oleh

Mono (Log)

Radeya Q. Kalimi

Bandung, 09 Februari 2020

—-

Malam ini malam pertunjukan terakhirnya. Mono mau memensiunkan tubuhnya dari panggung.

Orang tua itu tengah bercengkrama dengan istrinya di belakang panggung. Selama menjadi pemain teater, baru kali ini istrinya nonton. Itu pun dipaksa. Entah kenapa, Mono merasa gugup luar biasa. Apa mungkin gara-gara pertunjukan terakhirnya? Maka istrinya disuruh menemani sebelum naik panggung.

Waktu naik panggung tinggal 10 menit lagi. Mono bergegas menyiapkan diri. Napasnya agak tersengal. Tangannya meraih tangan istrinya. “Doakan aku,” katanya berat. Mono menyuruh istrinya segera duduk di kursi penonton. Istrinya hanya mengangguk.

Panggung masih gelap. Saat lampu mulai menyala, Mono duduk di sebuah kursi. Ya, hanya kursi saja. Tidak ada satu pun benda yang ditaruh. Tak satu pun olesan make up di wajahnya. Betul-betul orijinal. Baju mantel coklat. Celana katun lusuh. Sepatu kulit. Mono menarik nafas panjang. Dengan nada berat, ia mulai bertutur.

Suatu ketika aku diserang penyakit yang aneh. Tiba-tiba saja mulutku tak bisa bicara. Tak bisa dibuka. Seolah-olah mulutku dijahit rapat. Anehnya, tubuhku tidak merasakan sakit sedikit pun. Anehnya lagi tiba-tiba saja telingaku bisa mendengar hal-hal yang janggal. Aku bisa mendengar seluruh panca indraku bicara. Dalam mulutku tertutup, tiba-tiba saja terdengar, “Mari kita protes pada Mono!”

Tubuhku bergetar. Keringat bercucuran. Suara-suara itu terus menerus menggendang. Semakin jelas. “Proteeeeeesssss!” “Proteeeeeesssss!”

Aku berusaha tenang. Ya, tuhan gejala apa ini. Apakah aku gila? Gila? Ha…ha…ha, bukannya setiap manusia itu gila. Bayangkan saja selama hidupnya ia harus melakukan rutinitas yang begitu-begitu saja. Tidur, makan, minum, kerja. Streeesss. Penat. Akhirnya melakukan aktivitas yang janggal. Korup. Pelecehan. Tawuran. Adu mulut. Menebar bohong. Arrgghhhh…goblok.

Mata Mono melihat tajam ke sudut kanan panggung. Matanya sedikit berkaca. Tangannya memegang dada. Mukanya menampakkan kesedihan yang luar biasa. Panggung sangat hening. Istri Mono, Khadijah, melihat suaminya dengan khusuk. Sesekali menundukkan kepalanya. Lampu panggung berubah keunguan. Mono berdiri. Melangkah pelan ke depan panggung sekira empat langkah. Dia melanjutkan ceritanya lagi.

“Mari kita proteeeessss!” suara itu terus bergumuruh di telinga. Sangat riuh. Aku tidak bisa mengelak. Telinga coba kututup pakai telunjuk. Tetap saja terdengar. Aku baringkan tubuh di kasur. Muka kututup bantal. Suara itu semakin jelas saja. Jelas sekali. Akhirnya, satu per satu kudengarkan protes itu. Tubuhku menjadi diam. Kaku. Tak bergerak. Aku seperti orang yang sudah mati. Seperti mayat hidup sebab aku bisa mendengar.

Mono terdiam. Kembali ia duduk di kursi. Menarik napas panjang. Waktu berjalan begitu lambat. Kira-kira per 15 detik terdengar suara seperti tiang listrik dipukul. Teng. Teng. Teng. Terus menerus. Seperti sedang mengisyaratkan sesuatu. Seperti penanda akan terjadi sesuatu. Penonton terdiam.Penasaran. Mukanya terlihat gelap. Hanya matanya saja sedikit terlihat berkilauan. Meski sesekali terdengar suara yang berdeham atau suara jok kursi ketika satu dua penonton menggeser bokongnya.

Mata. Ya, mata ini. Kedua mata ini. Tiba-tiba saja dia bicara. Dia bilang begini. Mono giliran aku ngomong sekarang. Apakah engkau tahu? Aku diciptakan Tuhan untuk melihat kebaikan. Tapi engkau telah menyia-nyiakannya. Sampai aku perih. Air mataku kering. Tapi engkau Mono, kau tak pernah peduli. Aku, kau buat jelalatan. Kau lebih suka melihat kisruh. Kau jadikan aku terbelalak akan uang, perempuan, surat perjanjian, atau melihat jutaan hadiah. Tak sedikit pun aku kau gunakan melihat matahari terbit dan terbenam. Apa kau tak mikir? Bagaimana jika kau kehilangan matahari? Aku protes padamu Mono sekarang. Kau harus bilang pada Tuhan nanti. Bukan aku yang menginginkan ini. Tapi kamu Mono. KAMU.

Tubuh Mono yang masih duduk terlihat bergetar. Kepalanya tertunduk. Lalu mukanya tengadah ke arah lampu depan. Matanya telihat berkaca. Mulutnya bergetar.Terbata dia melanjutkan monolognya.

Tangan. Mono… aku juga protes padamu. Di tengah ketakutan itu, tiba-tiba kedua tanganku menampar mukaku. Plak. Plak. Mono menamparkan tangannya ke mukanya. Rasanya aku ingin menutup telingaku oleh tanganku. Tapi tidak bisa. Aku ingin teriak. Tapi bagaimana? Mulutku semakin terkatup rapat. Anjing kau Mono. Aku selama ini kau hiasi dengan gelang dan cincin emas. Eh ternyata itu untuk pamer. Biar kau merasa dipandang. Aku suka kau bikin buat tanda tangan yang nggak-nggak. Pemalsuan tanda tangan orang. Bikin surat palsu. Bahkan buat menggasak daging-daging yang janggal. Tak pernah aku kau gunakan untuk memukul bedug atau lonceng. Tak pernah. Dasar babi. Kau tidak pernah merasa peduli kalau aku, tangan ini, tangan, begitu kebas dengan semua itu.

Di atas panggung, Mono terlihat menangis. Tangannya meraih sal coklat yang membelit lehernya. Dia usapkan ke matanya. Ke hidungnya yang beringus. Kepalanya menunduk. Menangis tersedu bebarengan dengan suara seperti biola yang digesek tak karuan. Mono menutup telinga. Mono berteriak. Penonton mulai menunjukkan kengiluan di wajahnya seperti yang sedang dirasakan Mono. Arrrggggghhh. Tiba-tiba lampu padam. Suasana sangat hening. Memang di pertunjukkan Mono ini, tata suara minim.

Tak begitu lama lampu kembali menyala. Cuma agak redup. Mono sudah berdiri di belakang kursi. Berdiri membelakangi penonton. Kepalanya menunduk. Perlahan membalikkan tubuhnya. Kedua tangannya memegang ujung sandaran kursi. Napasnya semakin berat. Wajahnya dihadapkan kembali ke arah penonton. Khadijah yang duduk di kursi depan penonton terus khusuk melihat suaminya di panggung. Matanya seperti tak berkedip. Tangan Mono mengangkat kursi.  Kursi itu dipanggul di atas kepalanya. Dia melangkah berat ke sana ke mari. Sesekali menggusur kakinya. Masih dengan kepala memanggul kursi, Mono melanjutkan monolognya.

Kawan-kawan begitulah kejadiannya. Betapa berat penyakitku. Entah apa namanya. Rasanya ingin mati saja. Tak sampai di situ pula. Sesudah telinga ini mendengar protes mata dan tangan, kini kedua kaki pun ikut-ikutan protes. Suaranya berat. Telingaku begitu mendengung. Bergemuruh. “Kini giliran aku yang protes,” katanya.

Kaki.  Kini giliran aku Mono. Aku kaki yang kau gunakan ke mana-mana. Ke mana pun kamu pergi. Ke WC sekalipun. Tanpa aku, kau bukan apa-apa. Tapi apakah engkau sadar? Mana ucapan terima kasihmu padaku. Tak pernah aku diinjakkan ke tempat-tempat suci. Jika pernah pun, kau datang saat ada orang-orang penting yang datang ke tempat suci itu. Sial. Betapa hinanya kau ini. Aku, lebih kau gunakan ketika malam. Ke tempat hiburan, restoran, buat bikin perjanjian. Bermain tanda tangan. Juga minum-minum. Apakah kau tak sadar? Aku merasakan kelelahan yang sangat luar biasa. Apa kau tak sadar, istri dan anakmu itu, setiap malam menunggumu? Tak pernah sekalipun telapak kakiku kau tempelkan di tanah. Merasakan kerikil atau menginjak rumputan. Merasakan kedinginan embun atau memendamkan dalam lumpur. Kau mesti menanggungnya Mono! Sebagai kaki, aku tak mau disalahkan. Itu bukan mauku.

Mendengar protes-protes itu, Khadijah yang masih khusuk melihat suaminya. Matanya berlinang. Menetes di pipinya. Ia menyekanya dengan selendang yang dikenakannya. Ia merasa sedih. Ia seolah merasakannya. Pikirannya mengawang. Khadijah, terlihat terisak. Ia sadar, ia sedang menonton suaminya di panggung. Ia menahan rasa kesedihannya itu.

Di panggung, Mono masih memanggul kursi. Tubuhnya jongkok seperti sedang menahan beban berat yang luar biasa. Mono terlihat menangis tersedu.

Begitu ceritanya kawan-kawan penyakitku. Aku tak tahu namanya. Medis juga kebingungan. Tapi tak usah dipikirkan. Mungkin para ilmuwan belum ada yang menemukan model penyakitku itu. Begitulah manusia. Ya, manusia.

Mono menaruh kembali kursi yang dipanggulnya. Dia berdiri kembali. Diarahkannya kursi itu ke belakang panggung. Mono duduk membelakangi penonton. Sedikit demi sedikit lampu meredup. Lalu padam. Penonton terdiam. Hening. Beberapa detik kemudian. Lampu tengah dinyalakan. Mono berdiri lalu menunduk memberi salam. Mukanya tersenyum. Tanda pertunjukan berakhir. Penonton terdiam. Tak ada yang bertepuk tangan seorang pun.

Khadijah yang duduk di kursi depan berdiri. Ia berteriak dan menunjuk ke arah Mono. “Mono, dasar Lu Orang Gila!”

Mono terlihat terkejut. Dia sebentar diam. Lalu turun dari panggung menghampiri istrinya. Mono memeluk istrinya. “Terima kasih, engkau sudah menyaksikan pertunjukanku yang terakhir.” Kembali Mono menatap Khadijah kian dalam. Wajah Khadijah kian samar. Dia melihat wajahnya sendiri di genangan air mata suaminya. Mono kembali memeluk erat istrinya penuh rasa gembira meski dalam monolog itu masih ada yang tidak terceritakan. Kelamin, ya kelamin, yang sebetulnya ikut protes juga.

 

Biodata

Radeya Q. Kalimi lahir di Pandeglang 31 Maret 1998. Radeya tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Dan tinggal di Pondok Pesantren Al-Musyahadah Manisi-Bandung. Radeya aktif di forum diskusi Rausyanfikr dan kepenulisan Studio Sastra Cibiru.

Kritik dan saran bisa disampaikan lewat akun facebook Radeya Q. Kalimi atau WA. 085794168791.

Komentar

News Feed