terdapat lahan bernama Bâ Kembhâr di Desa Plakaran, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang. Bâ Kembhâr merupakan istilah dalam Bahasa Madura yang berarti sawah kembar. Bagaimana kondisinya saat ini?

FAUZI, SAMPANG

Rerumputan liar memenuhi Bâ Kembhâr. Di pinggirnya ditumbuhi pepohonan gurmis. Tak ada tanaman produktif yang tumbuh di atasnya.

Keadaan tersebut tidak lepas dari keyakinan masyarakat sekitar. Mereka berpandangan Bâ Kembâr menjadi salah satu tempat angker. Bila ada orang yang menggarapnya, kesialan dipastikan langsung menderanya.

Salah seorang sesepuh Desa Plakaran Moh. Raji mengungkapkan, konon saat zaman kerajaan Madura barat, terdapat seorang Buju’ Buker. Dia memiliki santri bernama Kè’ Lesap. Suatu ketika, Kè’ Lesap disuruh membajak sawah di Desa Plakaran. Tapi, dirinya langsung menyatakan sudah mengerjakannya.

“Padahal Kè’ Lesap belum beranjak dari tempat yang disuruh, sedangkan dari Desa Buker ke Desa Plakaran berjarak kisaran 5 kilometer,” cerita Moh Raji sambil menggerakkan tangannya, serta menggabungkan kedua alisnya.

Moh Raji mengatakan, Buju’ Buker kaget atas jawaban dari Kè’ Lèsap, sehingga langsung menyuruh Kè’ Lèsap untuk menanami sawah tersebut. Namun, jawaban Kè’ Lesap tetap saja.

“Karena Buju’ Buker penasaran terhadap perkataan Kè’ Lesap, akhirnya Buju’ Buker pergi ke Plakaran dengan menunggangi kuda. Saat sampai di lokasi, dirinya kaget bukan kepalang. Sebab, sawah tersebut sudah tertanami, padahal menurut Buju’ Buker, Kè’ Lesap belum beranjak dari tempat duduknya,” terang Moh Raji sambil mengelus kumisnya yang mulai memutih.

Lalu, sesepuh Pelakaran itu melanjutkan, atas kekeramatan Kè’ Lesap itulah Bâ Kembhâr juga ikutan keramat.

“Di tahun 1998, dulu ada orang yang ngejung (nyinden) di dekat sawah tersebut. Namun tak bisa berhenti hingga pulang ke rumahnya, hingga berhari-hari, kemudian meninggal,” kata Moh Raji sambil mengerutkan dahinya penuh keheranan.

Moh Raji juga melanjutkan, di tahun 1990, ada pekerja yang memberanikan diri untuk membajak sawah. Akhirnya, sapinya lari dan orangnya tersebut meninggal.

“Ada juga di zaman 2005, ada petani tembakau dari Pamekasan namanya Pak sahlan. Dia dan istrinya membangun tempat mukim sementara atau gubuk kecil di dekat sawah tersebut. Padahal, sudah saya beritahu tentang kemisteriusan sawah dekat gubuknya tersebut, dia tidak percaya,” terangnya.

Akhirnya, saat malam hari, dia berteriak minta tolong. Saat dihampiri warga, Pak Sahlan itu bilang dirinya melihat ular raksasa, ya saya sama warga tertawa, lalu membantu Pak Sahlan memindahkan gubuknya ke dekat rumah warga. Dari situlah Pak Sahlan akrab sama warga serta mempercayai apa yang warga percayai,” urainya.

Moh Raji menambahkan, saat ini Bâ Kembhâr tidak ditanami apa-apa. Akan tetapi, rumput dari sawah tersebut dialiri masyarakat untuk pakan sapinya.

 

Redaktur: Hairul Anam

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.