oleh

Nabila Fillaily Betah Berproses di WMS, Temukan Banyak Relasi dan Mampu Mandiri

Kabarmadura.id/Sumenep-Tidak ada keterikatan dalam bekerja dan menabung sebagai modal usaha, menjadi alasan Nabila Fillaily tetap semangat berproses dan bekerja di program Wirausaha Muda Sumenep (WMS).

MOH RAZIN, SUMENEP

Pagi sekitar pukul 07:30, Nabila sudah siap bergegas ke rumah produksi WMS. Jarak yang cukup dekat tidak terlalu menyita waktunya di perjalanan. Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai. Namun dia tidak langsung bekerja, masih harus menyapu dan merapikan tempat kerjanya dulu.

Setelah semuanya rapi dan bersih, barulah dia mulai melanjutkan pekerjaan yang belum dirampungkan sehari sebelumnya. Maklum, ada ratusan pesanan masker kain yang harus segera diselesaikan. Terlebih, sejak adanya wabah Covid-19 yang mengharuskan setiap orang bermasker dalam beraktivitas di keramaian.

Rutinitas itu sudah hampir setahun dijalaninya, atau sejak lulus pelatihan konveksi di program WMS tahun 2019 lalu. Sejak saat itu, dia mulai istikamah menjalani pekerjaan yang ditekuninya itu.

Sejatinya, saat mendaftar di WMS, Nabila belum punya bekal kemampuan seperti yang ditekuninya saat ini, yakni menjahit. Namun dengan ketelatenannya berlatih, perempuan berusia 21 tahun itu, kini sudah mahir menjahit, bahkan mampu memproduksi 80 masker setiap harinya.

Bahkan, dari usaha yang dirintisnya itu, Nabila sudah cukup mandiri dan tidak lagi membebankan biaya hidupnya ke orangtua.

“Kalau memasak saya sudah biasa, sehingga ikut di bidang konveksi jahit ini, karena ingin mempunyai keahlian sebagai bekal nanti ketika punya modal untuk bangun usaha sendiri,” katanya, Selasa (11/8/2020).

Tidak hanya pandai membikin masker, gadis muda ini juga lihai mendesain dan menjahit beraneka ragam busana sesuai selera pemesan.

“Saya berangkat ke sini dulu itu berangkat dari nol, saya tidak tahu apa-apa, alhamdulillah berkat ketelatenan teman-teman di WMS, saya sudah bisa buat baju dan sebagainya,” imbuhnya.

Selain sudah memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri, sejak bekerja di WMS, dia juga menabung dari yang didapatkan sehari-hari. Sebab, Nabila mempunyai keinginan, ketika sudah terkumpul modal, akan segera membangun usaha sendiri.

Di WMS, diakuinya, tidak hanya melatih keterampilan dan ilmunya, namun juga banyak mendatangkan relasi baru. Baginya, itu menjadi modal penting ketika harapan membangun usaha sendiri benar-benar terwujud.

Menariknya, bekerja di WMS tidak ada keterikatan waktu dan target, tergantung yang bersangkutan. Sebab saat memproduksi produk hasil keterampilan pesertanya, WMS membiasakan bahwa lokasi kerja sebagai rumah bersama.

“Tapi intinya kita tidak boleh malas kalau ingin berkembang,” ujar muslimah berjilbab biru itu saat ditemui Kabar Madura.

Sementarai itu, pendamping pelatihan konveksi, Hamzari menyampaikan, ada 30 orang yang tetap istikamah berkreasi di WMS. Mereka memproduksi beraneka busana, mulai dari songkok, baju, kaos dan sebagainya.

Pria asal Kecamatan Lenteng itu juga membenarkan bahwa tidak ada batasan waktu dalam memproduksi, sehingga dirinya memberikan kepercayaan penuh kepada para alumni yang tetap berproses di WMS.

“Tidak ada paksaan di sini. Kami kan sistemnya kelola bersama, karena ada yang berkepentingan dengan keluarganya tidak apa-apa tidak masuk, mereka itu dapat bayaran dari hasil kerjanya, dapat satu baju misalnya sehari, dapat bayaran dari itu setelah dikalkulasi modal,” ungkapnya.

Rumah produksi WMS tidak hanya bergerak di bidang konveksi. Masih banyak aneka kreativitas yang dihasilkan di gedung sebelah timur Taman Adipura itu, mulai dari olahan, cuci motor, sablon dan lain-lain. (waw)

Komentar

News Feed