oleh

Motivasi dan Reaktualisasi Literasi di Masa Pandemi Covid-19

Ridwan

Hari aksara yang jatuh pada tanggal 8 september 2020 sudah berlalu, akan tetapi tidak ada salahnya kita  mencoba urun rembuk dalam hal peningkatan budaya membaca. Ada hal yang mesti dikupas berhubungan dengan hari aksara tersebut, tapi yang paling urgent adalah bagaimana mengentaskan buta aksara dan peningkatan budaya membaca. Mantan Mendikbud Profesor Daoed Yoesoep, mengatakan; “Demokrasi hanya akan berkembang di suatu masyarakat yang warganya adalah pembaca, individu-individu  yang merasa perlu untuk membaca, bukan hanya sekedar pendengar dan gemar berbicara”.

Fokus tulisan ini dititikberatkan pada gemar membaca (budaya membaca). Berdasarkan laporan indeks aktivitas literasi  membaca yang dikeluarkan oleh pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan kebudayaan, badan penelitian dan pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2019, Hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI), /Indonesia National Assessment Programme (INAP) yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains bagi anak sekolah dasar juga menunjukkan hasil serupa. Secara nasional, untuk kategori kurang dalam kemampuan matematika sebanyak 77,13 persen, kurang dalam membaca 46,83 persen, dan kurang dalam sains 73,61 persen (Panduan GLN 2017, Kemdikbud).

Sementara survei Central Connecticut State University memposisikan Indonesia di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei, hanya se-tingkat di atas Botswana. Hasil survei ini tidak serta membuat kita terus menerus meratap dan berkeluh kesah. Solusi terbaik harus ada, agar indeks budaya membaca meningkat seiring berlomba-lombanya semua bangsa di dunia dalam mencapai kemajuan diberbagai bidang. Salah dalam membuat peta jalan (road map), anak bangsa ini yang akan menerima dampaknya.

Meskipun pemerintah tidak tinggal diam, diantaranya melalui Permendikbud nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, yang mana salah satu tujuannya berupaya untuk memperkuat budaya literasi siswa, banyak sekolah mulai menerapkan kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai.

Pembiasaan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan minat baca serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Hasil pemantauan pelaksanaan GLS sepanjang tahun 2016 mencatat sebanyak 5.360 sekolah (lintas jenjang pendidikan) telah melakukan peningkatan kapasitas dan menjalankan kegiatan 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai.  Angka tersebut di luar sekolah-sekolah yang sudah melaksanakan program literasi sebelum GLS diluncurkan pada 2016. (Kilasan Kinerja 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).

Tema literasi tahun ini adalah”Pembelajaran literasi di masa pandemic Covid 19, momentum perubahan paradigma Pendidikan”. Ternyata tema tersebut tetap mengacu perubahan kondisi yang ekuivalen dengan kebencanaan. Dalam kondisi bencana dianggap sangat penting untuk tidak berpaling bagaimana budaya membaca tetap menggelora dan adanya paradigma baru dalam dunia pendidikan.

Literasi (membaca) sangat berkaitan erat dengan dunia pendidikan, yang merupakan poin vital dalam merawat serta meruwat kesehatan intelektual siswa dan generasi penyangga sebagai penerus pembangunan dan peradaban. Oleh sebab itu, perlu dibangun kesadaran kolektif maupun individu untuk dapat produktif pada bidang membaca dan menulis.

Payung hukum dan kebijakan  yang sudah diputuskan menjadi pemantik bahwa budaya membaca harus menjadi gaya hidup (life style) dalam kondisi normal ataupun tidak. kondisi tidak dapat diprediksi (unpredictable) bukan merupakan halangan untuk tetap berpacu dalam menggapai ketertinggalan dimana budaya membaca merupakan salah satu penopang dari kemajuan itu sendiri.

Kegiatan afirmatif  guna mendorong budaya membaca harus dimunculkan, selagi tidak terlambat, misalnya bagaimana  pemenuhan rasio buku,  perpustakaan (sekolah, umum, nasional, provinsi, kabupaten, khusus dan komunitas) dengan banyaknya siswa. Selain itu memperbanyak taman bacaan juga merupakan keharusan.

Untuk literacy yang menggunakan teknologi internet, Tidak hanya berkutat di Pulau Jawa dan pulau besar lain di wilayah republik ini, tetapi bagaimana daerah 3T (terluar, terdepan dan tertinggal) menjadi fokus dan kebijakan utama dalam pemenuhan jaringan internet, sehingga tidak ada istilah  daerah kaya dan miskin jaringan  internet. Disparitas yang menjadi hambatan sedikit demi sedikit harus dikurangi

Faktor sosial orang tua dan masyarakat  harus terus didorong untuk menumbuhkan minat baca bagi putra-putrinya, cara yang dapat dilakukan adalah pertama, dimulai dengan adanya ketertarikan pada buku, orang tua yang secara finansial memiliki kemampuan untuk membeli buku, dapat menyesuaikan dengan kesenangan anak dalam hal bacaan, bisa dimulai dari buku fiksi,  biografi tokoh, humaniora atau buku penunjang pembelajaran. Serta kemudian jangan lupa orang tua juga dapat memberi contoh dalam hal membaca tersebut.

Kedua, Membuat jadwal wajib baca buku di lingkungan keluarga, hal penting yang harus oleh orang tua adalah memastikan bahwa jadwal tersebut berjalan continue dan konsisten, caranya Televisi dan Handphone (HP) harus dimatikan, agar anak betul-betul mendapatkan suasana yang kondusif dalam membaca. Anak tidak kemudian melakukan protes akibat perilaku orang tua yang kurang memberikan contoh bagaimana situasi harus diciptakan.

Sekolah dalam  melakukan gerakan literasi (GLS), tidak hanya mengacu kepada permendikbud yang mewajibkan siswanya 15 menit sebelum pembelajaran dimulai diharuskan  membaca buku non pelajaran, harus ada terobosan baru agar anak memiliki motivasi membaca, misalnya menyediakan waktu di akhir pekan dari jam pertama sampai istirahat semua siswa membaca buku non pelajaran yang di dampingi  oleh guru kelas, guru mata pelajaran dan wali kelas. Meskipun konsekuensinya mengurangi waktu jam belajar, akan tetapi siswa tetap dalam kondisi belajar.

Pemerintah Desa juga harus proaktif dalam memotivasi dan menggugah kesadaran warganya dalam membaca. Caranya, alokasi dana desa (ADD) atau Dana Desa (DD) dianggarkan untuk pengadaan buku, desa harus memiliki perpustakaan atau taman baca dan harus ada yang bertanggung jawab terhadap pengelolaannya. Di sini kepala urusan (kaur) pemerintahan atau kepala urusan (kaur) kesejahteraan rakyat (kesra) dapat ditunjuk untuk mengelola perpustakaan desa yang bertanggung jawab penuh terhadap aktivitas warganya dalam hal membangun semangat membaca. Desa yang sudah memiliki perpustakaan hendaknya  dikelola dengan baik dan profesional agar masyarakatnya terbebas dari buta membaca.

Bencana pandemi bukan selalu dianggap musibah dalam menciptakan kesadaran dan semangat budaya membaca. Kebiasaan membaca butuh waktu, proses dan pengalaman. Waktu yang dimaksud adalah rentang yang harus diraih dan dicapai tidak dalam sesaat, seperti kata Nurcholis Madjid (2005), bahwa hasil dari proses Pendidikan membutuhkan waktu antara 25-50 tahun. Jadi kesadaran pentingnya budaya baca waktunya tidak cukup satu atau dua tahun.

Proses adalah kegiatan yang dilakukan harus fokus, sedangkan pengalaman adalah dimaknai sebagai kesadaran akan pentingnya literasi. Faktor internal  dan eksternal yang berpengaruh merupakan percikan semangat dari diri sendiri yang mampu membakar gelora semangat literasi. Potensi yang ada harus dimaksimalkan dengan baik. Jika terus konsisten, bukan tidak mungkin minat baca dan tulis di negara Indonesia akan meningkat secara signifikan. Salam

 

Penulis Ketua Lembaga Penjamin Mutu IAI Al-Khairat Pamekasan

 

Komentar

News Feed