oleh

Musang Berbulu Domba

Oleh Malik Feri Kusuma

Koordinator Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Jakarta

Setelah saya mencoba mendalami karya sastra Dostoyevsky maupun Alexander Solzhenitsyn, ternyata yang dipersoalkan di dalamnya bukanlah atheisme anti Tuhan. Tetapi justru tentang kedewasaan iman reflektif, yang tak mudah ditembus oleh sekat-sekat kepentingan politik yang bermaksud mengelabuinya.

Ketulusan mengabdi untuk kemaslahatan umat tentu berseberangan dengan kepamrihan politisi yang sibuk dalam pencitraan untuk mendapat pengakuan publik. Dalam One Day In The Life of Ivan Denissovitch, digambarkan tentang seorang tokoh yang tinggi kualitas religiositasnya, hingga mampu menjawab tantangan zaman, serta tidak terkecoh oleh kepentingan penguasa, baik di zaman Tzarisme kuno maupun komunisme Stalin. Kedua penguasa itu pada awalnya berseberangan secara politik, namun dalam perjalanannya mereka toh membangun sistem kekuasaan dengan watak dan perangai yang sama.

Dostoyevsky sebagai sastrawan, menyerang dogma-dogma yang dibangun oleh kekuasaan Tzarisme kuno. Tetapi yang diserang oleh penerusnya, Solzhenitsyn justru dogma-dogma Tzarisme yang dikemas dengan gaya modern. Pada awal kekuasaannya – setelah berhasil mendobrak kultur Tzarisme kuno – Stalin berkali-kali melontarkan janji-janji politik bahwa ia ingin menciptakan tatanan baru, dan membumihanguskan segala bentuk tatanan lama.

Setelah ia berhasil menyingkirkan feodalisme Tzar, para sastrawan Rusia sempat mengalami kevakuman (writer’s block). Sebagian terburu-buru menulis dengan memihak kekuasaan baru. Tetapi dalam praksisnya, Stalin memberlakukan sistem bagaikan musang berbulu domba, yang menurut Solzhenitsyn justru lebih parah ketimbang sistem kekuasaan lama.

Sejak masa “orde baru” Rusia di bawah kekuasaan Stalin menyingkirkan kultur feodalisme Tzar, cara orang bertanya sudah lain, tetapi esensinya toh sama saja, bahwa karakter penguasa dari zaman ke zaman selalu terperosok dalam kepamrihan berbuat dan beramal hingga menjerumuskannya dalam tindak kesewenangan.

Terkait dengan ini, Pramoedya Ananta Toer pernah menyatakan dalam momentum peluncuran buku 100 Tahun Bung Karno (Liber Amicorum) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2001), bahwa ketidakadilan yang dilakukan oleh siapapun, dalam zaman kapanpun dan di negeri manapun, adalah tanggungjawab kita semua untuk melawannya. “Kaum intelektual yang berdiam diri menyaksikan kezaliman penguasa, berarti suatu pembiaran bahkan persetujuan terhadap maraknya sistem yang korup,” tandas Pramoedya. Sangat interesan pernyataan tersebut, bahkan sangat relevan dengan kondisi keindonesiaan kita.

Dalam konteksnya dengan kondisi Indonesia di bawah kekuasaan Orde Baru, berapa banyak orang-orang baik yang dihukum oleh penguasa tanpa proses pengadilan (sejak tahun 1965)? Berapa banyak kaum intelektual, sastrawan dan agamawan, berdiam diri menyaksikan perlakuan aparat-aparat negara yang bertindak sewenang-wenang dengan “merampas hak-hak Tuhan”, bahwa ketika seseorang diklaim dan dituduh “PKI”, lalu kita membiarkannya dihukum tanpa proses pengadilan? Bagaimana dengan kualitas ketakwaan kita? Dan bagaimana Tuhan akan menjamin kemakmuran suatu negeri bila dihuni oleh warganegara yang tidak bertakwa, serta tidak diberi teladan ketakwaan oleh pemimpinnya sendiri?

Karya-karya Solzhenitsyn yang tergambar pula dalam novel “Pikiran Orang Indonesia” sama-sama mengungkap tokoh utama di suatu negeri, bahwa mesti akan hadir orang-orang beriman yang menjadi saksi sejarah atas penderitaan suatu bangsa yang diakibatkan ulah ketidakadilan penguasa. Tokoh “saya” yang disampaikan penulis kelahiran Banten itu mengisyaratkan sikap manusia religius yang sadar bahwa dirinya diserang oleh bertubi-tubi penderitaan tetapi bertekad untuk terus goes on fighting. Itulah manifestasi dari sikap-sikap religius yang mendalam, bahwa sang tokoh masih punya harapan yang berpangkal dari kepercayaan, memang ada suatu kebenaran dan keadilan yang dijanjikan Tuhan, sehingga perjuangan manusia beriman akan diganjar dengan harga biaya korbannya.

Harapan untuk hidup dan survive dalam serangan pengepungan di bawah laras senjata dan sepatu kekar militerisme. Berjuang untuk terus hidup dan melawan, bersembunyi di tengah rawa-rawa kegelapan, tetapi masih tetap percaya pada nilai-nilai kebaikan yang memberi nafas pengharapan, bukankah hal itu adalah esensi dari sikap seorang religius?

Kekuatan kesabaran untuk berharap akan adanya nilai-nilai kebaikan itulah yang menjadi pangkal persoalan dari karya-karya sastrawan Rusia (dan mestinya Indonesia juga). Kaum politikus dan birokrat yang sukanya sepotong-sepotong dalam membaca kualitas literatur dunia, tentu akan gelagapan membaca karya sastra yang menganjurkan pencerdasan dan pendewasaan umat. Akan mudah bagi mereka untuk menyimpulkan bahwa Dostoyevsky maupun Solzhenitsyn telah mengajarkan atheisme anti Tuhan. Padahal, yang dipersoalkan oleh mereka adalah citra tentang Tuhan, atau pemberian fungsi kepada Tuhan oleh manusia dan kelompok masyarakat yang suka mempolitisasi agama dan Tuhan.

Begitupun isu-isu yang berkembang di negeri ini, kiranya perlu untuk memurnikan anggapan masyarakat, bahwa yang perlu kita perjuangkan bukanlah agama dalam pengertian institusi maupun organisasi semata, yang apabila terlena oleh godaan harta dan kekuasaan, akan mudah menjebak tokoh-tokoh agama kepada tindak korupsi hingga memperburuk citra tentang agama yang kita anut dan kita cintai bersama. *

 

Komentar

News Feed