oleh

Motor Buntut Tak Menghalangi Semangat dalam Berkarya

Kabarmadura.id/Bangkalan– Ada berbagai macam bentuk orang dalam menekuni hobinya. Salah satunya adalah lelaki yang bernama Suryadi Arfa yang lahir di Pontianak, 5 Agustus 1994. Karena kecintaan pada barang lama dan unik. Dia rela menghabiskan uang tabungannya untuk membeli motor buntut.

Kendaraan roda duanya itu selalu dia pakai kemanapun dia pergi. Entah hanya sekedar untuk jalan-jalan juga untuk bekerja. Dia mengatakan, ketika menaiki kendaraan rasa kepuasan tersendiri, bahkan bukan malah malu, tapi bangga.

“Bagi saya itu, motor-motor tua tahun 70 an atau yang lebih dikenal motor ulung itu ada nilai seni dibandingkan motor-motor yang sudah modern,” katanya, Kamis (3/9/2020).

Awal mula mencintai motor klasiknya itu, lelaki yang kerap disapa Arfa ini menyampaikan, berangkat dari kecintaannya pada kesenian. Baginya, motor tua yang dia miliki saat ini adalah sebuah seni yang harus dibanggakan, bukan ditinggalkan bahkan malu untuk memakainya.

“Saya kan dulu dari seniman, jadi yang menurutku seni, klasik dan antik, saya selalu suka,” paparnya.

Dia mengungkapkan, sepeda motor itu dia dapatkan dari hasil pesanan di luar kota. Arfa mengatakan, motor itu merupakan hasil custom sendiri. Tepatnya pada tahun 2019 lalu.

“Menghabiskan Rp10 juta kurang lebihnya. Perakitan satu motor itu sekitar empat bulanan,” paparnya.

Alasan dia lebih memilih memakai barang antik, Arfa menambahkan, alasannya hanya 1 faktor. “Hal yang berbau antik itu memiliki nilai seni yang tinggi, karena dalam seni selalu ada estetika pada ruang yang berbeda,” tandasnya.

Arfa merupakan pemuda yang berasal dari pesisir laut utara beralamat Desa Kapasan Banyuates, Sampang. Selain pecinta motor antik, dia juga telah menerbitkan beberapa karya tulis. Karya tulis itu yang terkumpul dalam beberapa antologi bersama seperti, Bunga Buat Emilie (2012), Prahara Luka (2014), Permohonan Minoritas (2016), Pasie Karam (2016) yang diikuti oleh empat negara. Klungkung (2016).

Serta dalam antologi tunggalnya yang berjudul Serat Nafas di Lembar Sketsa (2016) dimuat di beberapa media online dan cetak. Selain itu beberapa kali menjuarai lomba teater di tingkat Jawa Timur bersama Sanggar Teater Topeng-Topeng.

Tak hanya itu, ada beberapa karya naskah dramanya dengan judul Derai-Derai Cemara juara 1 lomba drama musikal tahun 2013. Pada tahun 2015 juga telah menulis naskah drama. (ina/mam)

 

Komentar

News Feed