MUI Bangkalan Temukan Pemotongan Hewan Tidak Halal

  • Whatsapp
TIDAK HALAL: Juru bicara MUI Bangkalan Thomas AG menunjukkan perbedaan daging yang disembelih secara syariat islam dan tidak. 

Kabarmadura.id/Bangkalan-Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bangkalan, menemukan beberapa ayam potong yang dijual di pasar yang tidak sah dalam proses penyembelihannya, dengan kata lain, unggas yang akan dikonsumsi oleh masyarakat itu, tidak disembelih secara halal sesuai anjuran syariat Islam.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua MUI Bangkalan KH. Syarifuddin Damanhuri. Menurutnya, penemuan MUI terhadap beberapa potong ayam yang dijual di pasar yang tidak memenuhi syariat Islam ini, sudah terjadi sejak tahun 2017 lalu.

Menurutnya, dari 5 leher ayam potong yang dibeli di salah satu pasar untuk dijadikan sempel penelitian, pihaknya menemukan satu ayam potong yang sah dalam proses penyembelihannya.

Sementara 4 leher ayam potong sisanya dinyatakan tidak sah. Bahkan menurut Syarifuddin hampir 80 persen ayam potong yang dijual di pasar tidak mengantongi label halal, sehingga dagingnya menjadi haram atau berstatus bangkai.

“Terbukti tadi kami membeli lima leher ayam yang sudah disembelih di pasar yang bisa dibilang besar, ternyata dari lima potong leher ayam itu, hanya satu yang sah,” ungkapnya, Kamis (25/7).

Untuk itu, dirinya menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk berhati-hati, baik dalam membeli maupun proses pemotongannya agar masyarakat Bangkalan bisa makan daging yang halal.

Syarifuddin sendiri menjelaskan, cara penyembelihan hewan yang benar dan sah secara syariat Islam, harus putus saluran nafas dan saluran makannya. Tidak hanya itu, lanjut Syarifuddin, sebelum ayam dicabut bulunya setelah disembelih, maka harus dipastikan ayam tersebut benar-benar mati.

Masih menurut Syarifuddin, penyembelihan pada ayam yang tidak sesuai syariat ini, disebabkan banyaknya pemotong ayam yang tidak mengerti bagaimana menyembelih hewan unggas agar bisa halal.

Kebanyakan dari pemotong ayam, Syarifuddin mengungkapkan, banyak pemotong ayam yang hanya mementingkan target dan waktu agar lebih cepat memotong ayam dengan jumlah yang banyak.

pihaknya berharap, masyarakat untuk meneliti hewan yang akan dibeli, apakah sudah sesuai syariat atau belum. Dan untuk pemotong harus belajar bagaimana cara pemotongan yang baik dan benar agar tidak memiliki tanggung jawab di akhirat nanti.

“Jangan karena ditarget, mereka jadi terburu-buru memotongnya tanpa mementingkan syariatnya seperti apa. Yang penting mati, ya jangan gitu,” katanya.

Ditempat terpisah, Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Bangkalan Ahmad Hafid mengatakan, pihaknya setiap tahun telah melakukan sosialisasi penyembelihan hewan potong sesuai syariat. Namun, sosialisasi yang dilakukannya tersebut, diakui belum merata.

Dirinya berdalih, anggaran sosialisasi penyembelihan potong sesuai syariat minim, hal itulah kemudian yang menyebabkan selama 3 tahun terakhir masih ditemukan hewan potong yang disembelih tidak secara syariat agama. 

“Sosialisasi ini tidak bisa diberikan secara menyeluruh pada jagal yang ada di Bangkalan. Kita hanya mengambil 1 orang saja setiap sosialisasi di masing-masing kecamatan. Anggaran kita minim,” paparnya. 

Sedangkan saat ditanya mengenai tindakan tegas dari dinas sendiri dengan para pemotong hewan yang tidak sesuai syariat ini, Ahmad Hafid mengungkapkan, nantinya akan memberikan pembinaan, sehingga para jagal dibekali sertifikat penyembelih halal.

“Nanti kita akan merencanakan memberikan sertifikat pada para pemotong hewan. Akan kita beri pembinaan mereka agar tau. Sedang kita usulkan pada bupati,” tukasnya. (ina/pin)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *