Molor hingga 2021, BPOPP Madrasah Aliyah Belum Dicairkan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) MOLOR: Pencairan BPOPP sangat lamban.

KABARMADURA.ID, SUMENEP -Lambannya pencairan dana biaya penunjang operasional penyelenggaraan pendidikan (BPOPP)/SPP Gratis perlu dievaluasi. Sebab, hingga saat ini tak kunjung cair. Padahal, instansi terkait berjanji  akhir tahun 2020 akan dicairkan. Namun kenyataanya tak sesuai yang dijanjikan.

Hal tersebut diakui Plt. Kepala Seksi Pendidikan dan Madrasah (Pendma) Kementrian Agama (Kemenag) Sumenep Zainurrosi. Hingga saat ini belum ada pencairan. Dia berjanji, dalam waktu dekat akan dilakukan pencairan.

Bacaan Lainnya

“Belum cair untuk nasing-masing lembaga. Insyaallah besok ,”katanya Senin (04/01/2021)

Dikatakan, BPOPP dianggarkan sebesar Rp36.617.700.000. Masing-masing siswa mendapatkan Rp70 ribu. Namun, saat ini masih belum dapat dicairkan. ” Sebanyak 17.437 siswa pada 160 Madrasah Aliyah (MA) Sumenep akan menerimanya,” ujarnya.

Dia mengatakan, dana program pendidikan gratis berkualitas (TisTas) atau SPP gratis di Provinsi Jawa Timur (Jatim) khusus Madrasah Aliyah (MA) di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag)  yang diberlakukan sejak tahun 2020 itu berbeda dengan naungan Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) yang sudah diberlakukan sejak tahun 2019.

“Madrasah Aliyah ketinggalan program ini. Bahkan, pencairannya masih lambat,” ucapnya.

Diketahui, program tersebut berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 33 Tahun 2019 tentang BPOPP dan Nomor 188.4/4157/101.1/2019. Kemudian Peraturan Kanwil Jatim Nomor 855 tahun 2020. “Akan terus kami upayakan mengenai kesejahteraan lembaga atau siswa madrasah,” ujarnya.

Diketahui, BPOPP atau SPP gratis tersebut sudah diwacanakan sejak tahun 2019 lalu. Rencana realisasinya  tahun 2020.  Akhir tahun 2020 sudah mulai ada pencairan,  dan untuk anggaran se- Jawa Timur mencapai Rp91 miliar.

Dia mengatakan, diberlakukannya SPP Gratis agar tidak terjadi ketimpangan dengan SMA/SMK negeri dan swasta; bahwa semuanya sama tanpa ada pandang bulu.

“Pada tahun 2021 akan terus berlanjut sembari menunggu arahan dari Pemprov Jatim,” tandasnya.

Dia mengakui, MA juga butuh bantuan untuk kesejahteraan para siswa dan siswi. Khusus di Sumenep, ada sekitar 30 atau 40 persen jumlah siswa dan siswi MA yang tidak mampu. Oleh karena itu, hingga saat ini Kemenag berharap, MA diperjuangkan dalam program tistas tersebut. “Semoga cepat cair,”ujarnya.

Salah satu guru madrasah di Kecamatan Bluto, Badrut Tamam mengatakan, dirinya sangat mengharapkan agar dana biaya penunjang operasional penyelenggaraan pendidikan (BPOPP) cepat cair. Sehingga, perkembangan pendidikan di lingkungan madrasah bisa dirasakan. “Pencairan harus diperjuangkan. Kami ikut senang jika telah cair,” pungkasnya (imd/km58)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *