Money Politic Jadi Lumrah di Pilkades, Pengamat Politik: Pemimpin Baik Pasti Gugur

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) SEMAKIN KOTOR: Pelaksanaan pilkades di Sumenep tinggal menghitung hari, banyaknya praktik money politic dinilai akan gugurkan calon pemimpin baik.

KABARMADURA.ID | SUMENEP-Praktik politik uang atau money politic masih jadi sesuatu yang lumrah dalam mewarnai pemilihan umum (pemilu), termasuk pemilihan kepala desa (pilkades).

Pilkades serentak di Sumenep yang akan digelar 25 November 2021 ini, disebut akan menghasilkan pemimpin terpilih yang buruk jika tetap diwarnai praktik curang tersebut. Sebab, harus  memikirkan ganti dari biaya yang dijadikan modal nyalon itu.

Pernyataan itu disampaikan pengamat politik asal Sumenep, Mohammad Ali Al Humaidy. Bahkan menurutnya, calon kepala desa (cakades) bisa sangat mengandalkan money politic sebagai kekuatan.

“Mestinya mereka mengandalkan tim untuk membangun kepercayaan diri. Mereka harus yakin tanpa uang itu pasti tetap nyalon, idealnya seperti itu. Mereka harus membangun jaringan dan basis yang terstruktur,” kata dosen IAIN Pamekasan itu.

Agar money politic itu tidak dianggap lumrah, pria yang biasa dipanggil Malhum itu memberikan alternatif. Di antaranya tegakkan regulasi. Jika kedapatan calon yang melakukan money politic, harus benar-benar ditindak secara tegas.

“Apakah itu pidana maupun sanksi lain. Biarlah misalnya kedua calon sama-sama menabur uang, maka masyarakat kumpulkan bukti lalu laporkan, maka itu adalah gerbang awal menuju perubahan lumrahnya money politic itu,” saran Malhum.

Selain itu, cakades harus mempunyai keyakinan atas dirinya sendiri, tidak membangun kekuatan melalui uang, tetapi melalui kecerdasan dan perencanaan yang matang. Membangun atau merawat kekuatan hingga lapisan terbawah. Selanjutnya, kemandirian hak pilih, masyarakat harus mempunyai benteng yang kuat.

Dia yakin, jika money politic masih dilestarikan, jangan harap menemukan pemimpin yang bisa menjamin kesejahteraan. Terutama generasi muda yang sudah mengenyam pendidikan dan sudah mempunyai wawasan terkait makna atau hakikat dari demokrasi.

“Kemandirian masyarakat juga mempunyai peran akan perubahan ini, hingga saat ini penampakan money politic masih belum bisa dipisahkan di tengah-tengah masyarakat,” pungkasnya.

Reporter: Moh. Razin

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *