oleh

Muncul Versi Baru Nama Ratu Sumenep

Kabarmadura.id/SUMENEP-Keraton Songennep dalam perjalanan pemerintahannya pernah dipimpin oleh seorang tumenggung  perempuan yang bernama Raden Ayu Tumenggung Tirtonegoro atau yang bernama asli Raden Ayu Rasmana (berkuasa 1750-1762 M).

Nama tersebut, sebagaimana tertulis dalam daftar pemimpin Sumenep semenjak Arya Wiraraja sampai A Busyro Karim di dalam Museum Keraton Sumenep.

Bahkan, Kabar Madura pernah memuat tulisan tentang riwayat sang ratu tersebut, dimuat pada edisi 18 Januari 2019. Dari berita features berjudul “Mengingat Pengadilan di Masa Raden Ayu Tirtonegoro” tersebut, ada pembaca yang menoreksi perihal nama ratu istri mendiang Tirtonegoro itu.

Pembaca tersebut adalah Fransisca JR Heksa Soekardi.  Kepada Kabar Madura dibeberkan data, bahwa nama ratu tersebut bukan bernama asli Raden Ayu Rasmana, melainkan Raden Ayu Asmana, tanpa R pada nama belakangnya, di manuskrip itu ditulis Tertanaghara rakana (Indonesia: Suami, red) R. A. Asmana.

“Bukan mengkritik ya istilahnya, tetapi menambah, sejarah itu ya menamba data lebih tepatnya,” jelas Fransisca, (10/2).

Wanita yang akrab disapa Sisca itu mengatakan, manuskrip tersebut saat ini berada di Perancis. Hanya saja, dia belum berkenan membeberkan manuskrip itu secara luas.

Pasalnya, perempuan yang pernah kuliah di Perancis dan malang melintang ke luar negeri tersebut, masih melakukan penelitian terkait sejarah kerajaan Nusantara. sehingga terkait data lengkapnya masih belum dipublish ke khalayak ramai.

Kepala Museum Keraton Sumenep Muhammad Erfandi setelah dikonfirmasi mengenai temuan tersebut mengucapkan terima kasih dan terbuka atas berbagai kritikan atau tambahan data sejarah, terlebih terkait sejarah Sumenep.

“Saya malah sangat senang mendapatkan masukan tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa masih peduli terhadap sejarah kita, kadang orang malah dibaca pun tidak,” ungkapnya dengan tegas, Minggi (7/2).

Di sisi lain Erfan berdalih, kemungkinan penulisan nama itu karena kesalahan penulis, mengingat huruf ‘R’ untuk raden terpisah titik (R. A. Asmana), sehingga yang biasanya ada tanda titik, malah tidak ditulis

“Mungkin salah penglihatan atau aksaranya sudah tidak jelas saat penulisan ulang,” pungkasnya. (km44/waw)

Komentar

News Feed