Mudani, Atlet Difabel yang Meraih Prestasi di Tingkat Dunia

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) MENGINSPIRASI: Mudani, atlet tenis meja yang hanya memiliki satu kaki namun meraih medali emas di tingkat dunia.

KABARMDURA.ID, PAMEKASAN – Meski terlahir sebagai penyandang disabilitas dengan hanya dianugerahi satu kaki, Mudani (52) dapat membanggakan masyarakat Pamekasan dan mengharumkan nama Pamekasan hingga ke tingkat dunia dengan potensi yang dimilikinya.

ALI WAFA, Pademawu

Bacaan Lainnya

Pria kelahiran Pademawu Barat pada 12 Desember 1969 itu terlahir sebagai penyandang disabilitas dan selama 52 tahun hanya bertahan hidup dengan satu buah kaki kanannya. Namun meski begitu, dia tidak berkecil hati. Dia memiliki semangat hidup dan semangat juang di atas rata-rata.

Mudani kecil merasa bahwa hidupnya harus bermanfaat untuk bangsa Indonesia, meski tidak sempurna seperti yang lainnya. Sehingga dia mulai merambah dunia olahraga, dunia yang menurut kebanyakan orang jarang digeluti oleh orang yang memiliki keterbatasan fisik.

Mudani yang hanya memiliki satu kaki berpikir bahwa kedua tangannya adalah aset yang harus dibanggakan dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Karena itu, dia berlatih keras untuk menjadi atlet tenis meja profesional.

Hasil tidak akan mengkhianati proses. Begitu pun dengan proses yang dilalui oleh Mudani. Hasil latihan kerasnya membawanya hingga mendapatkan medali emas dalam kejuaraan tingkat dunia cabang olahraga (cabor) tenis meja.

Pada cabor tersebut, dia mendapatkan medali emas kejuaraan internasional di Thailand dengan dua kategori single dan double. Prestasi tersebut diraihnya pada tahun 2008. Kemudian pada tahun 2013 dia kembali mewakili Indonesia di Myanmar dan ditetapkan sebagai juara kedua, dia pun berhak mendapatkan medali perak.

Setelah mendapat prestasi di tingkat dunia, dia masih mencoba di kejuaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Riau dan Kalimantan Timur tahun 2008 akhir.

Walaupun demikian, kini hidupnya masih terpontang-panting karena dia hanya pengangguran. Aktivitasnya berjualan burung dengan pendapatan tidak menentu. Dia berharap ada perhatian khusus dari pemerintah agar mendapat pekerjaan layak dan mendapat penghasilan tetap.

“Saya mau minta pekerjaan benar. Karena saya pengangguran. Akhirnya terpaksa jualan burung,” ucapnya lirih.

Setidaknya, dia berharap mendapat pekerjaan sebagai pelatih atlet disabilitas di cabor yang dikuasainya yaitu tenis meja. Apalagi sekarang dia telah memiliki lebih dari  30 medali hasil perjuangannya.  Sayang jika potensinya tidak diwariskan kepada generasi muda yang difabel.

Kini dia hidup dengan seorang istri dan dua orang anaknya. Namun Tuhan kembali memberinya cobaan karena anak bungsunya juga terlahir sebagai penyandang disabilitas. Anak yang  usianya masih 10 tahun itu kini tidak bisa duduk dan tidak bisa berdiri.

Bahkan, cobaan hidupnya semakin menumpuk saat istrinya yang semula terlahir normal pada akhirnya juga disabilitas karena kecelakaan. Kini Mudani hanya bisa pasrah dengan takdir yang telah ditentukan Tuhan kepadanya.

Namun meski begitu, dia dapat sedikit menemukan harapan kecil, karena anak sulungnya yang terlahir sempurna mewarisi potensi ayahnya. Bahkan anak perempuannya itu kini sempat meraih juara satu pada kejuaraan se-Madura pada cabor yang sama dengannya yaitu tenis meja.

“Sekarang sudah saya gabungkan salah satu klub, agar lebih serius latihannya,” pungkasnya. (km58)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *